Versi PDF paper ini dapat diunduh di sini.

Abstract:

Badan Pusat Statistik or Statistics Indonesia is a national institution with data and information considered as business core. Ironically, it still using Windows operating system that is notoriously vulnerable of viruses and other threats. Besides, there is national regulations to use free and open source software known as Indonesia Go Open Source (IGOS). The objective of this research is to observe the problem that occurs by using Windows in BPS, collecting information on applications used daily, and develop GNU/Linux distribution that meets the needs of applications used daily in BPS. This research is also collecting data and argument to make GNU/Linux applicable in BPS. The research methodology are: to arrange a survey collecting informations as mentioned before, and then develop a GNU/Linux distribution based on the informations from the survey. The GNU/Linux distribution resulted from this research can meet the needs of daily usage in BPS with some implications and consequences explained in the end of this paper. But, this paper cannot implement the distro in BPS, because it depends on the policy of BPS top manager. So, this paper could only providing information and tools to make GNU/Linux applicable in BPS, thus motivate BPS to migrate to GNU/Linux instead of using Windows.

Keywords: linux, open source, statistics

1. PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Badan Pusat Statistik adalah lembaga pemerintah non-departemen yang bergerak di bidang pengumpulan dan pengolahan data. Selain itu, BPS juga berperan sebagai pembina bagi jabatan pranata komputer. Penggunaan teknologi dan sistem komputer yang baik tentunya menjadi hal yang penting. Ironisnya, BPS masih menggunakan sistem operasi Windows dalam kegiatan sehari-harinya. Padahal sistem operasi ini sudah dikenal dengan berbagai kerentanan. Antara lain mudah diserang virus, melambat dari hari ke hari, dan sebagainya. Produktivitas pun dapat menurun karena ada waktu produktif yang harus dialokasikan untuk perbaikan.

Padahal sudah ada kebijakan di tingkat internasional dan nasional untuk menggunakan sistem operasi dan aplikasi open source. United Nation Conference on Trade Development pada tahun 2003 merekomendasikan penggunaan free dan open source software di negara berkembang untuk mengurangi kesenjangan teknologi dengan negara maju. Pada 1 Juli 2004, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Menteri Negara Komunikasi dan Informatika, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Kehakiman dan HAM, serta menteri Pendidikan Nasional secara resmi menyatakan akan menggalakkan penggunaan standar software terbuka melalui gerakan Indonesia Go Open Source (IGOS) yang konon dapat menghemat belanja sampai 20 triliun rupiah. [3]

1.2 Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan ditribusi GNU/Linux yang memenuhi kebutuhan aplikasi dalam pekerjaan sehari-hari di BPS Pusat dan mengkaji sejeuh mana solusi ini bisa diterapkan. Sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
melakukan analisis permasalahan pada pemakaian sistem operasi Windows di BPS
melakukan analisis kebutuhan aplikasi dalam pekerjaan sehari-hari di BPS
merancang dan mengembangkan (memaketkan) distribusi GNU/Linux yang memenuhi kebutuhan BPS
melakukan evaluasi dan mengkaji konsekuensi dan implikasi penerapan distribusi GNU/Linux yang sudah dikembangkan untuk memotivasi migrasi sistem komputer BPS dari berbasis Windows menjadi berbasis GNU/Linux

1.3 Rumusan Masalah

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah:
pengumpulan data mengenai berbagai gangguan yang terjadi selma pemakaian sistem operasi Windows di BPS, dikategorikan pada: virus, hang, lambat, tidak boot, dan adakah pemakaian software bajakan.
tingkat pengetahuan responden di BPS mengenai GNU/Linux dan OpenOffice, serta tingkat persetujuan responden di BPS terhadap rencana migrasi dari Windows ke GNU/Linux
bagaimana mengembangkan distribusi GNU/Linux yang memenuhi kebutuhan aplikasi dan pekerjan sehari-hari di BPS serta implikasi dan konsekuensinya sehingga benar-benar dapat diterapkan.

2. LANDASAN TEORI

2.1 Sistem Operasi

Tujuan utama (goals) desain sistem operasi adalah: define abstraction, provide primitive operation, ensure isolation, dan manage the hardware. (Tanenbaum 2001: 337) Sebuah sistem operasi harus mampu mendefinisikan abstraksi yang baik dari operasi primitif yang akan disediakan untuk penggunanya. Selain itu, ia juga harus mampu mengisolasi suatu proses dengan proses lainnya. Sehingga proses dapat berjalan secara independen, dan jika mengalami masalah, masalah tersebut tidak mempengaruhi proses lain.

