Saudaraku, pernahkah kita melakukan sesuatu tanpa didasari ilmu? Apakah kita bisa berbicara bila orangtua kita tidak pernah mengajarkannya? Apakah kita bisa mengerjakan soal ujian yang tidak pernah diajarkan atau dipelajari sebelumnya? Lalu, apakah kita bisa memperbaiki komputer atau motor yang rusak bila belum pernah tahu bagaimana caranya? Apakah kita bisa melakukan sholat atau menunaikan ibadah haji tanpa tahu caranya?

Tentu saja jawabannya tidak bisa. Kita tidak akan bisa melakukan semua itu tanpa ilmu. Sebab, kita semua dilahirkan dalam keadaan tidak memiliki ilmu. Namun, kita memiliki potensi untuk menerima ilmu. Potensi tersebut antara lain refleks dan otak yang dikaruniakan kepada kita. Saudaraku, otak manusia memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyimpan atau mengolah segala sesuatu.

Nah, sudahkah kita memanfaatkan seluruh kemampuan otak kita? Apa sajakah yang telah tersimpan di otak kita? Apakah otak kita telah terisi dengan ayat al-Quran dan lafal hadits? Ataukah terisi dengan rumus-rumus fisika, kimia, atau statistik? Ataukah hanya terisi oleh hal-hal yang kurang berguna? Penelitian selama ini menyatakan bahwa kebanyakan manusia hanya menggunakan 2% dari seluruh kemampuan otaknya. Einstein yang jenius pun kabarnya hanya menggunakan tidak lebih dari 10% dari kemampuan maksimum otaknya.

Saudaraku, mari kita manfaatkan apa yang telah dikaruniakan Allah kepada kita. Mari kita perluas ilmu yang telah kita miliki. Jangan pernah puas dalam menuntut ilmu. Sebab, dengan semakin luasnya ilmu yang kita miliki, semakin banyak pula hikmah yang kita dapat. Semakin banyak pula manfaat yang bisa kita berikan kepada umat. Karena dengan semakin luasnya ilmu, semakin beragam pula karunia Allah yang bisa kita manfaatkan. Agar lebih bersemangat, mari kita simak terlebih dahulu keutamaan-keutamaan orang yang berilmu. Renungkanlah firman Allah berikut,

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (Q. S. Al-Baqarah, 2: 247)

Apa hikmah dari kisah Thalut yang diabadikan dalam ayat di atas? Allah mengangkat Thalut sebagai raja bukan karena kekayaan. Tetapi karena luasnya ilmu yang dimiliki dan tubuhnya yang perkasa. Dan pilihan Allah pasti tidak akan salah. Terbukti, pada akhirnya Thalut berhasil memenangkan pertarungan melawan Jalut, meskipun dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit daripada pasukan Jalut. Ini karena ilmunya yang luas sehingga dapat menyusun strategi yang jitu. Orang yang hanya memiliki kekayaan saja tidak akan berhasil menjadi pemimpin. Sebab, seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan. Kekayaan hanyalah sarana yang bisa dicari dengan ilmu. Dan ilmu akan selalu menjaga pemiliknya dari marabahaya yang datang dari mana saja. Sebab, dengan ilmu ia tidak mudah dikelabui atau ditipu. Karena ilmu yang dipunyai, ia juga selalu menemukan solusi cerdas terhadap setiap masalah.

Jadi, hanya orang yang berilmu saja lah ayang pantas dan akan diangkat menjadi pemimpin. Selain itu, orang yang memiliki ilmu pengetahuan akan ditinggikan derajatnya oleh Allah Swt. Simaklah firman Allah berikut,

…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q. S. Al-Mujadilah, 58: 11)

Kenyataan dari firman Allah di atas dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari di dunia akademik. Seorang bintang kelas selalu disegani dan dihormati teman-teman sekelasnya. Ini dikarenakan nilainya yang seringkali lebih baik daripada teman-temannya. Seorang dosen lulusan S2 pasti menaruh hormat pada dosen lulusan S3. Namun, apakah ilmu akademik yang dimaksud dalam firman Allah tersebut? Ataukah ilmu yang lain? Ingat, dalam firman Allah di atas, yang akan ditinggikan derajatnya adalah orang yang beriman dan berilmu. Tidak hanya beriman saja, atau berilmu saja.

Rasulullah Saw pernah bersabda, “Barang siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, maka Dia akan memahamkan baginya agamanya.” Jadi, sumber kebaikan bagi seseorang adalah kefahaman akan agamanya. Karena agama akan menjadi pedoman dalam bertindak dan bertingkah laku. Menjadi tolok ukur nilai-nilai moral. Sedangkan ilmu yang lain seperti ilmu kedokteran, teknik penerbangan, keuangan, dan lain-lainnya hanyalah sarana. Ilmu agama yang akan membimbing kita bagaimana seharusnya memanfaatkan ilmu kedokteran, pertanian, perdagangan, dan sebagainya.

Di tangan orang yang beriman, ilmu kimia dapat digunakan untuk mencari formula obat bagi orang yang menderita suatu penyakit. Namun, di tangan orang yang tidak beragama, ia bisa digunakan untuk membuat racun yang sangat mematikan. Ilmu perdagangan bisa saja digunakan untuk menipu orang lain. Bukan untuk meningkatkan perekonomian umat. Selanjutnya, mari kita lihat kalimat Ya’qub a.s yang Allah abadikan dalam firman-Nya berikut:

Dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lainan… (Q. S. Yusuf, 12: 67)

Apa yang dimaksud oleh ayat ini? Kita dapat menerapkan ini kepada anak-anak kita. Dalam hal ilmu duniawi seperti kimia, biologi, akuntansi, teknik komputer, kedokteran, dan lain-lain, maka bertebaranlah kalian dan perdalam pengetahuan kalian di bidang yang berbeda. Agar umat Islam memiliki orang yang ahli di setiap bidang. Akan tetapi, ilmu agama harus dimiliki oleh semuanya. Agar tidak salah dalam menggunakan ilmu tersebut.

Dan sebagai agama yang benar, tidak akan ada pertentangan antara ilmu agama dengan ilmu kedokteran, kimia, atau yang lainnya. Justru akan semakin dalam keimanan kita kepada Allah. Sebab, melalui ilmu kedokteran, kimia, geografi, astronomi, dan ilmu lainnya akan kita temukan kebesaran dan kekuasaan Allah. Jadi, mari kita tingkatkan pemahaman kita dalam soal aqidah, fiqih, dan sebagainya. Lalu kita perdalam juga ilmu di bidang yang kita minati. Agar rahmat Islam menyebar ke seluruh alam melalui ilmu yang kita miliki.

Akhirnya, jangan sampai kita berbicara atau melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui ilmunya. Entah karena merasa gengsi atau malu jika tidak tahu atau tidak bisa. Tapi, jujurlah kalau memang tidak tahu. Namun, jangan hanya berhenti di situ. Teruslah cari dan gali apa yang tidak kita ketahui dan tidak bisa kita lakukan. Semoga rahmat Islam dapat menyebar ke seluruh dunia melalui otak dan tangan kita!