Mengapa saya menulis tentang ini? Seringkali Linux dan Open Source Software hanya dilihat dari segi teknis. Padahal gagasan-lah yang selalu mengawali dan mendasari tindakan (teknis).

Perkembangan teknologi tidak dapat dipungkiri berpengaruh juga pada perkembangan budaya. Sebaliknya, perkembangan pemikiran dan budaya manusia juga dapat mempengaruhi perkembangan teknologi dan penggunaannya. Maka, perkembangan teknologi komputer tentu ikut andil dalam perkembangan budaya manusia. Teknologi komputer dapat dianggap sebagai cultural object (objek budaya) dalam teori Culture Studies.

Cultural objects are made by human beings. This fact is intrinsic to all various definitions—culture is “the best that has been thought and known” by human beings (Arnold); culture is the “meanings embodied in symbols” through which human beings communicate and pass on knowledge and attitude (Geertz); culture is the externalization, objectification, and internalization of human experience (Berger) –and is the basis for familiar distinction between culture and nature.

(Griswold, 2004)

Wendy Griswold (2004) membahas hubungan antara pembuat (creator), penerima (receiver), objek budaya (cultural object), dan dunia sosial (social world) dalam sebuah ilustrasi yang disebut Cultural Diamond. Ilustrasi dapat digunakan untuk mempermudah pembahasan hubungan antara dunia sosial dan objek budaya.

 

 

 

 

 

Gambar 1. Cultural Diamond (Griswold, 2004)

Konsep free software tidak menganggap software sebagai produk seperti para kapitalis yang berusaha mengeruk keuntungan sebesar-besarnya pada bisnis apa pun. Free software juga bukan komunisme yang menganggap semua sebagai milik bersama dan dikendalikan secara terpusat. Konsep free software lebih mirip dengan koperasi yang mengutamakan kesejahteraan seluruh anggotanya.

Dalam terminologi kajian budaya, gerakan ini dapat disebut bersifat atau bergaya post-modernisme atau pasca-modernisme. Berikut ini definisi dari konsep pasca modernisme.

 

A cultural style marked by intertextuality, irony, pastiche, genre blurring, and bricolage.

A philoshopical movement that rejects ‘grand narratives’ (that is, universal explanations of human history and activity) in favour of irony and forms of local knowledge.

The concept of bricolage refers to the re-arrangement and juxtaposition of previously unconnected signifying objects to produce new meanings in fresh contexts.

(Barker, 2004)

 

Gerakan postmodern (pasca-modernisme) muncul karena kecewa terhadap dunia modern, mencari yang esensi, kembali ke bentuk dasar. Situasi masyarakat pasca modern adalah mempertanyakan keadaan dunia modern, pemikiran masyarakatnya semakin maju, sehingga membutuhkan produk yang sesuai dengan pemikiran masyarakatnya. Pada kasus ini, Linux dan gerakan free software muncul karena kecewa dengan adanya praktik bisnis komersial kapitalis dan lisensi yang tertutup (tidak dapat mengakses kode program atau tidak ada transparansi).

Definisi di atas menyebutkan bahwa sesuatu dapat dikategorikan sebagai post-modern, jika memiliki kriteria intertextuality, irony, dan bricolage. Intertextuality  mensyaraatkan adanya hal lain yang dibawa dan terkandung di dalamnya, tidak hanya produk saja. Windows tidak memiliki ini karena dia hanya berupa produk. Sehingga tidak ada pengguna Windows yang fanatik. Linux memiliki berbagai nilai tambah yang terkandung di dalamnya, bukan hanya berupa piranti lunak saja. Nilai tambah tersebut antara lain keragaman, kebebasan berdiskusi dan demokrasi pengembangan piranti lunak dalam komunitas free software yang tidak pandang bulu.

Irony pada kasus ini adalah kenyataan bahwa Linux dan Free Software tidak lantas tidak bisa dijadikan sumber penghasilan sebagaimana Windows pada masa modern. Akan tetapi model bisnis open source memang bukan pada produknya, namun nilai tambah yang terkandung di dalamnya.

Ada beberapa cara untuk mengail uang dari bisnis open source. Pertama, sebagai penyedia distro kustom. Meskipun sudah ada berbagai distro, namun selalu saja ada celah untuk mengembangkan distro dengan kebutuhan khusus. Kedua, menjadi penyedia teknologi, misanya framework atau filesystem baru yang lebih baik. Ketiga, jasa konsultan Linux baik umum maupun spesialis juga diminati oleh perusahaan yang ingin migrasi ke GNU/Linux namun tidak punya pengetahuan yang cukup. Sebaiknya menguasai beberapa distro enterprise seperti SUSE dan RedHat.