2.2 Sejarah Free Software

Free Software atau non-proprietary software telah ada sejak penemuan komputer pertama kali sekitar pertengahan tahun 1940, dan dalam beberapa tahun hal ini berlangsung tanpa masalah. Namun pembuatan, penyebaran, dan penggunaan free software ini hanya terbatas pada kalangan tertentu saja seperti engineer, ilmuwan, dan orang-orang tertentu yang memiliki akses komputer yang dianggap sebagai teknologi yang mahal dan langka. Di dalam universitas dan sektor publik (terutama lembaga militer di negara maju) dimana fasilitas komputer berada, pertukaran berbagai perangkat lunak berupa kode-kode program berlangsung bebas dan mudah antar sesama programmer yang dibayar untuk usahanya membuat program bukan untuk kepemilikan programnya.

Beragamnya jenis program yang ada saat itu telah memicu pembuatan sistem operasi (Operating System) untuk menyatukan program yang masih terpisah-pisah tersebut sehingga dapat berjalan dengan mudah dalam satu komputer. Sampai awal tahun 1970, sistem operasi dijalankan dalam komputer mini dengan mainframe tertentu sehingga membuat program menjadi tidak kompatibel, akibatnya program harus ditulis ulang untuk setiap jenis mesin. Inilah awal munculnya proprietary software yang digunakan oleh IBM, Burroughs, Honeywell dan pembuat komputer besar lainnya untuk membantu membedakan jenis program dan menyesuaikannya dengan merk mesin tertentu. Pada tahun 1970 juga, beberapa programmer dari laboratorium AT&T Bell berhasil membuat sistem operasi UNIX yang ditulis dengan bahasa C dan dapat berjalan pada berbagai merk mesin komputer. Pada tahun 1980, revolusi komputer mencapai puncaknya dengan dibuatnya jenis komputer PC. Penggunaan PC ini meningkat secara eksponensial hingga menjamah sektor bisnis. Seiring dengan ekspansi komputer pada berbagai sektor bisnis ini, programmer tidak hanya dibayar untuk pembuatan program tetapi juga untuk program yang dibuatnya. Dengan demikian, perkembangan perangkat lunak proprietary relatif lebih cepat dibandingkan non-proprietary software.

Pada tahun 1984, Richard Stallman membuat proyek yang dinamakan GNU (GNU’s Not Unix) di laboratorium Artificial Intelligence MIT. GNU ini merupakan sistem operasi yang dibuat untuk “melawan” komersialisasi perangkat lunak yang dilakukan perusahaan pembuat UNIX. Dengan usahanya ini, Stallman menjadi pionir free software melalui projek GNU dan pembentukan Free Software Foundation (FSF). Pada tahun 1990, adanya jaringan internet menstimulasi perkembangan free software dengan terbentuknya komunitas free software di seluruh dunia yang tidak hanya tertarik dengan sistem operasi tetapi juga dalam pengembangan aplikasinya. Pada tahun 1994, GNU menjadi sistem operasi sempurna dengan kontribusi kernel Linux yang dirilis oleh Linus Torvalds. GNU/Linux menjadi sistem operasi alternatif selain UNIX.

Saat ini, FOSS (Free or Open Source Software) tumbuh pesat dengan berbagai sistem dan aplikasinya menjadi solusi alternatif dari pemakaian proprietary software. Penggunaan perangkat lunak open source menjadi pilihan utama dibeberapa negara dengan berbagai kelebihan yang dimiliki OSS seperti sekuritas, reliabilitas sistem, dan kelebihan lainnya. Dengan sifatnya yang “open” memberikan keuntungan lebih bagi pengguna OSS yang juga seorang pengembang (developer) perangkat lunak, karena pengembang dapat memodifikasi program yang tersedia sesuai dengan keinginannya. Pengguna atau konsumer yang juga seorang pengembang atau produsen disebut sebagai “prosumer”. Selain itu, secara ekonomis, pengguna tidak perlu mengeluarkan biaya untuk OSS ini dibandingkan dengan penggunaan proprietary software. [5]

2.3 Keunggulan GNU/Linux

Ada beberapa keunggulan yang menjadi alasan pemilihan GNU/Linux antara lain:

1. Biaya Investasi

– Biaya lisensi untuk perangkat lunak, nol atau sangat rendah (karena masih ada biaya distribusi perangkat lunak).

