1. PENDAHULUAN

Komputer adalah hal yang wajib di setiap lini kehidupan modern. Komputer digunakan untuk belajar, bermain, bekerja, dan berbisnis. Untuk mengoperasikan komputer, keberadaan suatu sistem operasi adalah mutlak. Sistem operasi menjadi penghubung antara pengguna dan aplikasi dengan perangkat keras komputer. Sistem operasi pun sudah menjadi hal yang penting dan kritikal dalam komponen bisnis perusahaan.

Sistem operasi yang banyak dipakai di dunia adalah Microsoft Windows. Sisa pangsa pasarnya diperebutkan oleh Apple Mac, Sun Solaris, GNULinux, berbagai varian BSD, dan lain-lain. Para pesaing Windows tersebut mulai berusaha merebut pangsa pasar Windows. Apple misalnya, mulai bekerja sama dengan Intel sejak Februari 2006. Sehingga sistem operasi Mac-nya dapat dijalankan pada PC berbasis Intel x86. Kemudian berbagai varian distribusi GNULinux mulai naik daun karena sifatnya yang free dan open source.

Linux pada dasarnya hanyalah sebuah kernel yang mengatur pemakaian dan hak akses ke perangkat keras. Kita tidak bisa menggunakan komputer hanya dengan sebuah kernel. Agar dapat diguakan, diperlukan komponen lainnya seperti desktop environment dan berbagai aplikasi. Maka muncullah para pengembang yang mengemas Linux untuk mempermudah penggunaan dan distribusinya. Distro Linux adalah kernel Linux ditambah dengan kumpulan paket-paket software dari proyek GNU dan yang lainnya, yang dibundel menjadi satu, dengan tujuan untuk mempermudah proses distribusi software tersebut.

Ibarat sebuah mobil, Linux, atau tepatnya kernel Linux adalah mesin utamanya. Ini yang dikembangkan oleh Linus Torvalds dan kawan-kawan. Sedangkan sasis, rangka, roda, per, dan sebagainya disatukan oleh perusahaan karoseri. Demikian juga (kernel) Linux, untuk bisa dipergunakan, dilengkapi aplikasi pendukung seperti aplikasi server, desktop manager, aplikasi office dan banyak aplikasi lain sesuai kebutuhan. Ini yang dilakukan oleh RedHat, SuSE, Debian, Mandriva, dan beberapa distributor lainnya. Mereka mendistribusikan
Linux kepada pengguna, lengkap dengan aplikasi-aplikasi pendukung siap pakai. (Sofyan, 2006: 5)

Aspek yang membedakan antar distribusi berkisar tentang instalasi, aplikasi yang disertakan, dan program bantu yang disediakan. Masing-masing distro biasanya memiliki tampilan antar muka (interface) instalasi yang berbeda. Namun saat ini, hampir semua distro besar sudah memiliki tampilan grafis dengan GUI (graphical user interface) yang cantik untuk memandu proses instalasi. Hanya beberapa yang masih mempertahankan mode teks, misalnya Debian, dan Slackware.
Kernel Linux memang dilepas secara cuma-cuma oleh Linus Torvalds. Begitu pula dengan berbagai software dari proyek GNU (GNU is Not UNIX) yang dirintis oleh Richard M Stallman (RMS) dengan Free Software Foundation-nya. Akan tetapi Richard sangat tidak setuju dengan pemahaman bahwa free adalah gratis. Free yang ia maksud adalah freedom atau kebebasan. Free di sini tidak ada kaitannya dengan uang. Siapa pun bisa menjual atau mengambil manfaat dari free software. Dia mendefinisikan kebebasan dalam empat tingkat, dari nol sampai tiga.

Kebebasan nol artinya bebas menggunakan untuk apa saja. Kebebasan satu untuk mempelajari dan memodifikasi sesuai kebutuhan. Kebebasan dua untuk disebarluaskan atau bebas dikopi. Kebebasan tiga adalah untuk meningkatkan kemampuannya dan menyebarluaskan kembali ke publik. RMS juga tidak suka dengan penyebutan distro Linux tanpa kata GNU. Sebab, Linux hanya sebuah kernel. Seharusnya disebut GNU/Linux atau GNU+Linux. Kebebasan inilah yang dimaksud oleh Lisensi GPL (GNU General Public License) yang saat ini mencapai GPL versi 3.

