ign_300

MORPHEUS

We are trained in this world to accept only what is rational and logical.
Have you ever wondered why? As children, we do not
separate the possible from the impossible which is why
the younger a mind is the easier it is to free,
while a mind like yours can be very difficult.

NEO
Free from what?

MORPHEUS
From the Microsoft.

(Sepotong dialog dalam trilogi film The Matrix)

APA ITU OPEN SOURCE?

Sebelum berkenalan dengan open source, ada baiknya kita kenali dahulu berbagai jenis software menurut biaya lisensi dan ketersediaan source-codenya. Menurut Robert Charpentier dan Richard Carbone (2004), berbagai jenis lisensi software dapat disusun dalam taksonomi berikut:

Taksonomi Software

Pada gambar di atas, ada dua lisensi utama, yaitu free (gratis) dan propietary yang meminta kompensasi biaya atas pembelian atau penggunaan perangkat lunak. Pengembang pada kedua jenis lisensi utama tersebut dapat menerapkan skema open source (menyediakan source code) maupun closed source (tidak menyediakan source code). Sehingga dapat ditemui adanya perangkat lunak gratis yang tidak open source, maupun perangkat lunak berbayar yang open source. Pada skema open source, ada yang dikembangkan oleh perusahaan (corporate) dan komunitas (collaborative). Software open source kolaboratif ada yang sudah matang (mature) dan sedang dalam pengembangan (in development).

Secara sederhana, ada dua kategori lisensi software yang banyak dipakai, yaitu:
1) FOSS (Free / Open Source Software) adalah dua istilah yang maksudnya hampir sama, yakni program yang tidak perlu biaya izin (free = bebas) digunakan dan kode sumbernya tidak dirahasiakan (open = tersedia), sehingga cara kerjanya dapat dipelajari, lalu dikembangkan, dan disebarluaskan. Contoh: Linux, OpenOffice, GIMP, Inkscape.

2) PCSS (Proprietary / Closed Source Software) adalah program yang hanya dimiliki pembuatnya (terikat). Pengguna hanya dapat menggunakan jika membeli lisensi (mendapatkan izin). Pihak lain tidak dapat mempelajari cara kerjanya (tertutup), tidak pula mengembangkan dan menyebarluaskan. Contoh: Windows, MS Office, Photoshop, CorelDraw.

Open Source tidak hanya bermakna kebebasan akses ke source code saja. Open source juga merupakan:
1) Sebuah komunitas kuat yang terdiri dari individu-individu yang lebih mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan umum dibandingkan dirinya sendiri;
2) Seperangkat aturan lisensi software; open source bukan berarti tanpa lisensi, sebab ini berkaitan dengan hukum. Agar open source dapat menjadi legal di mata hukum, diperlukan aturan lisensi open source tersendiri;
3) Sebuah model pengembangan software secara kolaboratif; setiap orang dapat ikut berpartisipasi dalam mengembangkannya;
4) Sebagai katalis yang membangkitkan bisnis dan model bisnis yang belum pernah ada sebelumnya; tidak ada bisnis dalam sistem open source itu sendiri, karena ia hanyalah alat; namun open source dapat digunakan untuk menjalankan bisnis dengan lebih efisien atau mengembangkan model bisnis baru di sekitar pemanfaatan open source;
5) Kekuatan yang mendorong percepatan software menjadi komoditi.

Sebagai seperangkat lisensi software, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi sebelum suatu software dapat disebut sebagai open source. Berikut ini definisi open source menurut lembaga nirlaba Open Source Initiative (OSI):

1. DISTRIBUSI ULANG SECARA BEBAS
Lisensi yang digunakan tidak boleh membatasi siapa pun untuk menjual atau mendistribusikan ulang. Baik distribusi ulang secara terpisah maupun digabungkan dengan program lain. Lisensi tidak boleh mesyaratka royalti atau semacamnya bila program tersebut akan dijual.
Alasan Logis: Dengan mensyaratkan distribusi ulang secara bebas, hilangnya manfaat jangka panjang demi hasil penjualan jangka pendek dapat dieliminasi.

2. KODE PROGRAM (SOURCE CODE)
Distribusi program harus menyertakan source code, dan harus mengizinkan distribusi source code sebagaimana halnya bentuk yang sudah dikompilasi (bentuk binari/executable). Jika program tidak didistribusikan bersama source code, harus ada publikasi atau penjelasan yang memadai bagaimana caranya mendapatkan sorce code-nya. Biaya yang diperlukan untuk mendapatkan source code tidak boleh lebih dari biaya reproduksinya atau tersedia untuk di-download melalui internet. Source code harus menjadi bentuk yang lebih disukai jika programmer ingin memodifikasi programnya. Source code tidak boleh diubah atau dibuat menjadi tidak jelas dengan sengaja. Bentuk intermediate juga tidak diijinkan, misalnya keluaran dari preposesor atau translator .
Alasan Logis: Akses ke source code yang jelas diperlukan untuk mengembangkan dan memodifikasi program. Agar hal tersebut dapat dilakukan dengan mudah, maka akses ke source code juga harus dimudahkan.

