My fight is not to be a white man in a black skin, but to inject some black blood, some black intelligence into the pallid mainstream of American life, culturally, socially, psychologically, philosophically.

John Oliver Killens, U.S. novelist, film scriptwriter, and educator.

Saat ini, open source sudah mulai mendominasi penggunaan perangkat lunak di kalangan perusahaan. Forrester Research yang belum lama mengumumkan hasil dari jajak pendapat terhadap eksekutif perusahan tentang Open Source di negara-negara USA, Inggris, Perancis, Jerman dan Kanada. Dari hasil pemantauan tersebut dikatakan bahwa Open Source Software Goes Mainstream diadopsi paling tidak di perusahan di Jerman (58 persen) dan Perancis (49 persen) sementara Inggris menduduki tempat ketiga dengan 40 persen.

Alasan menggunakan software bebas di perusahan adalah terutama demi penghematan biaya yang ditemukan paling tidak sekitar 56 persen dari 2200 perusahan yang dijajaki. Menurut Forrester, badai krisis yang melanda dunia saat ini juga telah memberikan kontribusi terhadap langkah perusahan menuju solusi Open Source. Diindikasikan bahwa penyebaran OSS di perusahan saat ini lebih cepat dari pada teknologi lainnya seperti ERP atau Enterprise-Services.

Sebagaimana dijelaskan Jeffrey S. Hammond, Analyst di Forrester, OSS kini tidak lagi dapat diabaikan. Berkat Open Source telah terjadi pergesaran expektasi pelanggan terhadap harga dan tendensi pembelian. Yang tadinya membeli paket solusi lengkap dari satu vendor, kini ngetrend untuk membeli sistem per komponen.

Meski demikian, Linux dan perangkat lunak open source masih belum menjadi main-stream di kalangan pengguna desktop rumahan. Menjadi side-stream bukanlah hal yang buruk. Sesuatu hal menjadi side-stream bukan karena hal itu tidak mampu untuk menjadi main-stream, tapi karena kekuatannya yang besar belum dikelola dengan baik. Pengelolaan kekuatan yang besar kadang hubungannya lebih dekat dengan pengelolaan penjualan (atau bagaimana cara menjual).

Contoh yang bisa disamakan adalah film Hollywood yang menjadi main-stream perfilman dunia. Apakah karena film-film Hollywood mempunyai cerita yang bagus? Tidak juga. Banyak film independen[1] yang punya cerita lebih bagus. Hollywood berjaya karena kekuatan finansialnya dalam membuat jaring-edar film-film mereka. Karena mereka punya dana besar untuk beriklan. Karena mereka sudah terlalu lama menjadi main-stream, penonton kebanyakan sudah lupa kalau ada film lain yang bagus dan bisa ditonton selain film Holywood. Dan mungkin itu Bollywood atau Tangkiwood[2].

Kebanyakan programmer Linux terlalu asyik dengan pengembangan Linux itu sendiri sebagai program dibandingkan dengan bagaimana melakukan penetrasi lebih intensif ke pengguna. Kebanyakan orang masih melihat Linux sebagai sebuah kelompok komunitas, kantong-kantong programmer handal yang anti-Microsoft, dan bahkan sebagai orang iseng yang hanya hobi membuat program.

Belum tumbuh secara maksimal dalam diri para pengguna Linux untuk meleburkan diri mereka sebagai sesama pengguna komputer apalagi kesadaran untuk menggunakan kekuatan media sebagai sarana promosi. Semua memang sudah mulai dilakukan. Tapi sekali lagi, masih kurang maksimal.

Apa artinya sebuah produk bagus tanpa promosi yang bisa menginformasikannya kepada masyarakat? Linux harus belajar banyak pada Microsoft bagaimana caranya mempromosikan produk dengan baik. Microsoft sangat berhasil dalam hal ini sehingga promosi itu mampu menghilangkan ingatan pengguna komputer bahwa ada sistem operasi lain yang bisa digunakan selain Microsoft.


[1] Independen di sini berarti proses pembuatannya tidak melibatkan Hollywood sebagai raksasa studio film dunia.

[2] Sebutan untuk industri film di Indonesia tahun 60-an. Diambil dari nama sebuah daerah di Jakarta yang menjadi Pusat pembuatan film.