1. Latar Belakang Pengembangan Sistem
Dunia kerja di era informasi tidak lagi bisa terlepas dari komputer. Setiap orang menggunakan komputer untuk mendukung aktivitasnya. Demikian pula yang terjadi di lingkungan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Komputer telah diciptakan untuk mendukung dan memudahkan pekerjaan manusia.Komputer telah berkembang dengan pesat. Kini, PC (personal computer) tidak hanya bisa mengetik—atau tugas sederhana lainnya, namun dapat pula digunakan untuk mengakses web-site, mengirim email, membuat program, mendengarkan musik, dan menonton film. Hal-hal tersebut dapat dilakukan berkat adanya sistem operasi dalam sebuah komputer.

Sistem operasi menjadikan hubungan antara komputer dan penggunanya demikian mudah. Misalnya, Anda tinggal memasukkan DVD dan meng-klik tombol Play untuk menoton film. Sayangnya sistem operasi yang sangat memudahkan itu harus dibayar mahal . Meski sebagian besar dari kita menggunakan sistem operasi bajakan yang jauh lebih murah.
Selain itu, kita juga harus rela mengalami macet (hang) atau melambatnya komputer dari hari ke hari. Terkadang komputer kita malah tidak bisa digunakan sama sekali dan harus diinstal ulang. Belum lagi kalau komputer kita terkena serangan virus. Kemudahan sistem operasi tersebut harus kita bayar dengan performa yang rendah.

Ketika PC mulai populer di Indonesia pada tahun 1990-an, sulit sekali memindahkan kebiasaaan orang dari mesin ketik ke komputer. Saat ini, sulit pula mengubah kebiasaan sebagian besar orang dari satu sistem operasi ke sistem operasi lainnya. Padahal ada sistem operasi lain yang jauh lebih baik dibandingkan yang biasa—dan sudah menjadi kebiasaan—dipakai. Bahkan sudah ada cap tersendiri di kepala kita bahwa yang namanya komputer itu haruslah dengan sistem operasi Windows, bukan yang lain. Sebuah pandangan dilematis disampaikan oleh Sumitro Rustam :

Bisa Anda bayangkan, sebuah negara dengan pendapatan per kapita per tahun US$600 disuruh bayar US$500. Artinya, uang tersebut habis hanya untuk membeli sebuah software, lantas apakah masyarakat kita tidak makan?

Betapa mahalnya sebuah sistem operasi. Hal ini terjadi karena sistem operasi tersebut adalah barang komersil seperti halnya juga makanan restoran. Tinggal pesan, lalu makan. Kita tidak terbiasa untuk meracik atau meramu sendiri makanan yang akan kita makan. Kasus membuat sambel, misalnya. Bila kita buat sendiri, kita bisa menentukan seberapa pedas sambel yang ingin kita makan, seberapa banyak cabe dan tomat yang akan kita pakai. Sehingga bisa jadi sambel buatan sendiri lebih enak daripada yang dijual di restoran.

Keamanan juga lebih terjamin bila kita membuat sendiri. Karena kita tahu apa saja yang menjadi bahan makanan kita. Bila kita membeli masakan cepat saji, kita tidak tahu. Bisa jadi ada bahan yang kurang sehat bagi tubuh di dalamnya, misalnya formalin/borax.Kita sudah sangat terlatih untuk menjadi konsumen yang sangat konsumtif dan senang dengan kemudahan. Terkadang kita tidak peduli dengan komposisi bahannya, yang penting enak dan kenyang. Bila tidak bisa membeli di restoran tertentu, karena lapar, kita mencuri. Itulah analogi untuk pembajakan sistem operasi (membajak Windows—penulis) ditambah dengan software-software lainnya.

Penerapan Undang-undang Hak atas Kekayaan Intelektual (UU HaKI) pada 29 Juli 2003 seharusnya membuka mata kita untuk mencari alternatif sistem operasi lain yang murah tetapi dapat diandalkan, mudah digunakan, dan aman dari gangguan virus. Kita tidak bisa selamanya hidup sebagai pembajak. Keterbatasan kita—terutama dana—membuat kita harus lebih kreatif.

Faktor teknis seperti kestabilan, pemanfaatan sumber daya komputasi yang efisien, murah, dan ketersediaan teknologi maju yang masih dalam tahapan riset, dan lain-lainnya merupakan faktor penarik pemanfaatan GNU/Linux di negara berkembang.

Potensi besar GNU/Linux seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja STIS dan BPS. Selain menghemat anggaran, Linux juga handal, stabil, efisien dan lebih cepat mengadopsi teknologi baru. Lisensi open source-nya memungkinkan kita memodifikasi Linux sesuai dengan kebutuhan kita. Frekuensi Linux untuk crash atau down juga relatif kecil. Sehingga meminimumkan hilangnya waktu produktif yang dihabiskan untuk perbaikan. Sayangnya, potensi besar ini masih dipandang sebelah mata dan masih berupa wacana.

