Balada Microsoft Office 2010

β€œJangan mengeluh, bekerja saja lebih keras!”

Randy Pausch, Ph.D

Terima kasih kepada Uda Akmal Setiawan yang statusnya telah menggerakkan saya untuk membuat tulisan ini. Terima kasih kepada Honey Lemon (tulisan ini sekaligus menjadi salah satu kado dari saya di usianya yang ke-25, Miladiyyah) atas berbagai diskusi dan pandangan alternatif. Kami sering berdiskusi mengenai berbagai hal hingga larut malam….

Kita mulai dari mana ini…?

Word Processor alias Pengolah Kata adalah fungsi yang kita butuhkan dalam mendukung pekerjaan sehari-hari. Wujudnya adalah sebuah program komputer yang tugasnya memudahkan kita dalam mengetik dan menyimpan (serta berbagi) hasilnya secara digital.

Nah, banyak programmer/developer telah mengembangkan program tersebut. Banyak pula yang kini memaketkannya dengan program pengolah lembar kerja (Spreadsheet) dan pembuat presentasi dan lainnya dengan judul Office Suite atau Productivity Suite.

Alkisah, BPS (Badan Pusat Statistik) membeli lisensi Microsoft Office 2010 Plus sejumlah 5 (lima) lisensi untuk setiap kantor propinsi dan 1 (satu) lisensi untuk setiap kantor kabupaten. Sejauh ini belum ada informasi jumlah lisensi yang dibeli di Pusat. Membeli lisensi bisa dikatakan tindakan elegan. Hal ini bisa dibilang juga sebagai tindakan edukatif: edukasi terhadap BPS Provinsi dan Kabupaten bahwa yang namanya lisensi ya harus dibayar dan dibeli. Sebuah tindakan penuh tanggung-jawab juga. BPS Pusat bertanggung-jawab atas lisensi yang seharusnya dibayar untuk pemakaian Microsoft Office di provinsi dan kabupaten. Bagaimanapun biaya lisensi itu digunakan untuk memberi makan ribuan pegawai Microsoft dan keluarganya.

Lha komputernya kan lebih dari itu? Ya, tentukan prioritas lah. Bisa berdasarkan jabatan. Jadi, para pimpinan yang dimanjakan dengan Office2010–sejenak teringat dengan ide Pak Tandjung untuk memanjakan Eselon 3 ke atas dengan Microsoft Office, sedangkan Eselon 3 sampai staf dikasih OpenOffice.org–. Pilihan lain adalah prioritas berdasarkan pekerjaan. Staf lebih banyak bekerja daripada pimpinan kan? Menurut saya, Bagian Tata Usaha dan Keuangan tentunya adalah bagian yang paling banyak menggunakan Word dan Excel. Dan ada pilihan ketiga: memasangnya di semua komputer dan melanggar lisensi (sangat tidak dianjurkan).

Sebuah organisasi berhak menetapkan aturan/kebijakan mengenai program apa yang digunakan di perangkat yang dibiayai oleh anggaran organisasi. Departemen IT suatu organisasi seharusnya mempunyai prosedur dalam penentuan kebijakan tersebut. Artinya, perlu dilakukan penerawangan sebelum membuat kebijakan.

Pertimbangan apa saja yang perlu diambil ketika memilih Office Suite?

  1. Fitur yang diperlukan/Fungsionalitas: seberapa kompleks dokumen yang mau dibuat? apakah Anda memerlukan fitur-fitur Advance seperti Thesaurus atau Macro?
  2. Kemudahan Penggunaan: berapa lama waktu yang diperlukan sejak pertama bertemu sampai bisa menggunakan aplikasi secara efektif?
  3. Harga/Biaya: berapa dollar? (sudah jelas)
  4. Support/Dukungan: apakah pembuat program siap bertanggung jawab dan bertindak cepat jika ada masalah dengan programnya?
  5. Pangsa Pasar: sebanyak apa teman/kolega Anda menggunakan aplikasi yang sama?
  6. Perawatan/Kesinambungan/Continuity: apakah produk ini akan tetap ada dan dikembangkan sampai 20 tahun ke depan? karena BPS sepertinya masih ada sampai 20 tahun ke depan…
  7. Performa: seberapa cepat dijalankan… (sudah jelas)
  8. Skalabilitas: apakah tersedia versi mobile? apakah tersedia untuk sistem operasi lain? Siapa tahu suatu saat BPS mau migrasi ke Apple Mac klo duitnya udah tambah banyak…. Laptop dinasnya boleh lah MacBook Air.
  9. Fleksibilitas/Kustomisasi: apakah ada dukungan plugin/ekstension? apakah kita bisa menambahkan fitur yang belum ada?
  10. Isu Keamanan: apakah aman dari virus? Untuk aplikasi Office, terutama virus Macro atau virus yang menghapus dokumen…
  11. Isu Legalitas: apakah memenuhi lisensi yang dipersyaratkan oleh pembuat program?
  12. Interoperabilitas: bagaimana kemampuannya dalam bekerja sama/bertukar data dengan program lain yang serupa, dengan program yang sama namun berbeda versi, dengan program yang sama di sistem operasi/platform lain?