Saat ini, GNULinux mulai dikenal sebagai sistem operasi alternatif (yang seharusnya ia menjadi sistem operasi utama). Baik di pasar server maupun desktop. Namun, penggunaannya masih relatif terbatas. Meskipun kelemahan dari sistem operasi Windows sudah umum diketahui, jumlah pengguna yang mau berpindah ke sistem operasi GNULinux masih relatif sedikit. Hal ini antara lain disebabkan kurangnya informasi, mudahnya mendapatkan CD instalasi bajakan dan keengganan mempelajari hal baru karena sudah terlalu terbiasa dengan sistem yang lama. Maraknya pembajakan menjadikan pola konsumtif dalam menggunakan sistem operasi yang tidak menyertakan source code telah memanjakan kita. Banyak pengguna masih terus memakainya tanpa tahu apa yang ada dibaliknya. Padahal, GNULinux tidaklah sesulit yang dibayangkan.

2. PEMBAHASAN

Pola konsumtif tersebut sangat berbahaya dalam jangka panjang. Akibat yang paling jelas adalah ketergantungan. Karena sudah terlalu terbiasa menggunakan produk tertentu, ada beberapa orang yang hanya bisa bekerja dengan produk tersebut. Apalagi bila teknologi dari produk yang dipakai bersifat tertutup. Artinya, kita tidak mengetahui cara kerja sistem dan apa saja yang dilakukan oleh sistem. Bila ada masalah, kita hanya bisa menunggu patch atau update. Kita tidak bisa terlibat dalam pengembangannya. Selain itu, Anda tidak mempunyai pilihan lain jika suatu saat produsen menaikkan harga lisensi atau menghentikan support-nya.

Belum lagi harga lisensi yang mahal, kerentanan terhadap virus dan serangan lainnya, serta menurunnya performa sistem dari hari ke hari. Kerentanan dan penurunan performa tentunya menurunkan produktivitas sehari-hari. Microsoft mengklaim versi terbaru sistem operasinya, Windows Vista adalah sistem operasi yang paling aman, mudah, dan menyenangkan. Ada beberapa hacker yang menyatakan bahwa kualitas kode Windows Vista lebih baik daripada Mac OS X. Namun ada pula laporan bahwa virus-virus yang membuat Windows XP crash masih tetap dapat membuat Windows Vista crash. Jadi, pengembangan apa yang dilakukan oleh Microsoft?

Penggunaan sistem GNULinux memungkinkan kemandirian teknologi. Selain itu, tersedia banyak pilihan dalam implementasinya. Kedaulatan dan kebebasan berada di tangan pengguna. Setiap orang dapat memiliki, mempelajari, dan mengembangkan sistem GNULinux yang bersifat sangat pribadi. Sebab, setiap komponennya dapat diubah sesuai kebutuhan. Tersedia banyak tools untuk melakukan tugas (task) tertentu. Sehingga ada kebebasan memilih dan menggunakan. Kita tidak terpaku pada satu tool untuk setiap tugas. Akan tetapi ada kompatibilitas yang baik antar tools tersebut. Tidak ada masalah dalam pertukaran data karena menggunakan penyimpanan dengan format standar terbuka.

Standar terbuka adalah hal yang penting. Bayangkan bila data penting Anda tersimpan dalam format tertentu yang hanya bisa dibuka oleh aplikasi tertentu. Apa yang akan Anda lakukan bila beberapa tahun kemudian aplikasi tersebut tidak lagi tersedia, atau format lama tidak lagi didukung? Nah, standar terbuka memungkinkan formatnya dapat dibuka oleh aplikasi apa saja. Sebab, tersedia spesifikasi dan source code implementasi format tersebut. Bahkan setiap orang dapat membuat aplikasi sendiri menggunakan format penyimpanan tersebut. Contohnya adalah Open Document Format (ODF) yang telah terdaftar sebagai ISO.