– Perangkat keras: berbeda dengan penggunaan proprietary software, yang mensyaratkan spesifikasi perangkat keras tertentu, OSS tidak terlalu bergantung pada jenis perangkat keras tertentu. Pasalnya OSS dapat beroperasi pada PC standar dan berbagai platform perangkat keras.

– Pengeluaran biaya tertuju pada perawatan (maintenance) sistem OSS.

2. Kualitas dan Kinerja

– Kualitas program dibuat dengan memperhatikan reliabilitas dan kinerja yang terkait dengan keseluruhan sistem yang digunakan. Dengan hasil peer review yang diperoleh dari para programmer, kualitas dan kinerja OSS dapat selalu ditingkatkan.

– Fleksibilitas Sistem: Perubahan requirement (baik perangkat lunak atau perangkat keras) pada OSS tidak akan terlalu berpengaruh terhadap sistem yang digunakan. Hal ini sangat berbeda dengan proprietary software, ketika requirement penyusun sistem berubah maka perangkat lunak yang digunakan harus diganti atau diperbaharui (update). Perangkat lunak yang berbasis open source lebih fleksibel digunakan tanpa terpengaruh oleh perangkat keras atau perangkat lunak lain pada sistem.

3. Keamanan

– Dengan menggunakan OSS, faktor keamanan (security) selalu dapat ditingkatkan. Pasalnya, akses pada source code yang terbuka akan memudahkan pendeteksian kerusakan sistem, sehingga bisa langsung diperbaiki.

4. Lokalisasi

– Pengembang dapat memodifikasi program sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat sekitar, contohnya translasi Linux ke dalam suatu bahasa tertentu.

– Meningkatkan kapasitas pengembang perangkat lunak lokal.

5. Independensi (kebebasan)

– Berkurangnya ketergantungan terhadap suatu vendor perangkat lunak.

2.4 Contoh Penerapan GNU/Linux

Berbagai keunggulan GNU/Linux tersebut menyebabkan pemanfaatannya sudah meluas ke berbagai negara, diantaranya: Amerika Serikat, Estonia, Peru, Srilangka, Belanda, Cina, Filipina, Jepang, India, Malaysia, Thailand, Nigeria, Brasil, Kuba, Spanyol, Jerman, Polandia, dan Afrika Selatan. Garis merah yang dapat ditarik dari kebijakan-kebijakan negara lain terhadap OSS antara lain adalah:

1. Pemerintah menjadi kunci utama untuk menentukan arah pembangunan dan pengembangan OSS. Sejumlah negara yang telah mengadopsi OSS punya peluang yang sangat besar untuk dapat mempercepat tingkat kemajuan teknologi beserta keuntungan finansial yang dibawanya.

2. Sejumlah negara mengakui bahwa penggunaan OSS merupakan salah satu jalan untuk menjadi salah satu kompetitor di pasar global; mendorong industri perangkat lunak lokal; berkomitmen untuk memasyarakatkan teknologi informasi serta menurunkan biaya pembelian Teknologi Informasi.

3. Biaya tidak selalu menjadi alasan utama bagi negara-negara tertentu yang memilih untuk menggunakan OSS. Aspek keamanan, interoperabilitas, menghilangkan ketergantungan pada satu vendor, turut memajukan industri pengembang lokal menjadi alasan yang lebih diutamakan daripada faktor biaya.

Sedangkan pemanfaatan GNU/Linux di lembaga pemerintahan Indonesia sudah dilakukan di Depkominfo (departemen Komunikasi dan Infromasi), Depsos (Departemen Sosial), Pemerintah Provinsi Nangroe Aceh Darussalaam, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, BATAN, BAPETEN, Pemerintah Kabupaten Kebumen.

Di berbagai perusahaan swasta di Indonesia pemanfaatan GNU/Linux juga sudah banyak, karena mereka benar-benar berpikir untung rugi. Tidak seperti di pemerintahan yang anggaraannya bisa tidak terbatas. Perusahaan swasta yang sudah menggunakan GNU/Linux antara lain: hampir seluruh usaha yang berbasis internet, seperti webhosting, pabrik obat dan makanan di Konimex, dan sebagainya.