3. HASIL MODIFIKASI ATAU TURUNAN
Lisensi harus mengijinkan modifikasi atau pembuatan turunan dari program tersebut, dan harus mengizinkan program yang diturukan untuk dilisensikan dengan lisensi yang sama dengan program aslinya.
Alasan Logis: Ketersediaan akses untuk membaca source code saja tidak cukup untuk mendukung peer review secara independen dan pengembangan evolusioner yang cepat. Agar hal tersebut dapat terjadi, diperlukan eksperimen pada source code dan distribusi ulang hasil modifikasinya.

4. INTEGRITAS PROGRAMMER ASLI
Lisensi dapat melarang source code untuk didistribusikan dalam bentuk yang sudah dimodifikasi bila mengijinkan distribusi patch beserta source code-nya untuk memodifikasi program pada saat build time . Lisensi harus secara eksplisit mengijinkan distribusi program yang dibangun dari source code yang telah dimodifikasi. Lisensi dapat mensyaratkan program turunan agar menggunakan nama atau versi yang berbeda dengan program yang asli.

Alasan Logis: mendorong terjadinya banyak pengembangan dan perbaikan adalah hal yang sangat baik, namun para pengguna berhak untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab terhadap aplikasi yang mereka gunakan. Sebaliknya, sang pembuat program dan pemeliharanya (maintainer) juga berhak untuk mengetahui apa harus mereka dukung dan untuk menjaga reputasi mereka.
Dengan demikian, sebuah lisensi open source harus menjamin agar source code tersedia, namun dapat mensyaratkan agar source code didistribusikan dalam bentuk pristine (masih asli dari sang pembuat, belum ada modifikasi dari pihak lain) ditambah dengan patch. Dengan cara ini, perubahan yang tidak resmi dapat dibuat dan disediakan, namun dapat dibedakan dari source aslinya.

5. TIDAK ADA DISKRIMINASI PADA ORANG ATAU KELOMPOK ORANG
Lisensi tidak boleh membatasai orangatau kelompok orang untuk menggunakan atau terlibat dalam proses pengembangan program open source.
Alasan Logis: Untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari proses pengembangan aplikasi open source, maka tingkat perbedaan orang atau kelompok orang yang terlibat dalam prosesnya juga harus maksimal. Setiap orang harus memiliki hak yang sama untuk berkontribusi pada proyek open source apa pun. Dengan kata lain, tidak boleh ada larangan bagi siapapun untuk terlibat dalam proses pengembangan open source.

6. TIDAK ADA DISKRIMINASI DALAM BIDANG PENGGUNAANNYA
Lisensi tidak boleh membatasi seseorang untuk menggunakan program yang dimaksud dalam bidang tertentu. Misalnya, lisensi tidak boleh membatasi penggunaan program dalam bidang penelitian, pendidikan, atau digunakan untuk menjalankan bisnis.
Alasan Logis: Hal ini dimaksudkan agar penggunaan open source meluas dan tidak terjebak pada batasan untuk digunakan sebagai alat bantu dalam dunia bisnis komersial. Pengguna komersial justru diharapkan bergabung dengan komunitas open source dan tidak merasa dikecualikan dalam menggunakan program open source.

7. DISTRIBUSI LISENSI
Hak-hak yang melekat pada program harus dapat diterapkan pada seluruh pengguna; tanpa memerlukan tambahan lisensi.
Alasan Logis: klausa ini dimaksudkan untuk menghindari penutupan software secara tidak langsung.

8. LISENSI TIDAK BOLEH SPESIFIK PADA PRODUK TERTENTU
Hak-hak yang melekat pada program tidak boleh mensyaratkan program tersebut menjadi bagian dari distribusi software tertentu. Jika program tertentu digunakan atau didistribusikan secara terpisah dari distribusi software-nya, namun tetap mengikuti lisensi berlaku pada program tersebut, maka seluruh pihak yang menerima atau menggunakan program tersebut harus menerima hak yang sama dengan mereka yang mendapatkannya bersama distribusi software aslinya.
Alasan Logis: klausa ini mencegah jenis jebakan lisensi yang lain.