Ketahanan dan kehandalan GNULinux sudah banyak terbukti. Banyak server dengan sistem GNULinux dapat berjalan tahunan tanpa restart atau crash. Sistem lebih stabil dan hampir tidak pernah hang. Serangan virus juga hampir tidak pernah terjadi. Tidaklah mudah membuat virus yang bisa menyerang sistem GNULinux. Berkat sistem modular warisan UNIX, banyak hal yang harus dipelajari untuk membuat sistem GNULinux crash atau down. Sebab, kegagalan satu komponen sistem tidak mempengaruhi komponen sistem lainnya. Selain itu, karena berawal dari sejarah multi user, hak akses file lebih terjaga. Produktivitas pun selalu terjaga. Tidak banyak waktu produktif dan pengeluaran yang terbuang untuk perbaikan. Sehingga staf divisi TI (teknologi informasi) memiliki waktu luang lebih yang biasa dipakai untuk perbaikan. Mereka pun dapat memanfaatkan waktu luang tersebut untuk mengembangkan aplikasi berbasis TI yang lebih baik untuk kantor atau perusahaannya.

Kernel Linux yang tersedia source code-nya, membuat Linux dapat dimodifikasi dan dijalankan di perangkat keras dengan berbagai arsitektur. Mulai dari Intelx86, mainframe, konsol game, hingga perangkat mobile dapat menjalankan Linux. Contohnya adalah distro MontaVista yang digunakan dalam Motorola ROKR. Nokia pun kini sudah bergabung dengan The Linux Foundation dan mengakuisisi Trolltech (yang terkenal dengan Qt toolkit yang dipakai untuk membangun desktop environment populer KDE) seharga EURO 104juta. Selain itu, optimasi juga dapat dilakukan pada setiap arsitektur, sehingga Linux dapat berjalan cepat pada perangkat keras yang sudah berumur. Hal ini dapat meningkatkan hardware lifecycle.

Kekhawatiran akan kurangnya dukungan terhadap Linux juga tidak dapat dijadikan alasan lagi. Karena Linux telah mulai didukung perusahaan besar seperti IBM, Informix, SyBase, Oracle, Corel, Intel, Sun Microsystem, Compaq, Dell, dan sebagainya. Berbagai perusahaan besar sudah tidak ragu untuk menggunakan Linux. NASA dan pemerintah Amerika (terutama Departemen Pertahanan) pun mulai melirik Linux. Google sudah lama menggunakan GNULinux sebagai infrastruktur sistemnya. Bahkan, Google bekerja sama dengan Ubuntu membuat sebuah distro GNULinux bernama gOS yang dibundel pada laptop murah Cloudbook Everex. Mulai Mei 2007, Dell akan membundel desktopnya dengan sistem operasi GNULinux Ubuntu. Lenovo juga menyediakan seri laptop yang berisi preload SUSE Linux Desktop 10. Intel membuat project LessWatts.org untuk menurunkan konsumsi daya di PC dan Server Intel yang memakai Linux. Selain itu, Axioo juga menyediakan seri laptop dengan preload distro GNULinux berbasis PCLinuxOS yang sudah dimodifikasi dan dioptimasi untuk perangkat keras laptop tersebut.

Cina, Filipina, Jepang, India, Malaysia, Thailand, Nigeria, Brasil, Kuba, Spanyol, Jerman, Polandia, Afrika Selatan adalah contoh pemerintahan yang sudah menerapkan GNULinux. Departemen Pendidikan Brasil menyediakan 90.000 PC berbasis GNU/Linux Debian 4.0 Etch plus wireless card dan printer laser kompatibel Debian untuk 9.000 sekolah. Lalu dilanjutkan dengan 3000 PC berbasis Debian untuk sekolah di pedesaan, setiap PC dilengkapi printer kompatibel Linux dan layanan support 36 bulan. Di Nigeria ada 17.000 PC berbasis Intel dan Mandriva Linux untuk sekolahan. Sedangkan di Filipina Linux dikenal setelah krisis Asia 1997. Setelah sukses membangun 13.000 PC berbasis Fedora, Filipina berencana menyediakan 10.000 PC berbasis Ubuntu. PC tersebut ditujukan untuk 1000 sekolah, dengan satu server plus 10 desktop dengan konektivitas internet di setiap sekolah. Distro yang digunakan adalah Kubuntu dan Edubuntu. Selain itu, aplikasi CMS Joomla! dan Drupal diinstal di server agar siswa bisa menulis artikel.