2.5 Faktor-faktor Penyebab Belum Migrasi ke GNU/Linux

Ada berbagai faktor yang menyebabkan penggunaan GNU/Linux belum dilakukan di Indonesia maupun di BPS antara lain karena:

1. meskipun UU Hak atas Kekayaan Intelektual (UU HaKI) sudah diberlakukan, namun sistem operasi dan software propietary bisa didapatkan dengan mudah dan dengan biaya yang jauh lebih murah daripada biaya seharusnya. Hal ini menjadikan GNU/Linux dan Open Source Software kurang menarik untuk digunakan. Seandainya pemakai dan penjual software bajakan benar-benar ditindak, tentu banyak yang sudah berbondong-bondong belajar menggunakan GNU/Linux dan Open Source Software.

2. ada beberapa kekurangan pada OSS yaitu: terlalu banyak variasi dari OSS, tidak adanya dukungan komersial, usabilitas yang masih kurang baik, interoperabilitas dengan sistem proprietary, terbatasnya sumber daya manusia, aplikasi dan komitmen terhadap OSS, dan dokumentasi yang kurang lengkap.

3. Khusus untuk di BPS, hal ini juga disebabkan belum adanya distribusi GNU/Linux yang mengemas secara default paket aplikasi khusus yang dibutuhkan di BPS.

2.6 Distribusi GNU/Linux

Distro Linux adalah kernel Linux ditambah dengan kumpulan paket-paket software dari GNU dan yang lainnya, yang dibundel menjadi satu, dengan tujuan untuk mempermudah proses distribusi software tersebut. Ibarat sebuah mobil, Linux, atau tepatnya kernel Linux adalah mesin utamanya. Ini yang dikembangkan oleh Linus Torvalds dan kawan-kawan. Sedangkan sasis, rangka, roda, per, dan sebagainya disatukan oleh perusahaan karoseri. Demikian juga (kernel) Linux, untuk bisa dipergunakan, dilengkapi aplikasi pendukung seperti aplikasi server, desktop manager, aplikasi office dan banyak aplikasi lain sesuai kebutuhan. Ini yang dilakukan oleh RedHat, SuSE, Debian, Mandriva, dan beberapa distributor lainnya. Mereka mendistribusikan Linux kepada pengguna, lengkap dengan aplikasi-aplikasi pendukung siap pakai. (Sofyan, 2006)

3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Survei untuk Analisis Sistem Berjalan

Analisis sistem berjalan dilakukan dengan sensus pada 56 sub-direktorat kerja di BPS dengan satu responden pada tiap sub-direktorat. Responden yang dipilih adalah Kepala Sub-Direktorat atau Kepala Seksi. Informasi yang dikumpulkan adalah kebutuhan aplikasi atau software dalam pekerjaan sehari-hari di setiap subdit, komposisi perangkat keras (hardware) yang dipakai, permasalahan yang ada dengan pemakaian Windows, serta tingkat pengetahuan dan persepsi tentang penggunaan GNU/Linux.

3.2 Metode Pemaketan Distro

Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam memaketkan distro. Pertama, Linux from Scratch atau membangun dari nol. Metode ini cocok untuk mendalami lay-out dari Linux namun membutuhkan banyak effort untuk mendistribusikannya kembali. Sehingga metode ini lebih cocok digunakan secara pribadi. Kedua, membangun distro dengna cara memodifikasi distro besar yang sudah mapan. Penelitian ini akan menggunakan metode kedua karena membutuhkan effort yang lebih sedikit untuk distribusi ulang hasil modifikasinya.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pemaketan distro adalah sebagai berikut. Pertama, instalasi basis distro. Kemudian tambahkan paket aplikasi yang diperlukan sesuai dengan hasil sensus. Kedua, persiapkan lingkungan kerja. Pada tahap ini dilakukan modifikasi pada kernel untuk menambahkan dukungan filesystem squashfs dan unionfs yang akan digunakan pada LiveDVD. Lalu tentukan direktori kerja dan hirarki DVD yang akan dibuat. Ketiga, salin (copy) seluruh direktori yang sudah dimodifikasi pada tahap pertama, selain direktori /dev, /proc, /tmp, /home ke direktori kerja sebagai satu filesystem. Keempat, ubah root sistem ke direktori kerja. Lalu instalasikan paket yang diperlukan oleh sistem LiveDVD, yaitu casper dan ubiquity-installer dan update initramfs. Setelah itu hapus semua user selain sistem. Kemudian bersihkan direktori kerja dari file-file yang tidak diperlukan dalam LiveDVD. Kelima, siapkan hirarki dari LiveDVD. Salin (copy) kernel image, updated-initrd, dan memtest yang sudah disiapkan pada tahap sebelumnya. Kemudian ubah susunan direktori yang ada menjadi sebuah file yang dikompresi dengan filesystem squashfs. Keenam, mengatur Grub sebagai boot loader dari DVD. Ketujuh, membuat LiveDVD. Build file ISO dari hirarki DVD pada tahap sebelumnya. Lalu uji file ISO dengan PC emulator atau virtual machine, misalnya qemu atau VirtualBox. Jika sudah dapat berjalan dengan baik, barulah file ISO dibakar ke media DVD dan diuji di komputer lain yang menjadi sasaran uji coba.[4]

