Berkenalan dengan InfoLinux

Saya berkenalan dan jatuh cinta dengan Linux saat saya kelas dua SMU. Menurut saya, ini adalah hal yang jauh lebih menarik daripada Windows. Saya mulai bermain dengan partisi lagi dan sempat menghilangkan data karena putusnya listrik saat proses partisi sedang berjalan. Saya pun dimarahi ayah karena hilangnya data penting. Namun saya tidak kapok.

Linux yang pertama saya instal adalah RedHat 7.3 yang saya dapat dari InfoLinux edisi Juli 2002. Saya pun melakukan instalasi sendiri sesuai dengan petunjuk yang ada di InfoLinux. Ternyata Linux memiliki cara yang beda dalam memandang harddisk. Saya pun berkenalan dan dapat ilmu tentang mounting harddisk. Di Windows, proses ini dimudahkan dengan me-mount harddisk pada drive C, D, dan seterusnya secara otomatis. Sejak menginstal Linux pertama kali, saya selalu memilih partisi secara manual, sebab lebih fleksibel.

Tetapi saya kurang puas dengan RedHat 7.3 yang tidak bisa memainkan mp3. Beberapa waktu kemudian baru saya ketahui bahwa RedHat tidak menyertakan dukungan pada format mp3 karena codec mp3 sebenarnya memiliki lisensi yang tidak free. Saya pun mulai mencari distribusi lain yang mudah-mudahan mendukung format mp3. Kemudian saya beralih ke Suse 7.2 yang saya dapatkan dari rental CD setempat. Walaupun agak heran karena CD Linux tersedia di rental CD yang biasanya hanya menyediakan aplikasi dan games berbasis Windows, namun saya sangat senang. Karena bisa memainkan mp3, saya sempat menggunakannya selama beberapa bulan. Meski hanya untuk mengetik dan mendengar musik. Dan sedikit belajar mengetikkan perintah di terminal, mengikuti petunjuk dari InfoLinux.

Berikutnya saya sempat mencoba Lindows 3.02. Saya menyukai tampilannya yang dapat disetarakan dengan Windows. Selain itu, Lindows juga sudah menyertakan codec multimedia yang saya perlu. Namun tidak bertahan lama, karena aplikasi yang disertakan hanya sedikit. Saya gagal mendapatkan GUI dari instalasi Winbi alias Software RI dari InfoLinux Agustus 2002. Saya terus berusaha mempelajari Linux dari majalah InfoLinux maupun buku. Saya sempat mempelajari Bourne Again Shell (bash) lebih dalam dari buku yang menyertakan Trustix Merdeka sebagai bonus. Selain itu, saya juga berkenalan dengan Mandrake Linux dan filosofi free software dari buku berjudul “Be Linuxer with Mandrake Linux” yang menyertakan CD pertama Mandrake 8.0.

Berganti-ganti Distro

Saya pun mencari distro Linux mampu memenuhi kebutuhan saya, antara lain: tampilan menarik, bisa ditambah aplikasinya tanpa koneksi internet, harus bisa dikonfigurasi, lebih mudah lebih baik, dan mendukung perangkat keras yang saya miliki. Distro yang menyertakan codec multimedia secara langsung lebih saya sukai. Meskipun ini bukan sesuatu yang wajib. Saya menikmati proses menambahkan codec dan berbagai konfigurasi lainnya pada sistem yang akan saya gunakan sehari-hari.

Setelah menginstal suatu distribusi Linux, biasanya saya akan melakukan berbagai konfigurasi. Pertama, mengatur supaya semua perangkat keras dikenali dengan baik. Kedua, menambahkan codec multimedia bila tidak tersedia secara langsung. Ketiga, mengatur berbagai komponen desktop environment seperti icon, window decoration, panel,danshortcut apa saja yang perlu diletakkan di panel atau di desktop sesuai selera dan kebutuhan saya. Keempat, menambahkan aplikasi yang saya butuhkan dalam menggunakan komputer sehari-hari.