Keempat, menjadi penyedia solusi. Misalnya membantu suatu perusahaan melakukan porting (migrasi) beberapa aplikasi berbasis Windows menjadi berbasis GNU/Linux atau multiplatform (dapat berjalan pada Windows dan Linux). Kelima, menjadi implementator. Dalam bidang ini, diperlukan kemampuan untuk instalasi server atau client desktop, lengkap dengan konfigurasinya. Sebab, barangkali ada yang tidak mau repot melakukan implementasi setelah berkonsultasi. Keenam, tentu saja akan dibutuhkan jasa pendidikan dan sertifikasi kemampuan di bidang Linux. Ladang ini masih sangat potensial. Ketujuh, berdagang CD atau DVD GNULinux juga bisa menjadi pilihan. Kemudahan akses, kualitas CD atau DVD, tambahan manual yang tercetak dan kemasan yang bagus bisa menjadi nilai tambah dalam bidang ini.

Dahulu tidak ada yang menyangka bahwa air putih dapat dijual. Di setiap restoran atau rumah makan, kita bisa mendapatkan air putih secara gratis. Bahkan, akan dianggap aneh bila ditarik bayaran untuk mendapatkan air putih tersebut. Namun, sekarang tidak ada yang merasa aneh atau enggan untuk mendapatkan air minum dalam kemasan dengan harga 500 hingga 2000 rupiah. Ada berbagai merek tersedia dengan berbagai rasa, warna air dan kemasan.

Analogi yang sama berlaku untuk GNU/Linux. Anda dapat membuat berbagai warna, rasa, dan kemasan GNU/Linux, lalu menjualnya dengan support yang prima. Kedelapan, bisnis media berupa buku, majalah, tabloid, atau media massa yang menyebarkan berita dan pengetahuan atau tips-tips penggunaan GNU/Linux adalah lahan yang masih dapat digarap.

Sedangkan konsep bricolage pada Linux adalah bahwa Linux membuka lebar-lebar gerbang sekolah dan perpustakaan dalam dunia komputer bagi semua orang. Tidak ada batas atau pemisah antara developer atau user. Linux dan Open Source Software membentuk suatu komunitas learning society. Pengguna dapat ikut andil dalam pengembangan atau naik tingkat menjadi pengembang. Situasi seperti inilah yang disebut oleh seorang filsuf asal Finlandia Dr Pekka Himanen sebagai Net Academy sesungguhnya. Yaitu suatu proses belajar mengajar melalui jaringan. Pada model ini, materi untuk belajar tidak hanya disediakan oleh yang sudah mahir tetapi juga oleh mereka yang baru saja atau sedang belajar.

Pada hakikatnya, telah terjadi suatu mekanisme komunikasi untuk kolaborasi dengan tujuan peningkatan knowledge dalam komunitas global. Prinsip ini sebetulnya sudah mulai populer dengan istilah knowledge management. Suatu mekanisme yang pada dasarnya berusaha mengubah suatu tacit knowledge yang dimiliki oleh individu dalam komunitas menjadi suatu shared knowledge yang dapat dipakai bersama oleh setiap orang dalam komunitas.

Struktur pengembangan GNU/Linux yang dilakukan pada organisasi non-formal dan non-hirarki inilah yang menyebabkan perkembangannya begitu cepat. Semangat open source ini sangat cocok diterapkan di Indonesia maupun di perusahaan atau organisasi untuk menghindari kesenjangan teknologi (digital divide). Baik kesenjangan dengan negara maju maupun kesenjangan pada internal perusahaan atau organisasi.

Sebab, seringkali pengembangan aplikasi di perusahaan atau organisasi bergantung pada pengetahuan individu tertentu. Sehingga, bila ada masalah, hanya bisa diselesaikan oleh yang bersangkutan. Padahal, dengan mekanisme kerja sama terbuka dan tertulis dalam knowledge management di dunia free software, pengetahuan menjadi milik semua. Sehingga, permasalahan dapat diatasi oleh siapa saja dan tidak tergantung pada vendor atau individu.

Sebagai gerakan pasca modern, Linux cocok untuk orang yang senantiasa berfikir, mempertanyakan kembali konsep-konsep yang ada pada dunia modern (Windows) dan bergerak ke wilayah atau masa pasca-modern. Sedangkan Windows cocok digunakan oleh orang modern yang tidak sempat berfikir karena terlalu terbiasa. Windows juga cocok digunakan oleh mereka yang tidak sempat mempertanyakan. Penyebabnya dapat berupa karena terlalu terbiasa, hegemony, atau bisa juga karena kurangnya informasi sehingga tidak ada kesempatan untuk berfikir, mempertanyakan atau tidak tahu alternatif selain Windows.