Indonesia pun tidak kalah. Pada 1 Juli 2004, lima menteri di pemerintahan Megawati yaitu Menteri Negara Riset dan Teknologi, Menteri Negara Komunikasi dan Informasi, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Kehakiman dan HAM, serta menteri Pendidikan Nasional secara resmi menyatakan akan menggalakkan penggunaan standar software terbuka melalui gerakan Indonesia Go Open Source (IGOS) yang konon dapat menghemat belanja sampai 20 triliun rupiah. Sejauh ini, baru Departemen Komunikasi dan Informatika serta Depertemen Sosial yang benar-benar menggunakan GNULinux di seluruh sistemnya.

Sejauh ini ada tiga pemerintahan daerah provinsi yang berusaha menerapkan IGOS. Yaitu Aceh, Jogja, dan Jawa Tengah. Aceh dan Jogja bekerja sama dengan Yayasan Air Putih untuk melakukan migrasi keseluruhan ke sistem GNULinux. Sedangkah di pemda Jawa Tengah, seluruh server dan aplikasi sudah pakai Linux sejak tahun 2000. Misalnya JatengOnline dibangun dengan LAMP (Linux, Apache, mySQL, PHP). Hingga saat ini, sudah 150 PC desktop yang menggunakan Linux. Belum terhitung yang masih memakai Windows tapi memanfaatkan aplikasi OpenOffice.Org, Firefox, Thunderbird, Evolution. JatengOnline siap fasilitasi open-source di alamat http://open-source.jawatengah.go.id (sudah 35.000 hits) yang berisi file isolinux, dokumentasi, dan forum.

Ada pula Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) di berbagai kota: Aceh, Bali, Bandung, Batam, Bogor, Bontang (Kaltim), Gorontalo, Jakarta, Kediri, Madiun, Makassar, Malang, Manado, Medan, Padang, Palembang, Pekanbaru, Semarang, Serang, Sidoarjo, Solo, Surabaya, Tangerang, Tegal, dan Yogyakarta. Masing-masing KPLI aktif mengadakan kegiatan kampanye dan pelatihan penggunaan GNULinux dan open source software.

Berkaitan dengan kemandirian dan produktivitas, apakah Linux yang gratis dan free ini dapat digunakan untuk menghasilkan uang? Tentu saja. Contoh sukses dari bisnis open-source adalah MySQL yang dibeli Sun Microsystem seharga 1 milyar USD. MySQL memiliki 400 karyawan di 25 negara. Menurut CNET news, pendapatannya pada 2006 adalah USD 40 juta. Business model yang diterapkan adalah: penjualan support, training, certification, subscription enterprise, dan MySQL dual-license yang mengharuskan pembelian lisensi bila digunakan untuk mengembangkan aplikasi yang tidak open source. Contoh lain adalah SUSE Linux yang dibeli Novell seharga USD 210 juta atau Zimbra, pengembang collaboration suite untuk universitas, bisnis, dan service provider yang dibeli Yahoo! seharga USD 350 juta. Ada juga Jboss, pengembang server application, yang diakuisisi RedHat USD 420 juta.