Sebagai tambahan, pada awal kemunculan flash-disk, saya menambahkan kriteria distro tersebut harus dapat mengenali flashdisk secara langsung. Namun, hal ini sudah terjawab dengan kernel 2.6 yang kita gunakan hingga sekarang. Distro yang sempat saya gunakan cukup lama adalah LormaLinux 4 dari InfoLinux Mei 2004, MandrakeLinux 10.0 yang saya kopi dari teman, Vector Linux, SAM Linux 2007 dan Linux Mint 4.

Distro-distro tersebut saya pilih karena mampu berjalan dengan baik pada perangkat keras saya. Komputer saya bukan komputer baru, maka yang saya pilih adalah distro yang mampu bekerja pada spesifikasi minimum, tapi memiliki tampilan yang indah dan mudah digunakan. Sebagai informasi, spesifikasi komputer saya adalah prosesor AMD Duron 950 MHz dengan 128MB RAM dan 30GB HDD (sangat menyedihkan, ya).

Biasanya saya akan berganti distro setelah beberapa bulan. Hal ini saya lakukan karena beberapa alasan. Pertama, saya bosan dengan tampilan distro yang saya gunakan, dan tidak dapat dikonfigurasi lagi dengan tampilan lain. Sebab, semua jenis icon, window decoration, dan komponendesktop environment lainyang tersedia sudah saya coba semua. Kedua, bisa jadi karena distro yang saya gunakan sudah terlalu kadaluarsa paket aplikasinya. Ketiga, distro tersebut kurang lengkap paket aplikasinya dan perlu effort yang cukup banyak untuk menambahkan aplikasi. Naskah testilinux ini saya kerjakan dengan KWord 1.6.2 yang dijalankan di atas KDE 3.5.6 pada distribusi Mandriva MCN Live Toronto yang sudah saya instal dan saya oprek dengan menambahkan paket aplikasi dari Fedora 6, 8, dan 9.

STIS, BPS, dan Skripsi Remaster Distro

Saya melanjutkan kuliah di Jurusan Komputasi Statistik di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (http://www.stis.ac.id) yang berstatus Ikatan Dinas dengan Badan Pusat Statistik (http://www.bps.go.id). Setelah melalui tahun pertama, saya lebih senang karena di jurusan Komputasi Statistik, proporsi mata kuliah komputer lebih banyak dibanding mata kuliah statistik. Saya memiliki ketertarikan khusus pada mata kuliah sistem operasi. Meski Linux juga disinggung, namun saya kurang puas.

Saya langsung bersedia ketika saya mendapat kesempatan untuk menyebarkan semangat Linux dan open source pada teman-teman. Sewaktu masih tingkat II, saya diminta teman-teman Himpunan Mahasiswa Komputasi (Komputasi.NET) untuk menjadi nara sumber pada seminar Linux dan open source yang akan mereka adakan pada 7 Oktober 2006, dihadiri oleh 250 mahasiswa jurusan Komputasi Statistik.

Saya merasa prihatin karena waktu itu sebagian besar materi komputasi yang diajarkan di kampus masih berbasis pada sistem operasi Windows. Misalnya penggunaan Visual Basic pada mata kuliah Pemrograman Visual dan SPSS pada mata kuliah Statistik. Padahal, sudah ada sistem operasi Linux yang lebih baik dan menghindarkan pembajakan dan ketergantungan pada vendor tertentu. Pada tingkat III, saya menuangkan keprihatinan ini dengan menulis karya ilmiah ( paper) berjudul “Urgensi Pemanfaatan GNU/Linux di Lingkungan STIS dan BPS”. Puji syukur alhamdulillah, karena paper tersebut berhasil meraih Juara II pada Lomba Karya Tulis Ilmiah dalam rangkaian acara Dies Natalis ke-49 Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, Agustus 2007 dan mendapat hadiah Rp 200.000,- . Saya memang meniatkannya salah satunya untuk mencari uang. Saya senang sekali mendapat uang berkat Linux.