9. LISENSI TIDAK BOLEH MEMBATASI SOFTWARE LAIN
Lisensi tidak boleh membatasi software lain yang didistribusikan bersama program yang dilisensikan. Misalnya, lisensi tidak boleh memaksa bahwa program lain yang didistribusikan dalam media yang sama harus merupakan software yang open source.
Alasan Logis: Distributor software open-source memiliki hak untuk menentukan pilihan mengenai software mereka. Lisensi GPL (GNU General Public License) juga mengadaptasi hal ini. Software yang menggunakan pustaka berlisensi GPL hanya diharuskan berlisensi GPL bila membentuk satu software yang sama, bukan pada software apa saja yang didistribusikan bersamanya.

10. LISENSI HARUS NETRAL TERHADAP TEKNOLOGI
Penyediaan lisensi tidak boleh mengharuskan penggunaan teknologi atau tampilan grafis tertentu.
Alasan Logis: Penyediaan lisensi ini ditujukan secara spesifik pada lisensi yang mengharuskan adanya tindakan yang secara ekplisit menunjukkan ekspresi persetujuan dan mengadakan kontrak antara pengguna software yang dilisensikan dengan pembuat lisensinya. Penyediaan lisensi yang mengharuskan “click-wrap” dapat menimbulkan konflik dengan beberapa metode penting dalam distribusi software seperti misalnya: download melalui FTP (File Transfer Protocol), CD-ROM berisi kumpulan aplikasi, atau mirror web ; beberapa di antaranya dapat menghalangi atau mencegah penggunaan kembali kode program. Maka adaptasi penyediaan lisensi harus memungkinkan (a) distribusi software bisa dilakukan di jalur non-web yang tidak mendukung click-wrap pada proses download dan (b) kode program yang tercakup dalam lisensi (atau penggunaan kembali sebagian dari kode program yang tercakup) harus dapat dijalankan dalam lingkungan tanpa tampilan grafis yang tidak dapat mendukung dialog pop-up.

KEUNGGULAN GNU/LINUX DAN OPEN SOURCE

KEUNGGULAN UMUM
1. Biaya Investasi
Biaya lisensi untuk perangkat lunak, nol atau sangat rendah (karena masih ada biaya distribusi perangkat lunak).
Perangkat keras: berbeda dengan penggunaan proprietary software, yang mensyaratkan spesifikasi perangkat keras tertentu, OSS tidak terlalu bergantung pada jenis perangkat keras tertentu. Pasalnya OSS dapat beroperasi pada PC standar dan berbagai platform perangkat keras. Pengeluaran biaya tertuju pada perawatan (maintenance) sistem OSS.

2. Kualitas dan Kinerja
Kualitas program dibuat dengan memperhatikan reliabilitas dan kinerja yang terkait dengan keseluruhan sistem yang digunakan. Dengan hasil peer review yang diperoleh dari para programmer, kualitas dan kinerja OSS dapat selalu ditingkatkan.
Fleksibilitas Sistem: Perubahan requirement (baik perangkat lunak atau perangkat keras) pada OSS tidak akan terlalu berpengaruh terhadap sistem yang digunakan. Hal ini sangat berbeda dengan proprietary software, ketika requirement penyusun sistem berubah maka perangkat lunak yang digunakan harus diganti atau diperbaharui (update). Perangkat lunak yang berbasis open source lebih fleksibel digunakan tanpa terpengaruh oleh perangkat keras atau perangkat lunak lain pada sistem.

3. Keamanan
Dengan menggunakan OSS, faktor keamanan (security) selalu dapat ditingkatkan. Pasalnya, akses pada source code yang terbuka akan memudahkan pendeteksian kerusakan sistem, sehingga bisa langsung diperbaiki.

4. Lokalisasi
Pengembang dapat memodifikasi program sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat sekitar, contohnya translasi Linux ke dalam suatu bahasa tertentu. Meningkatkan kapasitas pengembang perangkat lunak lokal.

5. Independensi (kebebasan)
Berkurangnya ketergantungan terhadap suatu vendor perangkat lunak.

TOTAL COST OF OWNERSHIP
Total Cost of Ownership adalah ukuran yang menunjukkan harga kepemilikan perangkat keras maupun perangkat lunak. TCO tidak hanya memperhitungkan biaya pembelian awal, namun juga menghitung biaya perawatan, pelatihan, dan pengembangan lebih lanjut.

1. Sistem free software lebih murah pada pembelian awal. Meskipun free merujuk pada freedom (kebebasan) bukan harga. Setelah membeli suatu sistem propietary, sebenarnya anda hanya diberi hak pakai. Sedangkan pada lisensi open source, anda benar-benar memilikinya setelah menyetujui lisensinya.

2. Biaya perawatan atau upgrade pada jangka panjang juga jauh lebih murah pada sistem GNU/Linux. Misalnya, upgrade produk Microsoft biasanya mencapai setengah dari harga pembelian. Selain itu, pengguna dihadapkan hanya pada satu pilihan harga. Sehingga pada jangka panjang, harga tergantung pada kebijakan Microsoft. Sebaliknya, sistem GNU/Linux dapat didownload secara gratis atau dibeli lagi (secara umum, kurang dari $100). Harga ini memang belum termasuk technical support, namun harga technical support dapat bersaing karena ada berbagai vendor (situasi yang tidak mungkin terjadi pada produk Microsoft).

