Empat hari belakangan, saya menghabiskan sore dengan Honey Lemon (salah satu panggilan saya untuk istri) jalan-jalan ke toko buku. Karena kami sama-sama bookaholic, acara date semacam ini tentu sama romantisnya dengan candle light dinner. Di hari ke empat, kami baru memutuskan buku apa yang bisa dibeli.

Bisa dalam artian:
1. Isi bukunya bisa berguna
2. Temanya bisa memperkaya
3. Topiknya tidak mengulang apa yang sudah ditulis oleh penulis lain dan mempunyai perspektif sama. Ini penting karena terkadang saya menemukan buku dengan point yang sama tapi hanya berbeda gaya bahasa karena ditulis oleh orang yang berbeda. Kebanyakan buku seperti ini adalah buku-buku motivasi dan yang lebih spesifiknya lagi; motivasi yang di-Islamic-kan. Jadi, sudah ada buku dengan topik itu sebelumnya karangan penulis luar yang memang kompeten (bisa dilihat dari biografinya) ditulis ulang oleh penulis lokal dengan memasukkan apa yang menurut mereka “kurang”, seperti melandaskan teori pada ayat-ayat Al-Qur’an.
4. Terakhir, tentu saja bisa disetujui oleh isi dompet.

Tulisan saya kali ini dibuat karena saya ingin share tentang sesuatu yang selama ini saya yakini (dan dengan segala kerendahan hati, saya berharap temans mengoreksi bila ada kesalahan keyakinan), yaitu tentang Islamic-isme dalam buku. Hubungannya dengan poin nomer tiga tulisan saya di atas dan cara saya memilih buku yang akan saya beli. Tidak berhubungan dengan buku yang akan saya baca, karena kalau mau membaca tapi tidak mau membeli kan, bisa pinjem. Dan buku yang hanya berada pada strata “cukup dipinjam” tidak perlu sampai harus dibeli.

Saya percaya bahwa Islam dan Islamic tidak hanya apa yang ada di kulit atau penampakannya saja, atau karena menukil ayat-ayat, atau karena dibuat di Mesir, atau karena tokoh perempuannya berjilbab dan bercadar, atau karena ada cap Islamic-nya.

Saya akan mengutip kata Emha Ainun Najib (a.k.a Cak Nun)
“Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadhan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi. Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari “agama” lain, dari ilmu-ilmu sosial modern atau khasanah tradisi. Namun sebagai sebuah keseluruhan entiti, Islam hanya sama dengan Islam.

Bahkan Islam tidak sama dengan tafsir Islam. Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir, dan apa pun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam.

Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanya Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah. Semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangan-pandangannya masing-masing mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada klaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok ini atau itu.

Kalau ada teman melakukan perjuangan “islamisasi”, “dakwah Islam”, “syiar Islam”, bahkan perintisan pembentukan “Negara Islam Indonesia” yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah Islamnya mereka masing-masing. Dan Islamnya si A, si B, si C, tidak bisa di klaim sebagai sama dengan Islamnya Allah sejatinya Islam.”

Dan kembali ke masalah membeli buku, saya juga menggukanan konsep yang sama untuk membeli buku. Terkadang saya menghindari membeli buku yang menyarikan konsep orisinil orang lain (seperti konsep Seven Habits, Law of Attraction, the Secrets, dll) dan dituliskan kembali dengan menambahkan ayat-ayat Al-Qur’an atau hadist dengan maksud menjadikannya Islamic. Mencari titik temu konsep yang dianggap “barat” dan tidak mempunyai dasar Islamnya (karena tidak melandaskannya pada Al-Qur’an) dan menuliskannya kembali, menurut saya bukanlah pekerjaan yang sia-sia. Itu memang ada gunanya. Tapi membaca buku aslinya dan memahaminya dalam hati dengan kearifan “Islam” yang sudah saya miliki lebih saya sukai. Karena kebenaran datangnya dari Allah dan bisa melalui apa saja kan?