3.4 Rancangan Uji Coba

Uji coba akan dilakukan dengan pemberian pengenalan atau pelatihan pada sampel terpilih, lalu dilihat apakah setelah pengenalan dan pelatihan tersebut persepsinya berubah secara signifikan. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa solusi yang ada dapat diterapkan. Ada juga pilihan untuk mengadakan seminar kecil di gedung 6 lantai 8 BPS Pusat sebagai sarana sosialisasi dan mengumpulkan masukan atau tanggapan dari pegawai BPS secara lebih efektif. Namun hal ini masih dalam tahap konfirmasi.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Survei Analisis Sistem Berjalan

Survei analisis sistem berjalan yang dilakukan pada bulan Mei dan Juni 2008 berhasil mengumpulkan data dari 38 subdirektorat dari 56 subdirektorat yang ada di BPS. Sedangkan 18 subdirektorat sisanya tidak berhasil didapatkan datanya karena responden yang sulit ditemui. Secara umum, responden yang sulit ditemui biasanya sedang dinas ke luar kota atau ke daerah. Responden diputuskan sebagai responden yang sulit ditemui setelah dilakukan minimal dua kali revisit. Namun data untuk kebutuhan aplikasi sudah dapat terpenuhi. Sebab, bila diestimasi dengan stratifikasi, seluruh kategori subdirektorat sudah didapatkan datanya. Sehingga untuk informasi kebutuhan aplikasi sudah dapat mencerminkan kebutuhan seluruh direktorat kerja. Sedangkan infromasi permasalahan, komposisi perangkat keras, dan tingkat pengetahuan serta tingkat persetujuan hanya dapat menggambarkan keadaan dari sampel yang ada.

4.1.1 Permasalahan dengan Penggunaan Windows

Hasil survei menunjukkan bahwa permasalahan yang paling banyak dialami dalam tiga bulan terakhir di BPS adalah serangan virus. Serangan virus ini dialami oleh seluruh subdit yang berhasil didapatkan datanya, yaitu 38 subdit. Sedangkan masalah hang dan lambat hanya dialami oleh 30 dan 31 subdit. Lalu permasalahan tidak boot hanya dialami oleh 13 subdit.

Sedangkan bila dilihat menurut akibat yang ditimbulkan oleh berbagai permasalahan tersebut, maka sebagian besar masih dapat bekerja atau pekerjaan sedikit terganggu. Namun cukup banyak juga (ada 24 subdit dan 7 subdit) yang memerlukan bantuan orang lain atau bahkan PC tidak dapat dipakai sehari atau lebih jika terjadi gangguan.

Selanjutnya, permasalahan tersebut juga dapat dilihat menurut jumlah PC yang mengalami. Berikut ini data jumlah subdit menurut jenis permsalahan dan jumlah PC yang mengalaminya. Dapat dilihat bahwa ada 16 subdit yang jika terkena serangan virus, maka jumlah PC yang mengalami kurang dari seperempat PC yang ada di subdit tersebut. Dan ada 6 subdit yang jika terkena serangan virus, maka yang terkena akibatnya lebih dari 75% dari jumlah PC yang ada di subdit tersebut.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa urgensi untuk migrasi ke GNU/Linux sudah cukup besar. Karena virus dan berbagai permasalahan lainnya akan terus menghntui jika tetap menggunakan sistem operasi Windows. Karena Windows tidak pernah memperbaiki sistemnya dari awal, tapi hanya melakukan tambal-sulam setiap kali rilis versi baru. Bahkan John C. Dvorak eyakini bahwa kode program Windows berupa kode spaghetti tambal-sulam yang tidak seorang pun di Microsoft menguasai keseluruhannya dengan baik. Sehingga tidak heran bila ada data mengatakan virus yang membuat Windows XP crash masih dapat membuat Vista crash. [6]