Ada beberapa cara untuk mengail uang dari bisnis open source. Pertama, sebagai penyedia distro kustom. Meskipun sudah ada berbagai distro, namun selalu saja ada celah untuk mengembangkan distro dengan kebutuhan khusus. Kedua, menjadi penyedia teknologi, misanya framework atau filesystem baru yang lebih baik. Ketiga, jasa konsultan Linux baik umum maupun spesialis juga diminati oleh perusahaan yang ingin migrasi ke GNULinux namun tidak punya pengetahuan yang cukup. Sebaiknya menguasai beberapa distro enterprise seperti SUSE dan RedHat. Keempat, menjadi penyedia solusi. Misalnya membantu suatu perusahaan melakukan porting beberapa aplikasi berbasis Windows menjadi berbasis GNULinux atau multiplatform. Kelima, menjadi implementator. Dalam bidang ini, diperlukan kemampuan untuk instalasi server atau client desktop, lengkap dengan konfigurasinya. Sebab, barangkali ada yang tidak mau repot melakukan implementasi setelah berkonsultasi. Keenam, tentu saja akan dibutuhkan jasa pendidikan dan sertifikasi kemampuan di bidang Linux. Ladang ini masih sangat potensial. Ketujuh, berdagang CD atau DVD GNULinux juga bisa menjadi pilihan. Kemudahan akses, kualitas CD atau DVD, tambahan manual yang tercetak dan kemasan yang bagus bisa menjadi nilai tambah dalam bidang ini. Kedelapan, bisnis media berupa buku, majalah, tabloid, atau media massa yang menyebarkan berita dan pengetahuan atau tips-tips penggunaan GNULinux adalah lahan yang masih dapat digarap.

Dahulu tidak ada yang menyangka bahwa air putih dapat dijual. Di setiap restoran atau rumah makan, kita bisa mendapatkan air putih secara gratis. Bahkan, akan dianggap aneh bila ditarik bayaran untuk mendapatkan air putih tersebut. Namun, sekarang tidak ada yang merasa aneh atau enggan untuk mendapatkan air minum dalam kemasan dengan harga 500 hingga 2000 rupiah. Ada berbagai merek tersedia dengan berbagai rasa, warna air dan kemasan. Analogi yang sama berlaku untuk GNULinux. Anda dapat membuat berbagai warna, rasa, dan kemasan GNULinux, lalu menjualnya dengan support yang prima.

Menginstal dan menggunakan Linux pun sudah tidak sesulit dulu. Sudah ada tampilan grafis dan efek desktop 3D dengan Compiz-Fusion yang lebih indah dan canggih dibandingkan Flip3D Windows Vista. Ada juga pendekatan LiveCD atau LiveDVD yang dapat dicoba tanpa diinstal terlebih dahulu. Tinggal masukkan keping LiveCD atau LiveDVD ke dalam CD-ROM atau DVD-ROM dan atur BIOS untuk boot dari CD/DVD. Dalam beberapa menit, desktop GNULinux akan tersedia lengkap dengan berbagai aplikasi yang dibutuhkan. Setelah puas mencoba, sistem LiveCD atau LiveDVD tersebut dapat diisntal ke harddisk dengan beberapa klik saja. Setelah diinstal, akan didapatkan sistem yang berjalan dengan kecepatan penuh, tidak lagi berjalan dari CD-ROM atau DVD-ROM. Jadi, tunggu apalagi?

3. PENUTUP

Saat ini, GNULinux mulai dikenal sebagai sistem operasi alternatif (yang seharusnya ia menjadi sistem operasi utama). Baik di pasar server maupun desktop. Namun, penggunaannya masih relatif terbatas. Meskipun kelemahan dari sistem operasi Windows sudah umum diketahui, jumlah pengguna yang mau berpindah ke sistem operasi GNULinux masih relatif sedikit. Hal ini antara lain disebabkan kurangnya informasi, mudahnya mendapatkan CD instalasi bajakan dan keengganan mempelajari hal baru karena sudah terlalu terbiasa dengan sistem yang lama. Maraknya pembajakan menjadikan pola konsumtif dalam menggunakan sistem operasi yang tidak menyertakan source code telah memanjakan kita. Banyak pengguna masih terus memakainya tanpa tahu apa yang ada dibaliknya. Padahal, GNULinux tidaklah sesulit yang dibayangkan.

