Ide pokok di balik adanya jam kantor adalah jika kita tidak bisa membuat orang bekerja, setidaknya kita mencegah mereka untuk bersenang-senang. Jika mereka harus berada di dalam kantor dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore misalnya, dan mereka tidak boleh melakukan kegiatan selain bekerja, maka dapat dipastikan meerka akan bekerja. Demikian teorinya. Kenyataannya banyak dari mereka justru tidak bekerja dan tidak juga bersenang-senang.

Jika Anda dapat mengukur kinerja seseorang, banyak perusahaan tidak perlu memiliki jam kerja yang tetap. Anda hanya perlu mengatakan: ini yang harus anda kerjakan. Kerjakanlah kapan pun anda mau, dan di mana saja anda suka. Jika pekerjaan anda memerlukan pertemuan dengan seseorang, maka anda perlu berada di sini sesuai waktu yang diperlukan. Sisanya terserah anda.

Hal ini terlihat seperti tidak mungkin alias mustahil. Namun inilah yang disampaikan Paul Graham kepada orang yang akan bekerja di perusahaannya.  Tidak ada patokan mengenai jam kerja. Paul Graham sendiri tidak pernah muncul di kantor sebelum jam 11. Namun ini bukan berarti bahwa kita memberi kelonggaran atau berbaik hati kepada karyawan. Inti sebenarnya dari perkataan tersebut adalah: jika Anda bekerja di sini, kami berharap anda menyeleaikan banyak hal. Jangan mengelabui kami hanya dengan seringnya Anda hadir di sini.

Permasalahan lain yang muncul adalah seseorang yang berpura-pura sedang bekerja akan mengganggu mereka yang sedang benar-benar bekerja. Diyakini, hal inilah yang menyebabkan sebuah organisasi besar memerlukan banyak sekali rapat. Sebuah organisasi besar biasanya memiliki tingkat pencapaian per kapita yang rendah. Sementara itu, mereka harus tetap berada di tempat selama delapan jam setiap hari. Ketika banyak waktu dihabiskan untuk pencapaian yang rendah, diperlukan sesuatu untuk mengatasinya. Dan rapat biasanya menjadi mekanisme yang dilakukan untuk menutupi kekurangannya.

Paul Graham misalnya, sempat bekerja selama setahun dengan model kantor tradisional dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Dia masih ingat dengan baik perasaan nyaman yang aneh setiap kali diadakan rapat. Ia merasa sangat nyaman dan waspada, bahwa ia dibayar untuk membuat program (programming). Ia membayangkannya seolah ada mesin di mejanya yang mengeluarkan uang setiap menit entah apapun yang sedang dia kerjakan. Termasuk ketika dia sedang berada di kamar mandi. Namun karena mesin bayangan ini selalu ada, ia merasa harus selalu bekerja setiap saat. Dan rapat merupakan hal yang sangat menyenangkan dan melegakan. Sebab, setiap menit dalam rapat dihitung sebagai bekerja, seperti saat dia sedang menulis program. Tetapi rapat begitu mudah dilakukan. Cukup duduk manis dan terlihat memperhatikan apa yang sedang dibahas.

Kantor Google di New York

Anda dapat melihat ketergantungan pada hal ini dengan menghilangkannya seketika. Misalnya, bagi perusahaan besar, dapat dilakukan percobaan sebagai berikut. Tentukanlah sebuah hari yang disebut sebagai hari bekerja. Pada hari itu, setiap orang diharuskan bekerja selama delapan jam, tanpa melakukan komunikasi dengan orang lain. Artinya mereka harus mencari pekerjaan yang menghabiskan waktu delapan jam dan dapat mereka kerjakan sendiri tanpa istirahat. Adakah yang bisa melakukannya?

Masalah lainnya adalah seringkali mereka yang pura-pura bekerja terlihat lebih baik dibanding mereka yang benar-benar bekerja. Ketika menulis program, Paul Graham menghabiskan waktu untuk berpikir saja hampir sama dengan waktu yang dihabiskannya untuk menulis program di komputer. Sisanya ia habiskan dengan duduk minum the atau berjalan-jalan di sekitar ruang kerjanya. Dan inilah waktu yang kritis, ketika ide-ide bermunculan. Dan ia masih merasa bersalah ketika melakukannya di kebanyakan kantor, di mana sebagian besar pegawai yang lain terlihat sibuk.

Adalah hal yang sulit untuk menunjukkan kesalahan yang sudah biasa dilakukan sampai ada contoh lain yang dapat diperbandingkan. Dan itulah satu alasan mengapa open source dan blogging dalam beberapa hal menjadi sangat penting. Mereka menunjukkan kepada kita bagaimana bekerja yang sebenarnya, atau minimal, bagaimana cara bekerja tanpa merasa tersiksa.

Contoh yang lain adalah dengan bagaimana penulis skenario Hollywood bekerja. Berbeda dengan para pekerja film yang lain (seperti sutradara, produser, editor, dan lainnya), penulis skenario adalah seseorang yang paling penting dalam sebuah film karena dialah “otak” dari film itu. Memang pada akhirnya keberhasilan sebuah film (yang diukur dengan hukum ekonomi melalui pendapatan yang tinggi dalam bisnis film) dipengaruhi banyak hal, misalnya pemeran utamanya. Tapi biasanya film dengan cerita (skenario) yang baik selalu mendapat penonton yang banyak.

Penulis skenario Hollywood tidak pernah punya ruangan di rumah produksi, bahkan di studio sebesar MGM atau Warner Bros. Mereka tidak pernah kelihatan berkeliaran di Hollywood bila tidak sedang diminta datang untuk acara tertentu seperti rapat produksi, pemutaran perdana, atau Academy Award. Lalu, dimanakah kita bisa menemukan mereka? Carilah mereka di pulau-pulau indah seperti Hawaii, atau di pegunungan yang menyenangkan seperti Alpen. Yang bisa dijadikan petunjuk untuk menemukan mereka adalah: mereka membawa laptop. Mereka bekerja dari tempat yang mereka senangi untuk menuliskan skenario sebuah film yang akan mempertaruhkan ratusan juta dolar sambil main ski atau menari Hula-Hula. Lalu, siapakah yang membiayai “liburan” mereka itu? Produser, tentu saja.

Produser film Indonesia (sayangnya hanya beberapa saja) sudah mulai berani melakukan hal yang sama pada penulis skenario mereka. Tapi, para produser sinetron masih memberikan tekanan kerja dan deadline yang nyaris tidak manusiawi. Hasilnya bisa dilihat. Film yang laris dan bagus biasanya ditulis oleh penulis skenario yang tidak depresi dengan pekerjaan mereka.

Saat ini, Paul Graham sedang mendanai delapan startup. Seorang temannya terkejut ketika mengetahui bahwa mereka disuruh tinggal di apartemen mana pun sebagai kantor. Dan ia tidak melakukannya untuk menghemat biaya. Akan tetapi, ia melakukannya agar mereka membuat software yang berkualitas. Bekerja dalam lingkungan yang informal akan membuat mereka mengerjakannya dengan benar tanpa menyadarinya. Ketika Anda memasuki sebuah kantor, maka pekerjaan dan kehidupan pun terpisah.

Salah satu kunci profesionalisme adalah terpisahnya pekerjaan dari kehidupan pribadi. Dan ini saya yakini (dalam beberapa hal) sebagai sesuatu yang salah.

Bagian 1 Bagian 2 Bagian 3 Bagian 4