4.1.2 Analisis Kebutuhan

Menurut hasil survei, kebutuhan aplikasi di BPS adalah dari kategori aplikasi perkantoran (pengolah kata, spreadsheet, presentasi), aplikasi pengolahan database, aplikasi untuk analisis statistik, aplikasi untuk pengembangan software, dan aplikasi pemetaan (GIS, Geographic Information System). Aplikasi perkantoran digunakan di semua subdit yang berhasil diperoleh datanya, yaitu 38 subdit. Sedangkan aplikasi database digunakan di 27 subdit. Ada 35 subdit yang menggunakan aplikasi untuk analiis statistik. Lalu ada 10 subdit yang memerlukan aplikasi untuk pembuatan web. Aplikasi untuk pembuatan software digunakan oleh 10 subdit.

Berikut ini adalah salah satu datanya, yaitu komposisi pengguna berbagai jenis wordprocessor di BPS.

Data di atas menunjukkan bahwa pengguna Word 2003 adalah yang terbanyak, yaitu 23 subdit dan 155 orang dari 23 subdit tersebut. Sayangnya pengguna wordprocessor selain Word 2000 dan OpenOfficeWriter disinyalir menggunakan versi bajakan. Sebab, BPS hanya membeli secara resmi Office 2000. Demikian juga dengan kategori aplikasi lainnya. Sebab, mereka tidak tahu ketika ditanya tentang harga dari lisensi software yang dipakai.

4.1.3 Tingkat Pengetahuan Responden

Tingkat pengetahuan responden tentang penggunaan GNU/Linux ternyata masih kurang. Sebagian besar belum pernah melihat atau menggunakan sistem operasi ini. Namun, hanya sedikit (sekitar 2%) yang belum pernah mendengar sama sekali. Sebagian besar (60%) sudah mendengar kabar tentang adanya sistem operasi ini.

Tingkat pengetahuan responden mengenai OpenOffice sudah cukup besar. Sekitar 60% responden sudah menggunakan OpenOffice. Hal ini antara lain disebabkan pengadaan PC di BPS muai tahun 2007 dibundel dengan aplikasi OpenOffice untuk menggantikan MicrosoftOffice. Akan tetapi masih openOffice tersebut masih dijalankan di atas Windows.

4.1.4 Tingkat Persetujuan Responden

Ternyata tingkat persetujuan responden terhadap rencana migrasi ke GNU/Linux cukup tinggi. Sejumlah 42% dari seluruh responden menjawab setuju. Alsan yang dikemukakan antara lain: mengikuti gerakan IGOS, gratis, tahan terhadap serangan virus, agar mandiri, dan ada pula yang menjawab bahwa anggaran dapat dialihkan untuk pembelian perangkat keras dan peningkatan kualitas SDM. Sedangkan yang menjawab beri waktu untuk mempelajari memiliki alasan perlunya adaptasi dengan sistem baru.

Sementara alasan belum familiar dan ingin membandingkan dengan Windows dikemukakan oleh mereka yang menjawab ingin mencoba dulu. Mereka yang menjawab belum tahu menyamapaikan alasan: semua tergatung kebijakan pimpinan BPS. Jawaban tidak setuju disampaikan dengan alasan belum disediakan oleh BPS, kompatibilitas yang masih dipertanyakan, dan format data mitra kerja yang masih berbasis Windows.

4.2 Perancangan Pemaketan Distro

Sesuai dengan hasil survei, sebagian besar perangkat keras yang dipakai di BPS dapat menjalankan sistem yang akan dibangun. Pemaketan distro akan dilakukan dengan mengacu pada salah satu distro GNU/Linux yang sudah mapan. Basis distro yang dipilih adalah Ubuntu 8.04 desktop edition. Pertimbangannya adalah distro ini berbasis pada Debian yang memiliki banyak dukungan paket aplikasi. Ubuntu juga didukung oleh perusahaan Canonical, Ltd dengan baik.

Selain itu, menurut distrowatch.com sejak tahun 2006, Ubuntu merupakan distro yang paling populer dan banyak digunakan. Ubuntu juga memiliki keunggulan dalam kompatibilitas perangkat keras yang biasanya didesain untuk sistem operasi Windows dibandingkan dengan distro lainnya. Ubuntu juga memiliki opsi untuk diinstal di dalam Windows dengan Wubi.