Sebagai kelanjutan dari keprihatinan saya, pada tingkat IV saya akhirnya menyelesaikan skripsi berjudul “Pengembangan Distribusi GNU/Linux untuk Pemenuhan Kebutuhan Migrasi Sistem Komputer Badan Pusat Statistik dari Berbasis Windows Menjadi Berbasis GNU/Linux”. Hasil survei analisis kebutuhan sebagai tahap awal pengerjaan skripsi menunjukkan bahwa permasalahan yang paling banyak dialami dalam tiga bulan terakhir di BPS adalah serangan virus. Saya menawarkan solusi migrasi ke Linux untuk mengatasi masalah tersebut. Kebutuhan aplikasi di BPS dari kategori aplikasi perkantoran (pengolah kata, spreadsheet, presentasi), aplikasi pengolahan database, aplikasi untuk analisis statistik, aplikasi untuk pengembangan software, dan aplikasi pemetaan Statistik.

Kebutuhan BPS tersebut dipenuhi dengan me- remaster distro Kubuntu yang telah dimodifikasi. Modifikasi meliputi penambahan padanan aplikasi yang dibutuhkan, konfigurasi tampilan yang indah dan mudah digunakan, serta fitur-fitur kompatibilitas data. Padanan aplikasi yang saya paketkan antara lain OpenOffice sebagai pengganti Microsoft Office, Rkward dan Gretl sebagai pengganti SPSS, Gambas2 sebagai pengganti Visual Basic, Monodevelop sebagai pengganti Visual Studio .NET, CSPro dan EpiData yang dijalankan dengan WINE, dan sebagainya.

Konfigurasi tampilan memanfaatkan kbfx dan compiz-fusion untuk tampilan yang menarik yang digunakan sebagai penarik bagi calon pengguna yang merupakan pegawai BPS. Sedangkan fitur-fitur kompatibilitas data yang ditambahkan antara lain penambahan plug-in pada OpenOffice agar dapat membuka dan menyimpan dokumen dalam format Microsoft Office 2007. Selain itu juga disediakan tabel perbandingan fitur dari tiap padanan aplikasi yang disertakan dibandingkan dengan aplikasi yang biasa digunakan sebelumnya di Windows. Karena proses bisnis tidak boleh terhenti, maka disediakan juga penjelasan kemungkinan migrasi berbagai aplikasi custom yang terlanjur dibuat berbasis Windows.

Saya memilih Kubuntu 8.04 sebagai basis distro karena dukungan aplikasi yang mudah didapat dari DVD repositori yang saya pesan dari teman yang pergi ke pameran IGOS Summit 2. Selain itu, desktop KDE yang digunakan dalam Kubuntu lebih memudahkan calon pengguna yang terbiasa dengan Windows. Saya pun sibuk mempelajari Ubuntu dan Debian yang agak berbeda dengan distro RPM-based yang biasa saya gunakan sebelumya. Saya menggunakan aplikasi remastersys dan metode manual dari How To Transform your Installation Manually Into Live CD/DVD dari capink di Ubuntuforum untuk proses remasternya. Ternyata aplikasi remastersys menggunakan cara yang dipakai oleh capink. Distro hasil remaster ini saya namakan GNU/Linux Dynamix sebagai antonim dari statis. Harapan saya, dengan menggunakan Linux, BPS dapat berkembang ke arah yang lebih baik dan tidak statis seperti ilmu statistik.

Pada saat seminar skripsi, sempat ada masalah karena demo distro saya tidak dapat tampil di layar proyeksi. Saya sempat menduga masalahnya berasal dari merk proyektor yang kurang didukung oleh Linux. Sebab saya sudah mengupdate driver NVIDIA GeForce FX 5200 dari laptop yang saya pinjam dari 169.12 ke 174.09. Ternyata masalahnya adalah VGA Card yang kurang didukung oleh Linux. Sebab, teman-teman saya yang menggunakan Linux tidak mengalami masalah dengan proyektor karena menggunakan VGA Card dari Intel. Akhirnya saya mencari pinjaman Laptop yang menggunakan VGA Card dari Intel untuk sidang skripsi. Saya menyimpulkan bahwa VGA Card Intel didukung oleh Linux dengan lebih baik karena Intel merupakan anggota platinum sekaligus salah satu pendiri The Linux Foundation .

