Sebagaimana open source, blogging adalah sesuatu yang dilakukan orang untuk dirinya sendiri, tanpa biaya, dan dengan senang hati. Sebagaimana hacker (dalam pengertian sebenarnya, bukan dalam pengertian cracker) open source, para blogger kerap bersaing dengan para profesional yang bekerja untuk uang, dan mereka seringkali menang. Metode yang digunakan untuk mengukur kualitas pun sama: teori Darwin tentang seleksi (survival of the fittest). Penggunaan teori ini tidak membenarkan bahwa manusia berasal dari monyet. Berbagai perusahaan memastikan kualitas melalui seperangkat aturan yang mencegah para pegawai untuk berbuat seenaknya. Akan tetapi, hal tersebut tidak diperlukan jika mereka dan pembaca dan audiens dapat berkomunikasi satu sama lain. Mereka hanya perlu membuat apa yang mereka mau, yang memiliki kualitas baik akan tersebar, dan yang buruk akan diabaikan. Dan dalam kedua kasus, masukan dari audiens akan meningkatkan kualitas terbaik.

Kesamaan lain yang ada adalah keduanya memanfaatkan web. Banyak orang ingin melalukan hal besar tanpa memerlukan biaya, namun, sebelum adanya web, sulit sekali untuk menyapa audiens atau berkolaborasi dengan hacker lainnya dalam suatu proyek open source.

Kesalahan yang sebenarnya adalah pemaknaan blog oleh sebagian besar media. Blogger tidak mereka artikan sebagai seseorang yang menulis di web dalam format weblog, melainkan siapa saja yang mempublikasikan tulisan secara online. Dan menurut Ahmad Dhani dalam sebuah acara infotainment, blog adalah hasil pekerjaan orang iseng yang sama sekali tidak penting (Mas Ahmad Dhani, saran saya, Anda harus lebih banyak membaca dan belajar). Hal ini akan menjadi masalah karena web akan menjadi media standar untuk publikasi. Bagaimana bila kata blogger kita ganti dengan writer?

Ada satu poin penting yang masih dipercaya oleh pemilik media cetak, yaitu bahwa blog pada umumnya tidak ada pembacanya. Pada sistem lama (sistem channel), blog seperti ini adalah blog dengan kualitas standar. Tapi kenyataannya, banyak blog yang mempunyai banyak pembaca setia. Dan ini adalah blog dengan kualitas excelent. Jadi, media cetak tidak bersaing dengan blog rata-rata, melainkan bersaing dengan blog terbaik. Dan sebagaimana Microsoft, mereka kalah.

Saya mengetahuinya dari pengalaman saya sendiri sebagai pembaca. Saya lebih suka membaca review dari seorang penulis yang saya kenal kredibilitasnya dibandingkan membacanya dari situs berita. Atau saya akan membaca beberapa review untuk mengimbangi satu berita yang saya baca. Misalnya, ketika ada berita peluncuran OpenOffice.org 3.0,  meskipun disinggung juga mengenai fitur-fitur barunya, membaca review seorang “online writer” mengenai hal ini akan banyak membantu karena biasanya mereka menuliskan banyak hal yang tidak dituliskan oleh media cetak. Para “online writer” ini pun biasanya menuliskan pendapatnya dengan lebih jujur, lugas, dan dapat dipastikan tulisan mereka tidak mengalami proses editing oleh para editor.

Meskipun sebagian besar media cetak saat ini memiliki situs web, namun seringkali saya tidak menemukan artikel yang ingin saya baca dari halaman depan situs web-nya. Melainkan menggunakan situs pencari semacam Google, atau memanfaatkan aggregator seperti Google News, Slashdot, atau Delicious. Situs Kompas, misalnya, adalah kumpulan artikel dari orang-orang yang bekerja untuk Kompas. Sedangkan Delicious berisi kumpulan artikel yang menarik. Saya lebih tertarik membaca artikel yang saya dapatkan dari Delicious.

