Ada sebuah kata ajaib yang terdiri dari lima huruf. Kata ini tak pernah habis dikupas sepanjang sejarah kehidupan manusia. Ia teramat sering dibahas dalam buku-buku, majalah-majalah, koran-koran, tabloid-tabloid, dan juga seminar-seminar. Pembicaraan tentang kata ini selalu menarik perhatian manusia. Ia selalu laris dijual. Pembelinya pun berasal dari segala umur. Dari anak ingusan yang beranjak remaja hingga kakek yang menunggu jemputan ajal. Kata tersebut adalah cinta.

Kata orang rasa turun dari mata ke hati. Mata dikendalikan oleh otak atau akal. Sedangkan hati adalah komponen manusia yang paling mudah berubah haluan. Apalagi bila dipengaruhi oleh pandangan mata. Berbeda dengan hati nurani yang akan selalu berkata benar. Hati kecil tidak akan membohongi diri sendiri. Terkadang kita harus memaksa hati untuk mengikuti kehendak logika. Dalam kondisi yang lain, terkadang kita harus mengendalikan pikiran supaya mengikuti bisikan hati nurani.

Al-Islam adalah wahyu yang sempurna dan tepat karena disusun oleh Pencipta. Ia yang paling tahu kondisi makhluk-Nya. Ia yang Mahatahu apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya. Maka, ikutilah petunjuk wahyu dalam mengkombinasikan akal dan hati untuk bekerja sama mengelola sebuah kata: cinta.

Cinta adalah bagian dari fitrah. Orang yang kehilangan cinta dia tidak normal tetapi banyak juga orang yang menderitakarena cinta. Bersyukurlah orang-orang yang diberi cinta dan bisa menyikapi rasa cinta dengan tepat.

“Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik.” (Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14)

Cinta memang sudah ada didalam diri kita, diantaranya terhadap lawan jenis. Tapi kalau tidak hati-hati cinta bisa menulikan dan membutakan kita. Cinta yang paling tinggi adalah cinta karena Allah cirinya adalah orang yang tidak memaksakan kehendaknya. Tapi ada juga cinta yang menjadi cobaan buat kita yaitu cinta yang lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yang semakin bergelora hawa nafsu, makin berkurang rasa malu. Dan, inilah yang paling berbahaya dari cinta yang tidak terkendali.

Dan kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang penuh dengan tipuan belaka, dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkuk. Para sahabat bertanya: “Apakah saat itu jumlah kami sedikit?” Rasulullah bersabda: “Tidak bahkan pada saat itu jumlah kamu amat sangat banyak, tetapi seperti air buih didalam air bah karena kamu tertimpa penyakit wahn.” Sahabat bertanya: “Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?” Rasulullah bersabda: “Penyakit wahn itu adalah kecintaan yang amat sangat kepada dunia dan takut akan kematian. Cinta dunia merupakan sumber utama segala kesalahan.”

Dan diantara keindahan dunia yang paling bisa menimbulkan cinta adalah wanita. Rosulullah SAW bersabda: “Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang solehah.” (HR. Muslim) Wanita yang didunianya solehah akan menjadi cahaya bagi keluarganya, melahirkan keturunan yang baik dan jika wafat di akhirat akan menjadi bidadari.


Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraj(kemaluan)-nya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraj(kemaluan)-nya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya.

Wanita solehah merupakan penentram batin, menjadi penguat semangat berjuang suami, semangat ibadah suami. Suami yakin tidak akan dikhianati, kalau ditatap benar-benar menyejukkan qolbu (hati), kalau berbicara tutur katanya menentramkan batin, tidak ada keraguan terhadap sikapnya.

Pada prinsipnya wanita solehah adalah wanita yang taat pada Allah, taat pada Rasul. Kecantikannya tidakmenjadikan fitnah pada orang lain. Kalau wanita muda dari awal menjaga dirinya, selain dirinya akan terjaga, jugakehormatan dan kemuliaan akan terjaga pula, dan dirinya akan lebih dicintai Allah karena orang yang muda yang taatlebih dicintai Allah daripada orang tua yang taat. Dan, Insyaallah nanti oleh Allah akan diberi pendamping yang baik.

Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seperti minum air laut semakin diminum semakin haus. Cinta yang sejati adalah cinta yang setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja.

Cara untuk bisa mengendalikan rasa cinta adalah jaga pandangan, jangan berkhalwat (berdua-duaan), jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan. Bagi orang tua yang membolehkan anaknya berpacaran, harus siap-siap menanggung resiko. Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, istighfar dan sholat sehingga kita tidak diperdaya oleh nafsu, karena nafsu yang akan memperdayakan kita. Sepertinya cinta padahal nafsu belaka.

Kepada para pemuda, Rasulullah SAW pernah berpesan untuk segera menikah bila sudah siap. Apalagi bila ditambah keadaan yang mudah tergoda bila tidak segera menikah. Bila belum siap, maka banyaklah berpuasa. Sudah tersedia puasa Senin-Kamis dan puasa Nabi Daud ‘alaihissalaam untuk diamalkan. Karena sesungguhnya puasa itu adalah perisai.

Dan cinta harus senantiasa dipelihara bagi yang sudah menikah. Tak usah sungkan mengucapkan kata cinta kepada suami / istri. Jangan menganggap bahwa kata-kata cinta hanya pantas bagi anak-anak muda. Ucapan cinta yang paling sederhana pun sangat bermakna bagi suami / istri kita. Walaupun sudah berikrar di hadapan penghulu, terkadang pasangan ingin memastikan.

‘Aisyah r.a pernah bertanya kepada Rasulullah SAW untuk memastikan bahwa dirinya adalah istri yang paling dicintainya karena dinikahi dalam keadaan masih gadis. ‘Aisyah r.a bertanya, “Ya Rasulullah SAW, jika engkau seorang penggembala di suatu padang rumput dan kau temui rumput yang belum pernah dimakan binatang lain sebelumnya dan ada juga rumput yang telah dimakan sebagian oleh binatang lain, manakah rumput yang lebih kausukai untuk gembalaanmu?” Rasulullah SAW pun menjawab, “Tentu saja aku lebih menyukai rumput yang belum pernah dimakan oleh binatang lain sebelumnya”.

Seorang sekaliber ‘Aisyah r.a pun masih memerlukan kepastian. Ia menanyakannya kepada Rasulullah SAW tidak secara langsung, namun dengan kiasan rumput. Nah, sudahkah anda mengucapkan “Aku Mencintaimu” pada suami / istri anda hari ini?