Setiap manusia dilahirkan dengan fitrah. Yaitu, sifat dasar yang ada pada setiap manusia. Setiap manusia dikaruniai emosi atau perasaan. Dengan karunia ini, manusia bisa menunjukkan bermacam-macam ekpresi. Suatu kesalahan bila kata emosi hanya dihubungkan dengan kemarahan. Dengan emosi, kita bisa menunjukkan kasih sayang kepada orang tua. Kita juga bisa menunjukkan rasa terima kasih kepada orang yang berbuat baik kepada kita.

Alloh memang Mahaadil. Dia menciptakan aneka ragam ekspresi yang dapat ditunjukkan oleh manusia sesuai dengan emosi atau perasaannya saat itu. Kita bisa menunjukkan kesedihan ketika mengetahui bahwa orang tua kita wafat. Kita juga bisa menunjukkan kegembiraan saat mengetahui bahwa istri kita melahirkan putra pertama dengan lancar.

Nah, salah satu karunia Alloh berkaitan dengan emosi adalah rasa malu. Setiap manusia normal dari berbagai usia pasti pernah mengalaminya. Mungkin dengan ekspresi yang berbeda. Seorang siswa Taman Kanak-kanak bisa saja merasa malu ketika disuruh menyanyi di depan kelas. Dan seorang gadis juga bisa memerah pipinya dan tersipu malu saat ada seorang pemuda saleh yang melamarnya.

Ada dua contoh tentang rasa malu di dalam Al-Quran:

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap mu memberi minumkami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknyadan menceritakan kepadanya kisahnya (kisah Musa), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”. (Q. S. 28 : 25)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak, tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesung-guhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu, dan Allah tidak malu dari sesuatu yang benar. (Q. S. 33 : 53)

Setiap manusia selalu ingin dikenang sebagai orang yang baik. Kata Abraham Lincoln, “Jika kita ingin dikenang sebagai orang baik, tiada cara lain kecuali dengan berbuat baik”. Lalu, apakah sifat malu merupakan sifat yang baik untuk dipelihara? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengkaji sifat malu tersebut. Ekspresi malu akan menjadi sesuatu yang terpuji jika diterapkan secara adil. Makna dari adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang sesuai. Jadi, malu yang terpuji adalah malu yang sesuai dengan tempatnya.

Apakah kita sudah menempatkan rasa malu sesuai dengan tempatnya? Jika belum, berarti kita masih belum mensyukuri sifat malu yang telah dikaruniakan oleh Alloh Swt. Ekspresi malu dapat kita tunjukkan kepada sesama manusia maupun kepada Alloh.

Dalam konteks hubungan sesama manusia, kita tidak boleh malu untuk meminta maaf. Jika kita benar-benar memiliki kesalahan kepada orang tua, sahabat, atau bahkan suami / istri, segeralah meminta maaf. Jika kita merasa berat untuk meminta maaf, yang ada dalam diri kita adalah rasa angkuh. Merasa lebih dari orang yang kepadanya kita berbuat salah. Ini bukanlah rasa malu.

 

Segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik. Sesuatu yang terlalu sedikit juga tidak baik. Yang terbaik adalah yang berada di tengah-tengah. Kita tidak boleh memiliki rasa malu yang berlebihan sampai mengantarkan kepada rasa minder. Akibat dari rasa minder, kita tidak memiliki kepercayaan diri untuk bergaul dengan orang lain. Kita merasa memiliki terlalu banyak kekurangan sehingga tidak berani bersosialisasi dengan orang lain. Kita harus menyadari bahwa setiap manusia diciptakan oleh Alloh dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan pergaulan sesama manusia akan mengantarkan kita untuk memadukan kelebihan dan kekurangan tersebut sehingga saling melengkapi. Kita juga tidak boleh malu menyampaikan kebenaran yang kita yakini kepada orang lain karena takut dicela.

Namun, rasa malu yang terlalu sedikit juga bisa berakibat tidak baik. Pepatah Arab mengatakan, “Fa in lam tastahi, fashna’ maa syi’ta”. Makna dari pepatah tersebut kurang lebih adalah: Jika kita tidak lagi memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu. Ya, jika kita sudah tidak memiliki rasa malu, apa saja dapat kita lakukan. Kita bisa berjalan-jalan di tengah kota dengan telanjang. Kita dapat berkata-kata dengan kasar kepada orang tua. Dan lain sebagainya. Kita berlindung kepada Alloh dari hal-hal yang demikian.

Selanjutnya adalah rasa malu dalam hubungan dengan Alloh. Di dalam perjalanan manusia sebagai hamba untuk mendekat pada Sang Kekasih, Allah Azza Wajalla, rasa malu baru merupakan tangga yang pertama. Masih sangat jauh dari perwujudan rasa cinta yang semestinya. Tapi, apa yang membuat kita dapat mencapai tangga ke-99 bila tangga pertama pun kita tak sanggup menapakinya?

Rasul sekalipun menggenggam rasa malu di hadapan Allah Sang Maha Penyayang. Setidaknya itu tercetus dalam kisah Mi’raj, saat Muhammad Saw menerima perintah secara langsung agar umatnya menegakkan salat. Konon, mula-mula Allah memerintahkan salat 50 kali dalam sehari. Rasulullah sempat menyang-gupi, namun Rasul lain yang ditemui dalam perjalanan gaib tersebut mengingatkan-nya bahwa tugas itu terlalu berat bagi umat Muhammad.

Rasul pun meminta keringanan sehingga tugas diturunkan lima kali. Masih terlalu berat, Rasul meminta keringanan lagi. Demikian terus-menerus hingga kewajiban salat hanya lima kali sehari. Saat itu, Muhammad SAW diingatkan bahwa lima kali sehari masih terlampau berat. Namun, Rasul telah malu hati untuk kembali mengajukan keringanan pada Allah SWT.

Hanya Allah yang Mahatahu seberapa benar kisah tersebut, tapi kisah itu telah menunjukkan peran malu dalam kehidupan ruhaniah Rasul. Punyakah kita rasa malu karena mengabaikan sholat? Malukah kita karena hanya punya sedikit tabungan kebaikan dalam kehidupan ini?

Allah menyaksikan setiap langkah kita. Maka semestinya kita malu berbuat hal yang mubazir, apalagi maksiat, di hadapan-Nya. Semestinya kita malu bila tak cukup beribadah kepada-Nya. Semestinya kita malu bila tidak berkerja keras menyelesaikan amanat-masing-masing.

Semestinya kita malu bila tidak mensyukuri nikmat, menuntut kenaikan gaji dengan mengumpat-umpat bukan dengan meningkatkan kualitas kerja sendiri. Semestinya kita malu bila menjadi atasan tak mampu mengangkat nasib bawahan, dan sebagai pemimpin gagal menyejahterakan rakyat yang kita pimpin. Lazimnya, kita hanya malu untuk urusan duniawi di hadapan manusia lain, bukan urusan kebaikan di hadapan Tuhan.