Selain itu sebagian besar artikel di media cetak membosankan. Tidak ada hal baru yang dapat kita pelajari. Yang ada hanyalah data-data yang disusun agar enak dibaca. Tidak ada hal yang baru dalam berita buruk; selain nama dan tempat terjadinya peristiwa. Misalnya, seorang anak diculik, seorang gadis diperkosa, kecelakaan kereta, dan sebagainya.

Sebagaimana di dunia software, ketika para profesional menghasilkan sesuatu, tidak mengejutkan bila para amatir dapat melakukannya dengan lebih baik. Karena para profesional hidup bergantung pada channel, mereka juga dapat mati karena channel. Bila bergantung pada sistem oligopoli, Anda akan tenggelam dalam kebiasaan buruk yang melenakan, sehingga akan sulit menghadapi persaingan yang muncul tiba-tiba. Penulis novel yang bagus pun, biasanya tidak menulis untuk mencari uang; tapi menulis dari hati untuk memuaskan dirinya sendiri. Tidak mengherankan kalau mereka mendapatkan Nobel atau Pulitzer sementara para penulis “bayaran” hanya mendapatkan sejumlah uang yang ditransfer ke rekening mereka untuk setiap tulisan yang dibuat.

Kantor sebagai Pemisah antara Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan: Sesuatu yang Dapat Meningkatkan Produktivitas?

Kemiripan lain dari blog dan software open source adalah sebagian besar dari blog dan software open source dibuat oleh mereka yang bekerja di rumah. Hal ini barangkali tidak terlihat mengejutkan. Namun, ini merupakan sesuatu yang tidak lazim. Analogi yang sama adalah bahwa pesawat yang dihasilkan di rumah dapat menembak sebuah F-18. Berbagai perusahaan dan organisasi membangun gedung dengan biaya yang tidak sedikit dengan satu tujuan: untuk menyediakan tempat untuk bekerja. Tapi orang yang bekerja di rumah, sebagai sebuah tempat yang tidak didesain untuk bekerja, ternyata malah lebih produktif. Benarkah?

Kantor pada umumnya merupakan tempat yang menyedihkan untuk menyelesaikan pekerjaan. Sebagian besar penyebabnya adalah berbagai kriteria yang berhubungan dengan profesionalisme. Kantor yang bersih diharapkan mendorong efisiensi. Namun, mendorong efisiensi tidaklah sama dengan mendorong pekerja untuk benar-benar bekerja secara efisien.

Banyak hal berbeda diterapkan pada sistem startup. Biasanya sistem ini dimulai di sebuah apartemen atau rumah. Calon startup dapat memilih dan membeli kursi dan meja yang mereka suka. Mereka dapat bekerja pada jam yang tidak lazim dan mengenakan pakaian yang nyaman dan kasual sekali bagi mereka. Tanpa harus mengenakan kemeja atau dasi. Mereka dapat melihat apapun di internet tanpa diganggu oleh peringatan ”Anda mengakses sesuatu yang tidak berhubungan dengan pekerjaan”. Pembicaraan dengan gaya formal dapat diganti dengan humor yang lebih santai. Sebuah perusahaan atau organisasi pada tahap ini bisa menjadi kondisi yang paling produktif.

Barangkali ini bukan merupakan kebetulan. Namun ini juga dapat berarti bahwa beberapa aspek profesionalisme memang seuatu yang tidak menguntungkan.

Hal yang menyumbangkan pada kerusakan moral paling buruk pada sistem kantor tradisional adalah bahwa karyawan harus berada di kantor pada jam yang sudah ditentukan. Biasanya ada beberapa orang yang memang harus berada di kantor, namun alasan terbesar bahwa sebagian besar karyawan harus bekerja pada jam tertentu adalah karena perusahaan tidak mampu mengukur produktivitas karyawannya.

 

Bagian 1 Bagian 2 Bagian 3 Bagian 4