Saat ini, komputer telah menjadi barang wajib di segala bidang. Era informasi meniscayakan pemanfaatan komputer secara maksimal untuk menguasai informasi. Sebuah sistem komputer terdiri atas tiga unsur yaitu perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan pengetahuan pengguna (brainware). Badan Pusat Statistik adalah sebuah lembaga pemerintah yang bertugas mengumpulkan, mengikhtisarkan, dan menyajikan data statistik dasar yang berkualitas. Penggunaan komputer tentu merupakan hal yang penting dalam proses bisnis di BPS. Selain perangkat keras, penggunaan komputer di BPS tentunya juga melibatkan perangkat lunak.

Sebagai perangkat lunak dasar dalam sebuah komputer, sistem operasi seharusnya berfungsi untuk mempermudah penggunaan komputer dan mengatur penggunaan perangkat keras agar efisien. Akan tetapi, sistem operasi Windows yang saat ini digunakan oleh BPS memiliki berbagai permasalahan. Permasalahan tersebut antara lain reliabilitas yang rendah dan performa yang melambat dari hari ke hari. Selain itu, biaya lisensinya mahal dan keamanan menggunakan komputer juga kurang memadai. Berbagai permasalahan tersebut menyebabkan penurunan produktivitas pegawai BPS dalam menggunakan komputer. Padahal, hampir seluruh kegiatan BPS melibatkan penggunaan komputer.

Kebutuhan aplikasi di BPS adalah dari kategori aplikasi perkantoran (pengolah kata, spreadsheet, presentasi), aplikasi pengolahan database, aplikasi untuk analisis statistik, aplikasi untuk pengembangan software, dan aplikasi pemetaan statistik. Berkat perkembangan sistem open source yang begitu pesat, migrasi sistem komputer BPS dari berbasis Windows menjadi berbasis Linux adalah hal yang layak untuk dilakukan saat ini. Sebab, saat ini aplikasi-aplikasi yang biasa digunakan dalam pekerjaan sehari-hari di BPS sudah memiliki padanan aplikasi yang serupa di Linux. Selain itu, usabilitas penggunaan Linux pun sudah semakin baik.

Relevantive AG pada 2003 telah melakukan uji tingkat usabilitas penggunaan Linux dengan fokus pada penggunaan di lingkungan perusahaan dan administrasi publik. Jumlah total peserta uji coba adalah 60 orang untuk Linux dan 20 orang untuk Windows XP. Jumlah umum yang dibutuhkan untuk uji usabilitas adalah 10 hingga 20 orang. Keterangan umum peserta adalah usia antara 25 hingga 55 tahun, bekerja dan menggunakan komputer setiap hari dalam bekerja, tidak memiliki pengalaman menggunakan Linux ataupun Windows XP, dan tidak ada ahli komputer maupun orang yang belum pernah menggunakan komputer. Jenis kelamin dan umur tedistribusi secara merata. Materi uji coba disusun agar dapat dibandingkan. Sistem Linux yang diujikan berbasis SuSE 8.2 dan KDE 3.1.2. Hasilnya 80% peserta uji coba Linux menyatakan bahwa mereka memerlukan waktu paling lama satu minggu untuk mencapai tingkat penguasaan yang sama dengan sistem sebelumnya (85% pada Windows XP).

Penggunaan sistem operasi Linux di BPS akan meningkatkan produktivitas pegawai BPS dalam menggunakan komputer. Sebab, Linux memiliki reliabilitas dan performa yang lebih baik pada perangkat keras yang sama. Selain itu, biaya lisensinya hampir tidak ada dan Linux juga memiliki tingkat keamanan yang lebih baik. Produktivitas pegawai pun akan meningkat karena tidak ada lagi waktu produktif yang terbuang bila sistem mengalami masalah virus, hang, lambat, dan sebagainya.

Akan tetapi, migrasi tersebut memang tidak dapat dilakukan secara spontan. Sebab, proses bisnis yang sedang berjalan pada sistem operasi Windows tidak boleh terhenti. ย Migrasi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan direncanakan dengan baik. Tahapan yang dapat ditempuh adalah: 1) Penggunaan Aplikasi Open Source Berbasis Windows, 2) Penggunaan Sistem Linux dengan Aplikasi Padanan yang Biasa dipakai, 3) Migrasi Aplikasi Custom atau yang Tidak Ada Padanannya. Selain itu, proses migrasi juga harus didukung dengan pengembangan kurikulum Linux dan Open Source di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), khususnya jurusan Komputasi Statistik. Untuk menjembatani proses migrasi, aplikasi yang masih hanya tersedia di Windows dapat diletakkan di server. Pengguna dapat mengakses aplikasi tersebut dari desktop Linuxnya di mana saja asalkan terhubung dengan Virtual Private Network (VPN) BPS.

Sebagai penutup, kita dapat menengok sejenak ke negara tetangga kita. Karena kemampuan Thailand berpaling ke Linux dan perangkat lunak open source, pada tahun 2003 Microsoft Thailand terpaksa menurunkan harga Windows dan Office dari sekitar 600 dolar AS ke 37 dolar AS. Microsoft Windows XP Starter Edition juga mulai dibuat untuk mengantisipasi program open source Thailand, karena takut negara-negara lain akan mengikuti jejak tetangga kita ini. Harap diingat, huruf Thailand bukanlah huruf latin biasa, dan mereka rela memodifikasi kode program OpenOffice.org agar dapat digunakan dengan bahasa asli mereka.

Anda juga dapat mengunjungi situs www.bgos.web.id untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas. Partisipasi anda dapat membantu menyukseskan ide aplikatif ini dan menjadi sumbangsih untuk kemajuan dan kemandirian teknologi informasi di Badan Pusat Statistik maupun di Indonesia. Silahkan mencoba distro Linux terbaru yang mendukung tampilan 3D a la Windows Vista dengan spesifikasi perangkat keras yang lebih rendah dari permintaan Vista dan dapat dijalankan langsung dari CD atau DVD tanpa instalasi terlebih dahulu. Anda juga bisa melihat bukti kekuatan open source yang menjadi tulang punggung internet. Anda selalu bisa melihat cara kerja sebuah website dengan meng-klik menu View โ€“ Page Source dengan browser* apa pun. Selamat mencoba!

 

* Browser adalah aplikasi yang digunakan untuk menjelajah internet. Misalnya: Mozilla Firefox, Internet Explorer, Opera, Safari.