Format dokumen adalah pertimbangan yang cukup penting. Mengapa setiap program membuat format dokumen masing-masing? Apakah ini adalah hal yang baik? Bagi pembuat program, ya. Hal ini akan membuat pengguna terkunci dan harus terus menggunakan program tersebut. Karena hanya program tersebut yang bisa membuka format dokumen itu. Tidak, bagi konsumen. Pengguna tidak bebas menentukan mau pakai program apa.

Standar terbuka adalah hal yang penting. Bayangkan bila data penting Anda tersimpan dalam format tertentu yang hanya bisa dibuka oleh aplikasi tertentu. Apa yang akan Anda lakukan bila beberapa tahun kemudian aplikasi tersebut tidak lagi tersedia, atau format lama tidak lagi didukung? Nah, standar terbuka memungkinkan formatnya dapat dibuka oleh aplikasi apa saja. Sebab, tersedia spesifikasi dan source code implementasi format tersebut. Bahkan setiap orang dapat membuat aplikasi sendiri menggunakan format penyimpanan tersebut. Contohnya adalah Open Document Format (ODF) yang telah terdaftar sebagai standar ISO. Tidak ada masalah dalam pertukaran data karena menggunakan penyimpanan dengan format standar terbuka.

Format .doc dan .docx telah menjadi format dokumen de facto sampai saat ini. Format ini banyak dipakai dengan alasan teman dan kolega juga memakai format dokumen yang sama. Mudahnya pembajakan juga membantu tersebarnya format dokumen ini. Namun secara de jure, saat ini banyak organisasi dan pemerintahan mulai mengkampanyekan penggunaan format dokumen standar terbuka demi keselamatan data dalam jangka panjang.

Setelah mendaftar apa saja yang perlu dipertimbangkan, mari kita periksa alternatif yang ada di pasar saat ini (kecuali Anda ingin membuat Office Suite sendiri–kemungkinan ini selalu terbuka). Supaya artikel ini tidak terlalu panjang, saya tidak akan membahasnya satu per satu. Silahkan cek sendiri dulu. Nanti kapan-kapan ada waktu, bolehlah kita bahas panjang-lebar-luas. (In Alphabetical Order ya, biar nggak pilih kasih)

AbiWord

Corel WordPerfect Office

IBM Lotus Symphony (recomended)

Latex – Lyx

Libre Office

Microsoft Office

OpenOffice.org

OpenOffice.org Derivatives

Ulteo Office

OxygenOffice Professional

NeoOffice

Online Office Suite:

GoogleDocs

Zoho

ThinkFree

UlteoOffice

Kebiasaan menjadi hal yang menentukan juga. Kalau sudah terbiasa menggunakan Microsoft Word, memang agak susah mau berpaling ke lain word processor lain. Mungkin Microsoft Office menggunakan sesuatu yang bersifat adiktif, klenik, dan mistis dalam programnya sampai-sampai orang begitu kesengsem dan melupakan ada banyak pilihan lain selain Microsoft Office? Atau tampilannya didesain dengan memasukkan unsur-unsur hipnotis? Seperti air kemasan dan air ledeng yang direbus sendiri. Saya rasa sama baiknya, sama menghilangkan hausnya… tapi tiap orang punya pilihannya sendiri yang diambil berdasarkan situasi dan kondisinya saat itu.

Bagaimanapun itu semua hanyalah tools. Itu semua adalah pilihan. Anda bebas memilih. Saya lebih suka mengambil posisi independen terhadap tools. Hal yang lebih penting adalah tetap produktif dan kreatif dengan tools apa saja. Mau pakai kerbau, mau pake traktor, mau pake cangkul, yang penting saya tetap bisa membajak sawah.

Syahdan, menurut menurut hemat saya, daripada dipakai untuk membeli lisensi Microsoft Office 2010 Plus seharga sekitar USD 499, mendingan dipakai buat upgrade RAM dan video card biar bisa maen PC games gokil-gokilan. Masih ada sisanya pula buat beli monitor LCD segede alaihim. Tapi kan ini perhitungan orang yang mumet-irit kayak saya.

Bagaimana menurut Anda? Saya mau sarapan dulu nih setelah menyelesaikan tulisan ini. Silahkan berikan komentar…. Nanti saya lihat komentarnya setelah sarapan….

Artikel ini ditulis dengan AbiWord 2.8.2 di atas platform Ubuntu Sabily 10.04.1.

Visit Statiscians Go Open Source at http://bgos.web.id