Saudaraku, adakah kita menyadari bahwa tahun telah berganti. Barangkali banyak diantara kita yang tidak tahu-menahu dengan berlalunya 1 Muharram 1427. Yakni sebagian kita yang hanya mengerti bahwa tahun dimulai dari 1 Januari, yang merayakan malam 31 Desember dengan gegap-gempita. Namun, penulis tidak mengajak Anda untuk merayakan malam 1 Muharram seperti halnya malam 1 Januari. Sebab, hari raya (‘Ied) umat Islam hanyalah ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha.

Saudaraku, simaklah firman Allah SWT berikut:

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. QS. At-Taubah, 9: 36

Bila kita mau sedikit memperhatikan dan berpikir, kita dapati hampir semua sistem kalender yang ada di dunia ini memiliki hitungan bulan sebanyak 12 bulan. Tepat seperti firman Allah di atas. Baik kalender Jawa, Cina, Mesir, dan lainnya. Baik yang menggunakan sistem lunar (berdasarkan peredaran bulan) maupun sistem solar (berdasarkan peredaran matahari).

Namun, kalender Masehi yang sering kita pakai memiliki sejarah yang ironis. Kalender yang diresmikan oleh Julius Caesar ini pada awalnya terdiri dari 8 bulan, dari Januari sampai Oktober, terdiri dari 30 dan 31 hari. Ini bisa dibuktikan dari kata okto yang berasal dari oktaf yang berarti delapan atau sempurna. Kemudian dilengkapi menjadi 12 bulan setelah mengetahui kebenaran perhitungan bahwa satu tahun terdiri dari 12 bulan dari bangsa Mesir. Keempat bulan yang ditambahkan adalah Juli, Agustus, November, dan Desember.

Lalu, kepercayaan bahwa angka ganjil memberi keberuntungan menjadikan bulan Juli dan Agustus menjadi berjumlah 31 hari. Ini karena keinginan Kaisar Julius dan Augustus yang ingin mengabadikan namanya dalam kaleder ini. Dan akhirnya bulan Februari yang menjadi korban hingga berjumlah 28 hari saja. Apakah kalender dengan sejarah seperti ini cukup layak untuk kita pakai?

Fenomena ini menunjukkan salah satu kelemahan umat. Bahwa umat telah didominasi oleh pemikiran import. Padahal umat Islam memiliki sistem kalender sendiri. Yakni sistem kalender Hijriyah yang dihitung sejak peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah. Umar bin Khattab-lah yang meresmikan sistem kalender ini waktu beliau menjabat sebagai khalifah.

Mengapa peristiwa Hijrah yang dipakai sebagai permulaan perhitungan kalender Islam? Mengapa tidak dihitung dari kelahiran Nabi, saat beliau diangkat menjadi Rosul, saat perang Badar, atau peristiwa bersejarah lainnya? Sebab, hijrah menandai kebangkitan dan persatuan umat. Di Madinah-lah titik awal masa keemasan Islam dimulai. Ditandai dengan dipersaudarakannya kaum Muhajirin dan Anshar, kekuatanpersatuan umat mu lai nampak. Apalagi gangguan dari kaum musyrikin Mekkah secara langsung mulai berkurang di Madinah.

Saudaraku, kerusakan telah melanda umat dari berbagai bidang. Kemerosotan nilai moral, kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan terjadi pada kita. Maka, seharusnya momen ini menjadi titik dimulainya kebangkitan umat. Pertama, meng-hijrahkan pemikiran umat. Hijrah dari pola pikir konsumtif ke pola pikir produktif, dari pola pikir babu ke pola pikir pemimpin. Dari umat yang bergantung dan malas menjadi umat yang mandiri dan bekerja keras serta ber-etos kerja tinggi. Dari umat yang bodoh dan terbelakang menjadi umat yang cerdas namun tidak luntur jati dirinya oleh modernisasi dan kemajuan zaman.

Bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada setiap diri hamba-hambanya. Kitalah sebenarnya yang paling berhak menjadi manusia terbaik, yang mampu menggenggam dunia ini, daripada mereka yang ingkar, tidak mengakui bahwa segala potensi dan kesuksesan itu adalah anugerah dan karunia Alloh swt, Zat Maha Pencipta dan Maha Penguasa atas jagat raya alam semesta dan segala isinya ini!

Dan yang perlu kita renungkan adalah kenyataan bahwa waktu yang lampau tidak akan kembali. Ketika al-Ghazali ditanya benda apakah yang paling jauh dari kita? Jawabannya adalah waktu yang baru berlalu. Sebab ia tidak akan kembali.

Saudaraku, kita berpacu dengan waktu. Segeralah bergerak! Allah berfirman:

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

QS. Al-‘Ashr, 103: 1-3

Bila direnungkan, makna ayat ini begitu besar. Bila kita bersumpah, biasanya kita menyebutkan seseorang atau sesuatu yang kita agungkan. Misalnya, demi Allah. Namun, pada ayat ini, Allah bersumpah demi masa, demi waktu. Ini menunjukkan pentingnya waktu bagi kita. Bahwa kita harus mengagungkan waktu dengan memanfaatkannya sebaik-baiknya. Sebab, bila tidak dimanfaatkan dengan baik, maka kita akan tergolong kepada manusia-manusia yang berada dalam kerugian.

Maka Saudaraku, jangan sampai kita tergolong dalam kelompok manusia yang mengalami kerugian karena tidak memanfaatkan waktu yang telah dikaruniakan. Mari kita mengevaluasi diri dan menyiapkan hari esok dengan lebih baik. Sebab kita tidak tahu kapan dan dimana kita akan mati. Kita juga tidak tahu berapa lama lagi kita diberi kesempatan untuk menyiapkan hari esok, maka jangan sia-siakan waktu yang tersisisa walaupun hanya sedetik. Manfaatkanlah sebaik-baiknya. Dan kembalikanlah kejayaan umat Islam seperti pada awalnya.

Akhirnya, tanyakanlah pada diri kita masing-masing,

Aapakah kita siap untuk bangkit kembali?

Jawablah dengan perbuatan!