Membahas Kembali Start-Up dan Bottom-Up

Pelajaran besar yang lain dari open source dan blogging adalah bahwa ide dapat muncul dari bawah ke atas; tidak melulu dari atas ke bawah. Orang-orang membuat sesuatu yang mereka inginkan, dan hasil yang berkualitas akan tetap eksis.

Anda tidak salah bila ini terdengar familiar. Ini adalah prinsip ekonomi pasar. Ironisnya, meskipun open source dan blogging dikerjakan secara free, justru terlihat lebih mirip dengan ekonomi pasar. Sementara sebagian besar perusahaan, dengan berbagai pernyataan mengenai nilai dari pasar bebas, malah berjalan seperti negara komunis secara internal.

Ada dua wewenang yang bersama-sama berperan dalam perancangan: apa yang harus dilakukan selanjutnya, dan menjaga kualitas. Pada sistem channel tradisional, keduanya mengalir dari atas ke bawah. Misalnya, seorang editor sebuah surat kabar akan menugaskan reporter untuk meliput dan menulis suatu hal lalu mengedit hasil tulisan reporternya.

Open souce dan blogging menunjukkan bahwa berbagai hal tidak harus berjalan dengan cara itu. Ide-ide dan bahkan kontrol kualitas pun dapat mengalir dari bawah ke atas. Dari bawahan ke pimpinan. Dan dalam kedua kasus tersebut, hasilnya tidak hanya dapat diterima, namun malah lebih baik. Contohnya adalah software open source yang lebih reliabel karena sifatnya yang open source; setiap orang dapat menemukan kesalahan dalam kode pogram.

Hal yang sama berlaku pula dalam dunia tulisan. Ketika sebuah esai yang dipajang di web telah dibaca oleh ribuan orang, penulisnya bisa merasa percaya diri. Jika belum ada yang membaca, rasanya seperti merilis program tanpa melakukan pengujian. Selain itu, menulis secara online dapat dilakukan kapan saja dan tentang apa saja. Sedangkan jika kita mengirim artikel ke suatu media cetak, tulisan itu mungkin tidak akan pernah dibaca orang karena tidak dimuat.

Banyak karyawan ingin melakukan sesuatu yang hebat bagi perusahaannya, namun lebih sering pihak manajemen tidak mengizinkannya. Berapa kali Anda mendengar mengenai kasus seperti ini? Kasus yang paling populer barangkali adalah Steve Wozniak. Saat itu, ia masih menjadi karyawan Hewlet-Packard (HP) dan mengajukan diri untuk membangun mikrokomputer. Namun, idenya ditolak oleh perusahaannya. Akhirnya ia pun keluar dari HP dan menjadi arsitek komputer Apple Macintosh bersama Steve Jobs. Saat ini, komputer dan sistem operasi Mac adalah sesuatu yang eksklusif dan “wah”. Bahkan, ada yang menyatakan bahwa bila seseorang pernah mencoba Mac, dia pasti ingin memilikinya. Atau setidaknya, bila tidak terjangkau, ia akan berangan-angan untuk memilikinya suatu saat nanti.

Hal seperti ini sering terjadi. Akan tetapi, biasanya kita tidak mendengar beritanya. Sebab, untuk membuktikan kebenaran pernyataannya, kadang-kadang seseorang harus keluar dan mendirikan perusahaannya sendiri, seperti yang dilakukan Wozniak.

Seperti apakah wujud bisnis di masa depan ketika bisnis telah menyerap pelajaran dari open source dan blogging? Hambatan terbesar yang mencegah kita melihat masa depan bisnis adalah asumsi bahwa orang yang bekerja untuk anda harus menjadi pegawai atau karyawan anda. Tapi pikirkan apa yang terjadi sebenarnya: perusahaan mempunyai sejumlah uang, lalu membayarkannya kepada para karyawan dengan harapan para karyawan akan membuat sesuatu yang bernilai lebih besar daripada bayaran yang mereka terima. Padahal ada jalan lain untuk mengatur hubungan tersebut. Sebagai ganti membayar karyawan dengan gaji, mengapa tidak anda bayar dengan investasi? Kemudian, sebagai ganti atas kehadiran mereka di kantor anda untuk mengerjakan proyek milik Anda, mereka dapat bekerja pada proyek-proyek mereka sendiri di mana saja mereka mau.

Ada beberapa permasalahan dalam hubungan karyawan-atasan. Misalnya, sebagai karyawan, saya akan bekerja sebaik-baiknya sesuai permintaan pelanggan. Namun saya tidak suka diberitahu mengenai apa yang harus saya kerjakan. Menjadi atasan juga terkadang bisa membuat anda frustrasi. Seringkali lebih mudah mengerjakan sendiri segalanya daripada meminta orang lain mengerjakannya.