Ada beberapa cara untuk mengail uang dari bisnis open source. Pertama, sebagai penyedia distro kustom. Meskipun sudah ada berbagai distro, namun selalu saja ada celah untuk mengembangkan distro dengan kebutuhan khusus. Kedua, menjadi penyedia teknologi, misanya framework atau filesystem baru yang lebih baik. Ketiga, jasa konsultan Linux baik umum maupun spesialis juga diminati oleh perusahaan yang ingin migrasi ke GNULinux namun tidak punya pengetahuan yang cukup. Sebaiknya menguasai beberapa distro enterprise seperti SUSE dan RedHat. Keempat, menjadi penyedia solusi. Misalnya membantu suatu perusahaan melakukan porting beberapa aplikasi berbasis Windows menjadi berbasis GNULinux atau multiplatform. Kelima, menjadi implementator. Dalam bidang ini, diperlukan kemampuan untuk instalasi server atau client desktop, lengkap dengan konfigurasinya. Sebab, barangkali ada yang tidak mau repot melakukan implementasi setelah berkonsultasi. Keenam, tentu saja akan dibutuhkan jasa pendidikan dan sertifikasi kemampuan di bidang Linux. Ladang ini masih sangat potensial. Ketujuh, berdagang CD atau DVD GNULinux juga bisa menjadi pilihan. Kemudahan akses, kualitas CD atau DVD, tambahan manual yang tercetak dan kemasan yang bagus bisa menjadi nilai tambah dalam bidang ini. Kedelapan, bisnis media berupa buku, majalah, tabloid, atau media massa yang menyebarkan berita dan pengetahuan atau tips-tips penggunaan GNULinux adalah lahan yang masih dapat digarap.

Menginstal dan menggunakan Linux pun sudah tidak sesulit dulu. Sudah ada tampilan grafis dan efek desktop 3D dengan Compiz-Fusion yang lebih indah dan canggih dibandingkan Flip3D Windows Vista. Ada juga pendekatan LiveCD atau LiveDVD yang dapat dicoba tanpa diinstal terlebih dahulu. Tinggal masukkan keping LiveCD atau LiveDVD ke dalam CD-ROM atau DVD-ROM dan atur BIOS untuk boot dari CD/DVD. Dalam beberapa menit, desktop GNULinux akan tersedia lengkap dengan berbagai aplikasi yang dibutuhkan. Setelah puas mencoba, sistem LiveCD atau LiveDVD tersebut dapat diisntal ke harddisk dengan beberapa klik saja. Setelah diinstal, akan didapatkan sistem yang berjalan dengan kecepatan penuh, tidak lagi berjalan dari CD-ROM atau DVD-ROM. Jadi, tunggu apalagi?

4. Daftar Pustaka

1 Sofyan, Ahmad. 2006. “Membuat Distro Linux Sendiri”. Jakarta: Dian Rakyat dan InfoLINUX.
2 Bundel PDF Majalah InfoLINUX 36 Edisi (01/2003 – 12/2005)
3 Bundel PDF Majalah InfoLINUX 12 Edisi (01/2007 – 12/2007)
4 Bundel PDF Majalah PCMedia 12 Edisi (01/2007-12/2007)
5 Dvorak, John C. “Spagheti Tanpa Saus”. PC Magazine. Oktober 2004.
6 Hariyanto, Bambang. 2005, “Sistem Operasi: Edisi Kedua”, Bandung: Informatika.
7 Mahmud, Vishnu K. “Mana Kemandirian Kita?”. PC Magazine. April 2006.
8 Majalah CHIP, edisi 09/2006.
9 Majalah CHIP, edisi 09/2007.
10 Majalah e-Bizz Asia, http://www.ebizzasia.com
11 Netcraft Web Survey, September2004, http://news.netcraft.com/archives/2004/08/31/September_2004_seb_server_survey.html
12 Noprianto, “Berbisnis di Dunia Open Source”, Majalah InfoLINUX 08/2005.
13 Portal Berita, http://www.LinuxToday.com
14 Portal Departemen Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, http:www.depkominfo.go.id
15 Portal Distribusi Linux, htp://www.distrowatch.com
16 Sunggiardi, Michael S., “Open Source = Cut Budget?”. Majalah Info LINUX 10/2004.
17 Tanenbaum, Andrew S, 2001, “Modern Operating System: Second Edition”, New Jersey: Prentice Hall, Inc.