Saya teringat di suatu malam pertengahan Desember 2006, saya dan Honey Lemon menghadiri acara bulanan Kenduri Cinta di TIM dengan Cak Nun menjadi pembicaranya. Saya sudah lupa apa bahasan utamanya karena kebanyakan topik ngalor-ngidul tergantung situasi. Cak Nun sempat bercerita tentang band Letto yang digawangi anak sulungnya Noe.

Cak Nun bertanya apakah Noe akan membuat lagu religi untuk menyambut Ramadhan. Noe menjawab: tidak, karena semua lagu Letto pun sudah religi. Kok bisa?

Penjelasan yang diberikan Cak Nun cukup mudah dimengerti karena memakai analogi. Misalnya saya dan Honey Lemon. Apakah ketika saya dan Honey Lemon tampil berdua di publik, Honey Lemon bisa disebut sebagai istri saya atau Ny. Nugroho (tanpa harus menunjukkan buku nikah)? Jawabannya tentu ya. Lalu, apakah ketika Honey Lemon tampil sendirian di IKJ tetap bisa dipanggil Ny. Nugroho? Yaa iya lah! Bila Honey Lemon menulis buku, apakah buku yang dia tulis bisa dikatakan sebagai buku dari Ny. Nugroho? Ya. Jadi, Honey Lemon akan menjadi Ny. Nugroho di mana pun dan kapan pun selama kami tetap punya ikatan pernikahan.

Hal ini sama dengan Letto. Apakah Letto bisa disebut Hamba Allah (muslim) ketika shalat? Tentu ya. Ketika mencipta lagu? Ya. Nah, ketika Letto mencipta lagu dalam kondisi sebagai muslim (yang tentu saja Islamic), lagu ciptaannya dapat dikatakan sebagai lagu Islamic (atau religi)? Ya, karena (dengan syarat) apapun yang Letto ciptakan bertolak dari apa yang dia yakini dalam hati, yaitu Allah dan Islam, dan dengan mengharap ridho Allah. Walaupun mungkin di lagu-lagu mereka tidak menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an.

Penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an untuk mengklaim bahwa sebuah pemikiran atau konsep itu Islamic adalah cara yang sempit, walaupun memang sangat “langsung”. Tapi ini terkadang malah membuat luas cakupan yang dapat dijangkau jadi sempit pula. Karena Islamic, tentu tidak akan dibaca atau dibeli oleh yang non-Islam. Hal ini malah akan menjadi penghalang untuk menyebarkan dan memperkenalkan konsep-konsep baru yang baik.

Seperti konsep memberi (sedekah), apakah itu Islamic? Ya! Tapi bukan hanya muslim yang bersedekah, bukan? Semua manusia pun bisa dengan latar belakang apapun. Yang menjadikan sedekah itu ibadah atau bukan adalah niat dan identitas muslim pelakunya. Karena kalau pemberi sedekah bukan muslim, tentu tidak bisa dikatakan dia melakukan amalan Islam. Tapi sedekah sendiri punya manfaat lebih besar daripada hanya sekedar mengharapkan pahala Allah.

Mengapa para pengusaha bisa kaya? Karena mereka memberi manfaat kepada banyak orang. Baik karena menyediakan lapangan kerja bagi pegawainya. Ataupun karena menyediakan produk-produk yang dibutuhkan masyarakat banyak. Ini bisa dianggap sedekah. Apalagi bila pengusaha tersebut juga sesekali mengadakan acara amal atau sedekah dalam definisi yang biasa kita pahami. Mari berlomba memberi manfaat kepada orang lain.

Jadi, saya lebih memilih untuk mengambil konsep asli dari penulis aslinya karena bila dituliskan kembali, pasti sudah mengalami re-viewing (atau penerjemahan makna aslinya sesuai dengan latar belakang penulisnya) yang kadang malah jadi bias dengan konsep aslinya karena re-thinking. Bila saya mengambil konsep asli dan mengamalkannya dengan meniatkan kebaikan dan ridho Allah, insya Allah akan menjadi Islamic.

Saya percaya bahwa semua kebaikan dan kebenaran datang dari Allah. Karena itu, kebaikan dan kebenaran pasti Islamic! Mutiara hikmah milik umat Islam, di manapun hikmah itu ditemukan, setiap muslim berhak mengambilnya.

Karena Islam adalah rahmatan lil `alamin…