Distro ini akan dipaketkan dalam bentuk LiveDVD sehingga dapat langsung dijalankan dari DVDROM. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengguna baru dalam menggunakannya. Sebab, menurut survei, sebagian besar responden belum pernah melihat dan menggunakan sisem operasi GNU/Linux. Akan tetapi sebagian besar responden sudah mendengar kabar tentang adanya sistem operasi GNU/Linux. Distro ini juga akan dipaketkan dengan desktop KDE yang sudah dikenal keindahan dan kemudahan pemakaiannya. Apalagi ditambah dengan efek desktop tiga dimensi dari Compiz-Fusion.

4.3 Hasil Pemaketan Distro

Distribusi GNU/Linux Dynamix diimplementasikan pada basis distro Ubuntu dengan desktop KDE (Kubuntu). Distro ini sudah dilengkapi dengan berbagai aplikasi yang dibutuhkan dalam pekerjaan sehari-hari di BPS.

Tabel 1. Daftar aplikasi yang sudah dipaketkan dalam distro GNU/Linux Dynamix

sinunk_net_wp-content_files_Makalah_KNSI_sudah_diedit_pdf

Konsekuensi dari rencana migrasi ini adalah disediakannya manual khusus untuk migrasi, setidaknya untuk memulai tiap aplikasi dan keterangan singkat, dibuat manual yang autorun berbasis web ketika distro dijalankan. Selain itu juga disediakan tabel perbandingan fitur tiap aplikasi: baik fitur yang sama atau sedikit berbeda, fitur yang hanya ada di Linux, dan fitur yang hanya ada di Windows.

Implikasi penggunaan distro hasil penelitian ini adalah:

1) anggaran pembelian software dapat dialihkan untuk pembelian perangkat keras dan peningkatan sumber daya manusia

2) bagi manajemen, produktivitas dapat menjadi lebih tinggi, sebab waktu produktif yang hilang untuk perbaikan dapat diminimalkan

3) bagi programmer: ada sedikit transisi tools dan development time pada awalnya, namun tidak akan memakan banyak waktu karena tidak jauh berbeda dengan yang biasa digunakan di Windows.

4) bagi end user: sedikit transisi aplikasi yang digunakan sehari-hari

5. KESIMPULAN

Permasalahan yang ada dengan pemakaian Windows sudah diperoleh gambarannya dari hasil survei. Demikian juga denga kebutuhan aplikasi di BPS. Permasalahan dan kebutuhan aplikasi tersebut sudah dapat dijawab dengan pembuatan distro GNU/Linux Dynamix. Distro ini relatif lebih aman dan stabil dibandingkan sistem sebelumya yang menggunakan Windows. Hal ini disebabkan karena penggunaan sistem operasi GNU/Linux. Distro ini juga sudah siap digunakan karena dapat melakukan ekspor/impor data dari aplikasi berbasis Windows yang biasa digunakan sebelumnya. Selain itu distro ini dapat dijalankan langsung dari DVD tanpa instalasi, namun instalasi dapat dilakukan setelahnya.

6. KETERBATASAN PENELITIAN

Penelitian ini dibatasi pada direktorat kerja yang ada di BPS. Belum mencakup biro-biro yang ada di BPS seperti Biro kepegawaian dan Biro Keuangan. Aplikasi yang sudah terlanjur dibuat berbasis Windows belum dapat diuji apakah bisa dijalankan dengan emulator di Linux. Penelitian selanjutnya dapat diperluas pada seluruh bagian di BPS dan menguji aplikasi yang sudah dibuat berbasis Windows.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Tanenbaum, Andrew S.(2001). Modern Operating System: Second Edition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

[2] Sofyan, Ahmad. (2006). Membuat Distro Linux Sendiri. Jakarta: Dian Rakyat.

[3] Deklarasi IGOS, Situs Resmi Indonesia Go Open Source, http://www.igos.web.id/web/guest/document/, diakses 7 Mei 2008.

[4] Situs Forum Ubuntu, http://ubuntuforums.org/capink.html, diakses 4 Juni 2008.

[5] Panduan Penelitian OSS, Situs Resmi Indonesia Go Open Source, http://www.igos.web.id/web/guest/document/, diakses 7 Mei 2008.

[6] Dvorak, John C. “Spagheti Tanpa Saus”. PC Magazine. Oktober 2004.

Versi PDF paper ini dapat diunduh di sini.