3. Sistem GNU/Linux umumnya dapat menggunakan perangkat keras secara lebih efisien, dan dapat menggunakan perangkat keras lama. Sehingga menuntut biaya perangkat keras yang lebih rendah, dan pada beberapa kasus dapat mengeliminasi kebutuhan perangkat keras baru. Selain itu, free software juga berjalan lebih cepat pada perangkat keras baru.

4. Sistem free software cenderung membutuhkan perawatan administrasi yang lebih rendah. Survei pada pemerintahan Eropa menunjukkan bahwa administrator sistem free software dapat mengelola 35% komputer lebih banyak untuk setiap administrator dibandingkan dengan sistem propietary.

5. Netproject melaporkan bahwa TCO dengan Linux pada desktop adalah 35% dari TCO Microsoft Windows (penghematan 65%). Netproject’s Cost of Ownership report menemukan penghematan yang signifikan dan melaporkan penyebabnya sebagai berikut:
a) Eliminasi harga lisensi baik untuk perangkat lunak sistem maupun perangkat lunak perkantoran (office).
b) Eliminasi vendor yang memaksa update perangkat lunak yang tidak perlu.
c) Pengurangan dalam jumlah security updates untuk perangkat lunak.
d) Tidak memerlukan pembelian perangkat lunak antivirus.
e) Pengurangan jumlah staff yang diperlukan untuk support.

PENGHEMATAN BIAYA
Dilihat dari sudut pandang biaya, sumber penghematan yang bisa diperoleh yaitu:
1. Hemat biaya lisensi pengadaan perangkat lunak, lisensi up-grade, dll.
2. Hemat biaya dukungan teknis.
3. Hemat biaya pembelian perangkat keras dan up-grade parangkat keras (sebab, Linux sangat fleksibel terhadap hardware).
4. Sedikit kehilangan laba ketika sistem down. Mengapa? Karena sistem Linux jarang (bahkan hampir tidak pernah) down. Desain yang modular juga memungkinkan recovery yang cepat karena kerusakan pada satu modul tidak akan menyebar ke seluruh sistem.
5. Hemat biaya yang harus dikeluarkan ketika data hilang karena kesalahan program di sistem operasi atau perangkat keras yang dipersyaratkan oleh sistem operasi.
6. Hemat biaya yang harus keluar karena gangguan virus.

KEUNTUNGAN JANGKA PANJANG

Keuntungan jangka panjang yang lebih besar justru berasal dari konsep dan prinsip open source itu sendiri, yaitu:
1. Dapat menjaga investasinya dalam bidang software, tidak tergantung pada sebuah vendor.
2. Lebih memahami kerja dari suatu software, sehingga tidak terlalu tergantung pada dokumentasi yang tersedia.
3. Dapat melihat dan mencari kelemahan software, bahkan dapat memperbaikinya bila mau. Update biasanya jauh lebih cepat tersedia daripada closed software.
4. Dapat memindahkan software tersebut ke sistem operasi yang lain atau yang baru atau hardware yang berbeda.
5. Dapat menggunakan source code untuk membuat aplikasi yang disesuaikan kebutuhannya.
6. Sehingga staf divisi TI (teknologi informasi) memiliki waktu luang lebih yang biasa dipakai untuk perbaikan. Mereka pun dapat memanfaatkan waktu luang tersebut untuk mengembangkan aplikasi bisnis berbasis TI yang lebih baik untuk kantor atau perusahaannya.

LALU, MENGAPA OPEN SOURCE MASIH MENJADI SIDE-STREAM?

My fight is not to be a white man in a black skin, but to inject some black blood, some black intelligence into the pallid mainstream of American life, culturally, socially, psychologically, philosophically.
John Oliver Killens, U.S. novelist, film scriptwriter, and educator.

Saat ini, open source sudah mulai mendominasi penggunaan perangkat lunak di kalangan perusahaan. Forrester Research yang belum lama mengumumkan hasil dari jajak pendapat terhadap eksekutif perusahan tentang Open Source di negara-negara USA, Inggris, Perancis, Jerman dan Kanada. Dari hasil pemantauan tersebut dikatakan bahwa Open Source Software Goes Mainstream diadopsi paling tidak di perusahan di Jerman (58 persen) dan Perancis (49 persen) sementara Inggris menduduki tempat ketiga dengan 40 persen.