Alhamdulillah saat sidang skripsi desktop 3D dapat tampil dengan baik di layar proyeksi. Saya mendapat permintaan revisi dari penguji berupa data yang tidak akurat dalam membandingkan Windows dan Linux. Sebab, saya hanya menunjukkan kelemahan Windows dan keunggulan Linux saja. Namun akhirnya saya dapat menyelesaikannya dengan data akurat dari David A. Wheeler (http://www.dwheeler.com/oss_fs_why.html). Penguji saya pun menyatakan bahwa dengan data akurat ini, skripsi saya diharapkan mendapat tanggapan positif untuk dipresentasikan di BPS Pusat. Skripsi saya pun diberi nilai A. Alhamdulillah skripsi saya juga sudah terdaftar untuk dipresentasikan di Konferensi Nasional Sistem dan Informatika di Bali, 15 November 2008. KNS&I tersebut diselenggarakan oleh STIKOM Bali (http://knsi.stikom-bali.ac.id).

Suka Duka dengan Linux dan Impian Saya Selanjutnya

Linux memberikan berbagai manfaat untuk saya. Pengguna Linux tidak hanya menjadi pengguna pasif, namun dapat ikut berpartisipasi mengembangkan. Baik hanya berupa ide, melaporkan bug, atau jadi developer. Keuntungan dan keindahan lainnya dari free software adalah pengguna dapat mengetahui cara kerja dasar, bukan hanya kulitnya saja. Sehingga seorang end user dapat saja berkembang menjadi developer .

Suka duka saya dengan Linux seringkali berhubungan dengan masalah perangkat keras. Seringkali saya harus mencari dan mengakali supaya Linux yang saya miliki dapat dijalankan pada PC kelas rendah. Sebab, hanya itu yang saya miliki. Saya berusaha keras untuk tidak menggunakan Windows kalau tidak terpaksa. Saya hanya menggunakan Windows untuk mencetak skripsi. Sebab dukungan driver printer di Linux masih kurang bagus. PC yang saya instal Linux pun hanya cukup untuk mengetik. Proses pengembangan distro pada skripsi saya pun semuanya menggunakan komputer pinjaman. Sebab, setidaknya harus menggunakan Pentium 4 yang memiliki dukungan 3D pada VGA Cardnya. Total ada satu PC dan dua Laptop milik teman saya yang sempat saya gunakan untuk proses remaster. Sebab, komputer yang saya pinjam tidak dapat saya gunakan selama saya mau. Tentu pemilik komputer yang bersangkutan juga ingin menggunakannya. Yang paling mengharukan adalah ketika saya harus menenteng PC teman saya di bus dari rumah kontrakannya di Cengkareng ke tempat tinggal saya di Cibubur untuk persiapan sidang skripsi.

IMG_0043

Saya juga ingin menulis buku mengenai Linux, baik buku teks maupun tutorial. Sementara proyek jangka panjang yang masih memerlukan pembelajaran lebih lanjut adalah pengembangan distro dan desktop environment . Saya ingin terus mengembangkan distro dari skripsi saya yang masih memiliki banyak kekurangan dan hanya berupa remaster. Selain itu, saya ingin Linux memiliki dekstop environment yang sangat mudah digunakan, namun sama sekali tidak memiliki kemiripan atau meniru sistem operasi lain (MacOS atau Windows). Sehingga Linux memiliki tampilan independen yang menjadi ciri khas Linux.

Tulisan ini dimuat di Majalah InfoLINUX edisi Januari 2009. Yang baru saja Anda baca adalah versi asli dari saya, yang belum diedit oleh redaksi InfoLINUX. Alhamdulillah untuk rencana menulis buku tentang Linux sudah terbit satu. Yaitu Berbisnis Software Gratis: http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792757477.