Versi: Dokter Komputer

 

STORYLINE:

1.  Terlihat ruang praktek dokter yang bersih dan rapi. Seorang laki-laki berumur 25 tahunan masuk dan duduk di bangku pasien dengan wajah murung. Badannya tampak lemas. Dokter yang duduk di hadapannya menatap sambil tersenyum ramah.

 

DOKTER

(ramah)

Keluhannya apa?

 

Wajah pasien tampak makin murung.

 

PASIEN

(lemas)

Saya suka pusing, Dok. Jantung

berdebar-debar, keringat dingin,

sulit tidur, berat badan juga turun.

 

2.  Diperlihatkan pasien yang keringat dingin di depan komputernya. Keringatnya sebesar-besar biji jagung mengalir di pelipisnya.

 

3.  Diperlihatkan pasien yang sulit tidur padahal hari sudah hampir pagi. Dia melihat ke arah laptopnya yang ada di atas meja kerjanya di dekat tempat tidur dengan cemas. Ketika dia menyalakan laptopnya, pasien pun menjerit panik.

 

4.  Dokter tersenyum simpul. Pasien memegangi dadanya dan terlihat sangat menderita.

DOKTER

Jadi, gampang kena virus ya?

Gampang hang? Performanya nggak

oke? Lambat?

 

Pasien mengangguk lemah.

 

Dokter pun mengambil buku resep dan mulai menasehati pasien sambil menulis resep.

 

DOKTER

Kenapa nggak pake open-source? Lebih aman, legal, dan mudah. Bisa mendorong

kamu jadi lebih kreatif juga.

 

Dokter menyerahkan resep sambil tersenyum.

Terlihat di resepnya tertulis: Open-Source: setiap saat, setiap hari.

 

5.  Diperlihatkan ruang tunggu dokter yang disesaki puluhan pasien. Terlihat tulisan “Dokter Komputer” di salah satu dinding. Dokter berdiri di antara pasien yang sedang menunggu dan memberikan pesannya.

 

DOKTER

Kalau pakai Open-Source kan,

nggak perlu ada masalah sebanyak ini!