Alasan menggunakan software bebas di perusahan adalah terutama demi penghematan biaya yang ditemukan paling tidak sekitar 56 persen dari 2200 perusahan yang dijajaki. Menurut Forrester, badai krisis yang melanda dunia saat ini juga telah memberikan kontribusi terhadap langkah perusahan menuju solusi Open Source. Diindikasikan bahwa penyebaran OSS di perusahan saat ini lebih cepat dari pada teknologi lainnya seperti ERP atau Enterprise-Services.

Sebagaimana dijelaskan Jeffrey S. Hammond, Analyst di Forrester, OSS kini tidak lagi dapat diabaikan. Berkat Open Source telah terjadi pergesaran expektasi pelanggan terhadap harga dan tendensi pembelian. Yang tadinya membeli paket solusi lengkap dari satu vendor, kini ngetrend untuk membeli sistem per komponen.

Meski demikian, Linux dan perangkat lunak open source masih belum menjadi main-stream di kalangan pengguna desktop rumahan. Menjadi side-stream bukanlah hal yang buruk. Sesuatu hal menjadi side-stream bukan karena hal itu tidak mampu untuk menjadi main-stream, tapi karena kekuatannya yang besar belum dikelola dengan baik. Pengelolaan kekuatan yang besar kadang hubungannya lebih dekat dengan pengelolaan penjualan (atau bagaimana cara menjual).

Contoh yang bisa disamakan adalah film Hollywood yang menjadi main-stream perfilman dunia. Apakah karena film-film Hollywood mempunyai cerita yang bagus? Tidak juga. Banyak film independen yang punya cerita lebih bagus. Hollywood berjaya karena kekuatan finansialnya dalam membuat jaring-edar film-film mereka. Karena mereka punya dana besar untuk beriklan. Karena mereka sudah terlalu lama menjadi main-stream, penonton kebanyakan sudah lupa kalau ada film lain yang bagus dan bisa ditonton selain film Holywood. Dan mungkin itu Bollywood atau Tangkiwood .

Kebanyakan programmer Linux terlalu asyik dengan pengembangan Linux itu sendiri sebagai program dibandingkan dengan bagaimana melakukan penetrasi lebih intensif ke pengguna. Kebanyakan orang masih melihat Linux sebagai sebuah kelompok komunitas, kantong-kantong programmer handal yang anti-Microsoft, dan bahkan sebagai orang iseng yang hanya hobi membuat program.

Belum tumbuh secara maksimal dalam diri para pengguna Linux untuk meleburkan diri mereka sebagai sesama pengguna komputer apalagi kesadaran untuk menggunakan kekuatan media sebagai sarana promosi. Semua memang sudah mulai dilakukan. Tapi sekali lagi, masih kurang maksimal.

Apa artinya sebuah produk bagus tanpa promosi yang bisa menginformasikannya kepada masyarakat? Linux harus belajar banyak pada Microsoft bagaimana caranya mempromosikan produk dengan baik. Microsoft sangat berhasil dalam hal ini sehingga promosi itu mampu menghilangkan ingatan pengguna komputer bahwa ada sistem operasi lain yang bisa digunakan selain Microsoft.

(SEHARUSNYA) MERUPAKAN SEBUAH KONSPIRASI: OPEN SOURCE, NEGARA BERKEMBANG, KEMISKINAN, DAN SEMANGAT UNTUK MENGEJAR KETERTINGGALAN

People of the same trade seldom meet together but the conversation ends in a conspiracy against the public, or in some contrivance to raise prices.
Adam Smith

United Nation Conference on Trade Development pada tahun 2003 merekomendasikan penggunaan free dan open source software di negara berkembang ntuk mengurangi kesenjangan teknologi dengan negara maju. Pada 1 Juli 2004, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Menteri Negara Komunikasi dan Informatika, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Kehakiman dan HAM, serta menteri Pendidikan Nasional secara resmi menyatakan akan menggalakkan penggunaan standar software terbuka melalui gerakan Indonesia Go Open Source (IGOS) yang konon dapat menghemat belanja sampai 20 triliun rupiah.

Hasil terpenting dari IGOS Summit 2, yang kelak menentukan keberhasilan gerakan open source Indonesia di masa depan, adalah lahirnya komitmen beberapa instansi pemerintahan untuk mengimplementasikan OSS. Mereka adalah Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara, Kementerian Negara Koperasi dan UMKM, Departemen Sosial, Sekretariat Negara, Kepolisian Negara RI, BAPPENAS, Departemen Dalam Negeri, Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, Departemen Kehutanan, Departemen Agama, Departemen Keuangan, dan Departemen Perhubungan. Hal lain yang tak kalah penting yang dihasilkan dalam acara ini adalah terbentuknya Aliansi Open Source Indonesia pada penutupan IGOS Summit 2.