2. Identifikasi Masalah Sistem Berjalan
– windows mahal dan rentan
– windows tidak dapat dikembangkan sendiri
– dana BPS yang terbatas

3. Tujuan Pengembangan Sistem

– Memodifikasi distro linux Fedora sehingga memenuhi kebutuhan komputasi sehari-hari statistisi di BPS
– Menyediakan sebuah sistem operasi siap pakai yang murah dan andal untuk pegawai BPS
– Membangun wacana dan membiasakan civitas STIS dan BPS untuk memiliki kemandirian dalam IT dan dapat mengadopsi teknologi terbaru dalam bidang IT dengan cepat

4. Landasan Teori
a. Konsep dasar sistem
Menurut Ahmad Sofyan (Sofyan, 2006: hal 6), ada beberapa metode yang dapat dipakai dalam membuat sebuah distro linux.

“pertama, biasanya distro dipakai untuk diri sendiri. Distro ini dibuat dengan basis LFS(Linux From Scratch – http://www.lfs.org), dan semua aplikasi dikompilasi dari pristine code (kode program murni). Prses pembuatan dengan distro ini sangat membantu pembuat untuk memahami seluk beluk distro (dan seluk-beluk Linux pada umumnya) dan layout masing-masing distribusi. Kelemahan bentuk ini adalah distronya tidak bisa dibuat satu ISO yang bisa diinstal (kalaupun bisa, akan membutuhkan effort/usaha yang banyak), sehingga sulit untuk didistribusikan kembali.
bentuk kedua, adalah membuat distro dari turunan ditro besar yang sudah mapan.”

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk kedua. Yaitu membuat distro dengan memodifikasi distro yang sudah mapan. Metode ini biasa disebut remastering.
Saat ini bahkan sudah ada metode remaster dengan menggunakan wizard. Seperti MySlax untuk Slackware dan Revisor pada Fedora versi 7. Akan tetapi metode ini kurang bisa dikustomisasi dan memerlukan modul-modul siap instal.
Sehingga metode yang akan diapakai dalam peneliatian ini adalah remaster secara manual. Hal ini dimaksudkan agar dapat juga memasukkan paket-paket yang hanya tersedia dalam bentuk source code dan dapat melakukan kustomisasi lebih banyak..

b. Peralatan pendukung
– PC untuk pengembangan
– PC untuk ujicoba
– drive optikal plus media CD/DVD untuk keperluan distribusi

c. Kajian teori
Sebuah sistem operasi setidaknya memiliki dua fungsi utama yaitu:
1. Pengelola seluruh sumber daya sistem komputer(sebagai resource manager)
2. Sistem operasi sebagai penyedia layanan (sebagai Extended/ Virtual Machine)

Menurut Stalling [STA-95] (dalam Bambang, 2005: 21), sebuah sistem operasi harus mempunyai sasaran tertentu.

Sistem operasi mempunyai tiga sasaran, antara lain:
1. Kenyamanan
Sistem operasi harus membuat penggunaan komputer menjadi lebih nyaman.
2. Efisiensi
Sistem operasi menjadikan penggunaan sumber daya komputer secara efisien.
3. Mampu berevolusi
Sistem operasi harus memungkinkan dan memudahkan pengembangan, dan pengajuan fungsi-fungsi yang baru tanpa mengganggu layanan yang dijalankan komputer.

Linux adalah sistem operasi yang disebarkan secara luas dengan gratis di bawah lisensi GNU General Public License (GPL), yang berarti juga source code Linux tersedia. Itulah yang membuat Linux sangat spesial. Linux masih dikembangkan oleh kelompok-kelompok tanpa dibayar, yang banyak dijumpai di internet. Mereka tukar menukar kode, melaporkan bug, dan membenahi segala masalah yang ada. Setiap orang yang tertarik dipersilahkan untuk bergabung dalam pengembangan Linux.

Pada dasarnya komputer hanya bisa menerima perintah dalam sinyal biner 0 dan 1. Untuk memerintahkan sesuatu, kita harus menyusunnya dalam bahasa yang dimengerti oleh komputer. Kemajuan bahasa pemrograman telah mempermudah penyusunan perintah tersebut. Pembuatan program sudah bisa dilakukan dengan bahasa pemrograman yang semakin mendekati bahasa manusia sehari-hari.

