Sejak Microsoft menjadi contoh yang dominan ketika orang membicarakan industri software, mari kita bertanya: apakah akibat ekonomis terbesar dari kesuksesan Microsoft?

Apakah akibat ekonomis terbesar Microsoft adalah kekayaan Bill Gates? Tentu saja tidak. Banyak orang iri dengan kekayaan Bill Gates, namun kekayaan Bill hanya sebagian dari keseluruhan kue yang dibagi-bagikan di industri softwarenya.

Apakah jawabannya adalah fakta bahwa Microsoft telah mengumpulkan 40 milyar dolar di rekeningnya yang terus bertambah, sebagai perusahaan software terbesar di dunia, dengan 55 ribu karyawan di 85 negara (termasuk Indonesia)? Tidak juga.

Akibat ekonomis terbesarnya adalah kenyataan bahwa Microsoft memungkinkan berjalannya banyak bisnis yang luar biasa. Pelanggan atau pengguna produk Microsoft menjalankan bisnisnya dengan lebih efisien. Bahkan ada yang ada yang tidak dapat menjalankan bisnisnya sama sekali tanpa adanya software dari Microsoft. Inilah akibat ekonomis terbesarnya.

Microsoft hanyalah pembuat alat (tools). Akibat ekonomis bagi pembuat alat jauh lebih kecil dibandingkan dengan akibat ekonomis dari berbagai bisnis yang menggunakan alat yang dibuat oleh Microsoft. Akibat ekonomi sekunder yang muncul dari individu dan dunia bisnis yang menggunakan alat tersebut lebih besar daripada akibat primer dari uang yang dibayarkan untuk menggunakan teknologi Microsoft.

Hal yang sama berlaku juga pada sistem open source. Software open source hanyalah alat. Nah, jika ada alat yang lebih baik dalam menjalankan bisnis, mengapa belum banyak orang yang meliriknya?

Penting untuk diingat bahwa sebagian besar perusahaan tidak berbisnis dalam pembuatan software. Namun sebagain besar hampir pasti menggunakan komputer dalam menjalankan bisnisnya. Banyak perusahaan menjual berbagai macam barang di atas bumi ini: buku, baju, sepatu, makanan, maianan, dan sebagainya. Walau demikian, perusahaan kecil pun menggunakan software untuk menjalankan bisnisnya dalam batas tertentu. Bayangkan perencanaan keuangan sebelum adanya software spreadsheet semacam Excel, dan atau korespondensi sebelum adanya email. Saat ini kita membutuhkan software untuk menjalankan bisnis. Kebutuhan tersebut sudah sangat krusial sehingga sebuah bisnis dengan 50 karyawan atau lebih sudah perlu mempekerjakan seorang pogrammer, desainer web, atau seorang administrator sistem dengan kemampuan script programming. Bagi bisnis-bisnis tersebut, software digubakan sebagai teknologi untuk menjalankan bisnis, bukan sebagai produk yang mereka jual.