Open source dan open movement terbukti mendorong sebagian besar inovasi yang ada di dunia software. Dalam open source, kode program perangkat lunak dibuka untuk siapa saja. Setiap individu atau kelompok mempunyai kesempatan yang sama untuk mengembangkannya lebih jauh. Bagi negara berkembang, potensi peran open source sangat besar. Dengan konsep yang terbuka kita bisa mengejar ketertinggalan dari negara maju. Karena kita tidak perlu memulai semuanya dari nol. Tinggal dimodifikasi dan dikembangkan.

Selain itu, kita bisa menghemat biaya lisensi. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli lisensi seharusnya bisa digunakan untuk biaya pendidikan, serta mengembangkan berbagai inovasi lain yang akan membuat kita lebih cepat berkembang. Menurut data Badan Pusat Statistik , pendapatan nasional per kapita kita adalah 15,5 juta per tahun pada 2007. Artinya hanya sekitar satu juta per bulan. Angka tersebut pun baru berupa pendapatan rata-rata. Pemerataannya masih timpang. Ada yang pendapatannya masih jauh di bawah angka tersebut. Ada pula segelintir yang penghasilannya berlipat dari angka tersebut.

Bila pendapatan tersebut digunakan untuk membeli software, bagaimana bangsa kita memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan? Sedangkan harga sistem operasi Windows XP Professional SP2 adalah $144 atau Rp 1,742,400. Sebelum dapat bekerja, pengguna masih harus membeli Office 2007 Basic (Word, Excel, Outlook) seharga $170 atau Rp 2,057,000. Belum lagi bila pengguna memerlukan Adobe Photoshop CS4 versi 11 seharga $698 atau Rp 8,445,800. Harga perangkat lunak asli , bisa jauh lebih mahal dari perangkat kerasnya. Sedangkan satu distribusi Linux biasanya sudah menyertakan berbagai aplikasi yang diperlukan dalam kegiatan sehari-hari. Termasuk aplikasi office (OpenOffice.org) dan desain grafis (GIMP) yang memadai.

Standar terbuka adalah hal yang penting. Bayangkan bila data penting Anda tersimpan dalam format tertentu yang hanya bisa dibuka oleh aplikasi tertentu. Apa yang akan Anda lakukan bila beberapa tahun kemudian aplikasi tersebut tidak lagi tersedia, atau format lama tidak lagi didukung? Nah, standar terbuka memungkinkan formatnya dapat dibuka oleh aplikasi apa saja. Sebab, tersedia spesifikasi dan source code implementasi format tersebut. Bahkan setiap orang dapat membuat aplikasi sendiri menggunakan format penyimpanan tersebut. Contohnya adalah Open Document Format (ODF) yang telah terdaftar sebagai standar ISO.

Standar terbuka itu sangat penting untuk interoperabilitas. Kalau ada interoperabilitas, akan menghasilkan pemanfaatan TI yang jauh lebih besar dan ketidaktergantungan pada salah satu vendor. Dengan demikian, kompetisi bisa lebih sehat. Jika kompetisi lebih sehat, yang akan diuntungkan adalah pengguna karena harga lebih murah, service lebih baik, pilihan lebih banyak.

Pemberlakuan UU HaKI (Undang-undang tentang Hak atas Kekayaan Intelektual) pun tidak dapat membendung pola konsumtif ini. Pengguna Windows masih tetap dominan, sebab pembajakan tetap berlangsung. Mereka belum beralih ke Linux, misalnya karena dianggap susah digunakan. Padahal mereka juga tidak mampu membeli lisensi Windows. Barangkali jika pembajakan benar-benar dihentikan, mereka akan berbondong-bondong migrasi ke Linux. Sebab, Linux gratis, kode programnya terbuka (open source), dan bisa dimodifikasi sesuka hati.

Tapi sayangnya, seringkali mereka yang sudah menggunakan Linux hanya berpikir bahwa ini gratis. Mereka tidak berpikir bahwa ini dapat dimodifikasi dan dikembangkan sesuai kebutuhan. Padahal seharusnya ini diarahkan pada kemandirian IT. Sebab, bangsa kita memiliki potensi besar untuk menjadi pengembang. Misalnya mengembangkan distro khusus game atau pendidikan dan menjualnya dengan harga yang relatif masuk akal. Sebagai contoh, lihatlah Thailand. Perlahan mereka membangun ladang industri TI yang cukup canggih dengan menawarkan jasa programming dan animasi yang kuat di Asia Tenggara. Thailand merupakan salah satu sumber open source yang unik karena berbagai perusahaan dan sekolahan berupaya untuk membuat dan menggunakan distro Linux nasional.