Langkah pertama yang dilakukan untuk membuat program adalah mengidentifikasi masalah yang akan kita pecahkan dengan komputer. Selanjutnya kita susun urutan logika pemecahan masalahnya. Berikutnya kita terjemahkan logika tersebut dalam suatu bahasa pemrograman. Terakhir, kode program (biasa disebut sebagai source code atau kode sumber) yang sudah kita buat tadi kita terjemahkan dengan kompiler. Kompiler akan menerjemahkan program yang kita buat ke dalam bahasa biner yang dimengerti komputer. Setelah itu barulah program kita bisa dijalankan.
Sebagai sebuah sistem operasi, Linux juga dibuat dengan cara yang sama. Hanya saja, sistem operasi merupakan program kompleks yang langsung mengakses perangkat keras. Sistem operasi juga bertugas menyediakan sumber daya yang dibutuhkan oleh program-program yang berjalan di atasnya.

Salah satu keunggulan Linux dalam dunia pendidikan komputer adalah kemampuannya menyediakan kode sumber (source code) sehingga dapat diteliti baris demi baris. Implementasi teori sistem operasi dapat diperlihatkan dengan jelas, bahkan penerapan suatu strategi pengaturan baru dapat langsung dilakukan. Sehingga perihal teoretis seperti manajemen task dapat dengan gamblang dijelaskan kaitannya dengan kode yang berjalan.

Linux membukakan kembali pintu baru bagi mahasiswa untuk mempelajari dunia komputasi. Tidak saja dalam penggunaan sistem operasi tetapi lebih dari itu. Hal ini sulit dilakukan dengan menggunakan sistem operasi propietary closed source. Sayang sekali kalau dunia pendidikan TI Indonesia hanya terpaku pada penggunaan sistem operasi populer propietary dan melepaskan kemungkinan mempelajari hal-hal yang lebih dalam ini.

Keunggulan utama yang dapat kita peroleh dari Linux adalah dibukanya kode program pembuatannya (open source). Sehingga setiap orang dapat melihat, mempelajari cara kerjanya, dan memodifikasinya sesuai kebutuh-annya. Bila terjadi kesalahan kita dapat langsung memperbaikinya sendiri atau melaporkannya ke komunitas pengembang Linux. Keamanan sistem juga lebih terjamin karena tidak ada yang ditutup-tutupi.

Hal ini tidak dapat kita lakukan pada sistem operasi dan aplikasi yang closed source atau propietary. Para pengembang yang mendistribusikan sistem operasi dan aplikasinya dalam format propietary tidak menyediakan kode pembuatan programnya. Mereka menganggapnya sebagai kekayaan intelektual yang harus dibayar dengan lisensi. Padahal dengan open source semua orang akan saling menguntungkan dan diuntungkan.
Kita tidak bisa melihat perintah apa saja yang mereka masukkan dalam program yang kita pakai. bila terjadi masalah pada program yang kita pakai, kita harus menunggu para pengembang tersebut untuk untuk mencari solusinya. Hal ini bisa memakan waktu lama dan membuat kita bergantung kepada perusahaan yang mengembangkan program tersebut.

d. Kerangka pikir
– analisis terhadap sistem berjalan
– identifikasi masalah pada sistem berjalan
– perancangan aplikasi secara iterative atau prototyping
– uji coba dan evaluasi

5. Rancangan Awal Sistem
Remaster distro ini akan dibasiskan pada distro Fedora Core versi 6 atau 7. Sebelumnya dilakukan analisis dan pengumpulan data untuk mengetahui aplikasi apa saja yang dibutuhkan dalam keseharian pekerjaan statistisi dan programmer di BPS. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan wawancara pada sampel yang representatif di BPS.

Modifikasi yang akan dilakukan mencakup:
– penambahan paket aplikasi statistik, mencakup gis, clone spss dan lain-lain.
– penambahan paket aplikasi programming, mencakup diagramming seperti UML
dan lain-lain
– pengurangan paket aplikasi games dan lain-lain yang tidak dibutuhkan

6. Daftar Pustaka
Buku
Hariyanto, Bambang. 2005. Sistem Operasi: Edisi Kedua. Bandung: Informatika.
Prayitno, Warso dan I Made Wiryana. 2002. Be LINUXer with Mandrake 8.0. Yogyakarta: Penerbit ANDI.
Sofyan, Ahmad. 2006. Membuat Distro Linux Sendiri. Jakarta: Dian Rakyat.

Majalah
“Mengenal Sistem Operasi UNIX-Like”. Majalah InfoLINUX, Januari, 2001.
Wiryana, I Made. “The Girl from Ipanema dan Linux”. Majalah InfoLINUX.
Juni, 2005.
“Jawaban untuk HaKI: Linux”. Majalah InfoLINUX, Juni, 2003 .
“PC Market”, Majalah PCMedia. Edisi April 2007.