Contoh paling jelas bahwa sistem karyawan atau pegawai bukanlah hubungan ekonomis murni yaitu kasus ketika sebuah perusahaan dituntut di pengadilan karena memecat karyawannya. Dalam suatu hubungan ekonomis murni, anda bebas melakukan apa saja. Jika anda ingin berhenti membeli kayu dari supplier A dan beralih membelinya ke supplier B, anda tidak perlu menjelaskan alasannya. Tidak ada yang bisa menyalahkan anda karena tidak adil kepada supplier. Keadilan (secara hukum) menunjukkan akibat dari suatu ikatan paternal bahwa tidak ada transaksi atau hubungan yang setara di sana.

Sebagian besar aturan hukum bagi pengusaha berisi atau bertujuan untuk melindungi hak-hak karyawannya. Tapi jangan mengharapkan sesuatu tanpa imbal balik yang serupa. Jadi jangan berharap pengusaha atau pemilik perusahaan tempat anda bekerja mempunyai semacam tanggung jawab paternal (layaknya seorang ayah), kecuali anda sebagai karyawan akan dianggap sebagai anak-anaknya.

Ada hubungan yang lebih baik, yaitu investor-founder. Paul Graham bisa melihat kerugian pada hubungan pegawai-pengusaha karena sudah berpengalaman sebagai investor maupun founder. Keuntungan terbesar dari sistem investor-founder dibandingkan dengan sistem pengusaha-pegawai adalah bahwa orang yang bekerja untuk proyeknya sendiri akan bekerja jauh lebih produktif. Seperti halnya pada sistem open source dan blogging. Startup adalah sebuah proyek pribadi dalam dua aspek yang sama pentingnya, yaitu secara kreatif dan secara ekonomi.

Google adalah sebuah contoh langka mengenai perusahaan besar yang menerapkan konsep yang sudah dibahas sebelumnya. Mereka berusaha keras membuat kantor-kantor mereka kurang steril. Mereka juga menghargai karyawan yang bekerja dengan sangat baik. Yaitu dengan menghadiahkan sejumlah besar saham perusahaan. Mereka bahkan membebaskan hacker menghabiskan 20% waktunya untuk proyek pribadi masing-masing.

Mengapa orang-orang tidak sekalian saja diminta menghabiskan 100% waktunya untuk proyek mereka sendiri. Kemudian, daripada memperkirakan nilai dari apa yang mereka buat, berikan nilai saham yang ada di pasar saat ini. Hal ini tidaklah mustahil. Sebab, hal seperti inilah yang dilakukan oleh venture capitalist. Mereka menanamkan saham pada proyek-proyek yang bernilai.

Saat ini, orang yang paling pintar di bangku kuliah pun seringkali hanya berpikir untuk mencari pekerjaan setelah lulus. Bahkan banyak yang mencari tempat kuliah yang menjamin pekerjaan setelah lulus (dan ini persis seperti saya). Padahal tidak harus demikian. Sebenarnya yang perlu dia lakukan hanyalah menciptakan sesuatu yang bernilai. Maka uang akan datang dengan sendirinya. Pekerjaan (menjadi pegawai) adalah salah satu cara untuk melakukannya. Namun bila dibandingkan, anda akan mendapat uang lebih banyak bila bekerja untuk investor daripada bekerja untuk pengusaha.

Para hacker cenderung berpikir bahwa bisnis hanyalah untuk para lulusan MBA (Master of Business Administration). Tetapi dalam startup, bukan Anda tidak akan melakukan administrasi bisnis. Yang perlu dilakukan adalah membuat atau menciptakan bisnis. Tahap pertama dalam menciptakan bisnis adalah membuat produk, yaitu aktivitas hacking. Inilah bagian yang berat. Jauh lebih berat membuat sesuatu yang disukai (atau bahkan dicintai) orang daripada mengambil sesuatu yang sudah disukai orang dan memikirkan bagaimana menghasilkan uang darinya.

Sebab lain yang membuat orang ragu untuk memulai startup adalah resikonya. Memang tidak semua bisnis akan langsung sukses. Ada juga yang mengalami kegagalan pada awalnya. Namun, sebagaimana open source dan blogging, Anda akan lebih senang mengerjakannya, meski anda gagal. Karena anda akan mengerjakan sesuatu milik Anda sendiri, bukan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh orang lain.

Semoga dalam jangka panjang, semua orang berpikir untuk menuju ke sana. Yaitu menerapkan efek terbesar dari kekuatan yang ada pada open source dan blogging. Lalu menggantikan sistem pengusaha-pegawai dengan sistem yang lebih murni secara ekonomi, investor-founder. Sistem investor-founder adalah sistem ekonomi murni. Mengapa? Karena kedua belah pihak berada dalam posisi yang setara. Jika semua pemuda di Indonesia berpikir untuk menciptakan pekerjaan dan bukan mencari pekerjaan, maka tidak akan ada pengangguran di negeri yang langganan juara olimpiade sains ini.

 

Bagian 1 Bagian 2 Bagian 3 Bagian 4