Harap diingat bahwa huruf Thai berbeda dengan tulisan latin yang kita gunakan. Jadi bukan sekedar bahasanya yang harus diganti, tapi juga semua karakternya yang ada di seluruh sistem. Belum lagi untuk aplikasi OpenOffice.Org, tapi mereka pantang mundur. Karena kemampuan mereka berpaling ke Linux dan perangkat lunak open source, pada tahun 2003 Microsoft Thailand terpaksa menurunkan harga Windows dan Office dari sekitar 600 dolar AS ke 37 dolar AS. Microsoft Windows XP Starter Edition juga mulai dibuat untuk mengantisipasi program open source Thailand, karena takut negara-negara lain akan mengikuti jejak tetangga kita ini.
Urgensi kemandirian dalam teknologi informasi tidak dapat ditunda lagi. Teknologi Linux warisan UNIX yang sudah matang dan tersedia secara free tidak bisa hanya dianggap barang gratisan. Ada potensi besar di baliknya bila bangsa kita mau berusaha mempelajarinya dan mengembangkannnya. Open source bukan hanya jalan pintas untuk Cut-Budget, namun lebih dari itu. Ia adalah sarana untuk kemajuan dan kemandirian dalam teknologi informasi, baik dalam level sistem operasi maupun aplikasi.

Bangsa besar yang langganan medali emas berbagai olimpiade sains ini seharusnya bisa menjadi produsen dan pemimpin teknologi informasi dunia, bukan hanya pengguna. GNULinux dan teknologi open source adalah pintu gerbang menuju ke sana. Semangat mengejar ketertinggalan adalah langkah kaki menuju pintu gerbang tersebut.

YANG MUDA YANG BERSEMANGAT

Educators who embrace PCs as a new teaching tool and learning tool will be agents of change.
Bill Gates, CEO and founder of Microsoft

Agent of Change adalah predikat yang sering dilekatkan pada kaum muda. Umumnya para pemuda memiliki pikiran yang relatif lebih terbuka dibanding kaum yang sudah mapan. Kampus seharusnya menjadi wadah lahirnya inovasi-inovasi baru. Tidak hanya menjadi tempat mencari gelar agar mendapatkan pekerjaan yang layak.

Terbukti banyak inovasi atau teknologi yang banyak dipakai saat ini, lahir dari tangan kaum muda. Misalnya Facebook, yang pada awalnya dikembangkan untuk sarana komunikasi di kampus. Linux pun mulai dikembangkan ketika Linus Torvalds masih mahasiswa. NCSA-Mosaic sebagai browser pertama juga dikembangkan oleh para mahasiswa.

Selain sebagai agen pengubah, mereka juga dikenal memiliki semangat yang tinggi. Semangat ini sangat diperlukan untuk mendukung gagasan-gagasan baru mereka. Sebab, bila mereka tidak punya semangat menggebu, gagasan baru mereka akan kalah. Mereka punya tugas untuk membuktikan bahwa gagasan baru mereka memang lebih baik. Tanpa keuletan dan kegigihan, mereka tidak akan mati-matian memperjuangkan gagasan baru tersebut.

NCSA Mosaic yang dikembangkan oleh sekelompok mahasiswa University of Illinois at Urbana-Champaign adalah browser pertama dan satu-satunya waktu itu. Setelah lulus, mereka beramai-ramai mendirikan perusahaan dan bertekad membangun browser yang lebih modern dibandingkan Mosaic. Meski akhirnya produk browser tersebut dirilis sebagai Netscape pada tahun 1994, nama kodenya saat masih dalam tahap pengembangan adalah Mozilla. Ia merupakan akronim dari Mosaic Godzilla yang secara slang dapat diartikan sebagai Mosaic Killer.

Nah, ketika Netscape menjadi piranti lunak browser paling populer, Microsoft pun mengincarnya. Strategi awal Microsoft adalah membeli Netscape. Sayangnya, anak-anak muda Netscape yang masih punya idealisme selangit itu terang-terangan menolak tawaran Microsoft. Akhirnya Microsoft membeli browser dari perusahaan lain, yaitu Spyglass. Setelah dipoles sana-sini plus penambahan fitur, lahirlah Internet Explorer. Sialnya, tentu saja Spyglass melisensi teknologi browsernya dari NCSA Mosaic. Anda bisa membuktikannya dengan melihat menu Help-About pada Internet Explorer. Anda akan melihat tulisan, “Based on NCSA Mosaic…”.
Pemasaran Internet Explorer (IE) yang intensif dengan dibundel pada sistem operasi Windows langsung menyerang pangsa pasar Netscape. Muncullah anggapan bahwa Microsoft ingin memonopoli pasar browser dan mengendalikan HTML dan HTTP secara de-facto untuk mengeluarkan Netscape dari pasar server.

Strategi open source pada browser Netscape yang masih populer akhirnya berhasil membendung niat Microsoft untuk memonopoli browser. Pasar server pun sampai sekarang masih dikuasai Apache. Kolaborasi open source diharapkan mempercepat pengembangan dan perbaikan browser. Sehingga Microsoft IE akan tertinggal dan dapat dicegah agar tidak mendefinisikan HTML secara eksklusif. Strategi ini bekerja dengan baik. Terbukti, Mozilla lebih dulu memperkenalkan teknologi tabbed-browsing . Pengguna IE baru bisa menikmatinya pada versi 7.

Sayangnya, semangat kaum muda Indonesia masih banyak digunakan untuk tawuran atau demo. Padahal potensi mereka sangat besar bila diarahkan untuk melahirkan inovasi.

SEMANGAT YANG SEPERTI APA DAN BAGAIMANA?

Motivation produces movement…it is the movement which enables us to distinguish between the “quick” and the “dead”.
Nick Thornely (British author)

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).

Motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.

Semangat mengejar ketertinggalan berbasis open source dapat diarahkan pada tiga hal berikut:
· SEMANGAT UNTUK MEMBUKA MATA
Semangat membuka mata untuk melihat baik dan buruknya sebuah kemungkinan dari penggunaan software bajakan dan asli, propietary atau open source. Penggunaan software bajakan menjadikan pola konsumtif dalam menggunakan sistem operasi dan aplikasi yang tidak menyertakan source code telah memanjakan kita. Banyak pengguna masih terus memakainya tanpa tahu apa yang ada dibaliknya. Pola konsumtif tersebut sangat berbahaya dalam jangka panjang.

Akibat yang paling jelas adalah ketergantungan. Karena sudah terlalu terbiasa menggunakan produk tertentu, ada beberapa orang yang hanya bisa bekerja dengan produk tersebut. Apalagi bila teknologi dari produk yang dipakai bersifat tertutup (propietary). Artinya, kita tidak mengetahui cara kerja sistem dan apa saja yang dilakukan oleh sistem. Bila ada masalah, kita hanya bisa menunggu patch atau update.

Kita tidak bisa terlibat dalam pengembangannya. Selain itu, Anda tidak mempunyai pilihan lain jika suatu saat produsen menaikkan harga lisensi atau menghentikan dukungannya. Padahal kita punya potensi untuk menjadi produsen bila mau membuka mata akan adanya potensi besar di balik perangkat lunak open source.

· SEMANGAT UNTUK MEMBUKA HATI
Semangat membuka hati untuk menimbang masalah lisensi dan royalti. Bila kita ingin hasil karya kita dihargai, maka kita harus terlebih dahulu menghargai hasil karya orang lain. Bila tidak mau karya kita dibajak, ya jangan membajak karya orang lain. Pernahkah kita menanyakan pada hati kita masing-masing, bagaimana rasanya mempunyai karya yang dibajak beramai-ramai?
Patut disyukuri, masih banyak pengembang yang berlapang dada melegalkan “pembajakan” atas karyanya melalui lisensi open source. Bila tidak mampu membeli perangkat lunak asli propietary, mari kita gunakan hasil karya yang legal digunakan secara gratis. Meski gratis dan murah, hasil karya komunitas open source tidaklah murahan. Bahkan seringkali lebih berkualitas dan inovatif dibanding yang propietary. Dengan menggunakan open source, hati kita menjadi lapang. Tidak terisi oleh rasa bersalah karena membajak karya orang lain. Lebih lanjut, dada kita akan semakin lapang bila kita berbagi dan ikut memberikan kontribusi.

· SEMANGAT UNTUK MEMBUKA PIKIRAN
Akhirnya, bila mata dan hati sudah terbuka, kita lanjutkan dengan semangat membuka pikiran untuk menciptakan inovasi dan terobosan. Segala sesuatu yang diberikan secara gratis ini (open source) seharusnya digunakan untuk menciptakan sesuatu yang lebih kreatif dan bermanfaat lagi. Harus memberikan manfaat, bukan hanya berakhir di end-user.

AKHIRNYA, SEMUA INI HANYALAH TOOL

Really, I’m not out to destroy Microsoft. That will just be a completely
unintentional side effect.
Linus Torvalds, 2003

Baik perangkat keras maupun perangkat lunak, mereka hanyalah perkakas atau tool yang harus dikuasai. Bukan sebuah ideolagi apalagi sebuah agama yang harus dianut. Seorang pengguna atau apalagi seorang developer seharusnya independen terhadap peralatan. Tidak boleh memiliki fanatisme sempit atau mendewakan teknologi, sistem operasi, aplikasi, atau bahasa pemrograman tertentu. Apalagi sampai bergantung kepada salah satu vendornya. Seorang pengguna, dan terlebih lagi developer harus merdeka dari perangkat yang mereka gunakan. Mereka yang memerintah alat-alat tersebut untuk bekerja menghasilkan karya yang berguna bagi masyarakat luas.