Free-Rider adalah sesuatu yang umum dijumpai dalam sistem ekonomi. Apa yang akan anda lakukan pada orang-orang yang menggunakan suatu produk atau jasa tanpa memberikan imbalan kepada penyedia produk dan jasa tersebut? Apakah anda memiliki mekanisme yang efektif untuk mencegah adanya free-rider?

Semua pengguna open source berawal dari status free-rider. Mereka mengunduh suatu aplikasi open source, lalu menggunakannya, dan barangkali juga menyebarkannya kepada teman-temannya. Pada umumnya mereka melakukannya tanpa terpikir untuk memberikan kontribusi dalam pengembangannya. Sampai suatu ketika mereka menginginkan tambahan fitur.


Jika mereka menginginkan tambahan fitur, mereka bisa saja menambahkannya sendiri daripada membayar developer aslinya. Pada titik ini, ia tidak lagi menjadi free-rider. Kalaupun dia tidak mampu melakukannya, dia bisa melakukan request fitur pada website developernya. Dengan menyampaikan feature request pun, dia sudah berperan dalam pengembangan software tersebut.

Berbagai bisnis yang bergabung sebagai developer dalam proyek open source memberikan kontribusi beberapa software, dan seluruh bisnis tersebut mengambil keuntungan ekonomis dari penggunaan software tersebut. Minat setiap developer umumnya sama, karena mereka telah memilih sendiri produk software tertentu yang berguna bagi mereka. Sehingga kontribusi developer tertentu umumnya juga berguna bagi developer yang lain.

Ada juga developer yang tidak didorong oleh keinginan menyediakan software bagi dunia bisnis. Individu-individu seperti ini biasanya meempunyai motivasi seperti seniman, atau peneliti ilmiah.

Para voluntir mendapatkan pemenuhan kebutuhan emosional untuk memiliki pengguna bagi software mereka. Sebagaimana seorang seniman memenuhi kebutuhannya atas apresiasi orang lain pada lukisannya. Bagi para voluntir, pengguna memberikan keuntungan tidak terlihat. Keuntungan yang memang diinginkan oleh para voluntir. Dengan demikian pengguna juga tidak bisa dianggap sebagai free-rider.

Perusahaan-perusahaan yang memiliki kepentingan pada produk open source tertentu cenderung menyewa developer yang sudah mendapatkan status sebagai developer produk tersebut. Maka individu yang sebelumnya tidak memiliki minat pada uang dalam proyek open source cenderung menemukan pekerjaan (yang dibayar) pada organisasi yang tertarik. Partisipasi mereka pada proyek open source kerap mendatangkan keuntungan ekonomis. Ini adalah alasan  lain bahwa pengguna tidak dapat begitu saja dianggap sebagai free rider.

Peneliti sains mempunyai paradigma sendiri mengenai pertukaran pengetahuan berkesinambungan. Serupa dengan semangat saling berbagi dan saling belajar di komunitas open source. Sebab, sains berkembang jauh lebih cepat ketika penemuan-penemuan diumumkan kepada saintis lainnya yang dapat menambahkan ide-ide dan intuisi mereka pada penemuan-penemuan tersebut. Saintis memperoleh kepuasan dengan memublikasikan hasil kerja mereka. Karena publikasi tersebut akan meningkatkan statusnya di mata saintis lainnya. Selain itu, hasil penelitian tersebut umumnya juga menentukan kesuksesan karir mereka sebagai peneliti. Saintis sudah berulang kali menggunakan open source sebagai media publikasi komponen software dari pekerjaan mereka. Sebagai tambahan, para saintis biasanya didorong oleh keinginan memberi manfaat kepada masyarakat. Mereka juga ingin menyaksikan orang lain mendapatkan manfaat dari menggunakan software yang dikembangkan melalui penelitian ilmiah.

Para pengguna adalah orang-orang yang kita rekrut untuk nantinya menjadi partisipan yang lebih aktif dalam proyek open source, sebagaimana penjual software retail berusaha merekrut orang-orang yang mau membeli software yang mereka buat.

Lalu, apakah permasalahan free-rider ini berpengaruh signifikan pada software dan open source? Free-rider pada penumpang bus atau KRL Jabotabek, misalnya, akan menggunakan sisa ruang dalam bus atau KRL. Hal ini bisa saja membuat penumpang yang membayar jadi tidak bisa naik bus atau KRL tersebut karena sudah penuh. Sedangkan free-rider yang menggunakan salinan Microsoft Windows tanpa membeli lisensi bisa saja mengurangi jumlah Windows yang dibeli secara resmi. Meski bisa juga tidak. Namun pengguna Windows bajakan tidak lantas menghalangi kemungkinan orang lain untuk menggunakan Windows seperti pada kasus bus dan KRL. Free-rider yang menggunakan produk open source sama sekali tidak mengurangi pasar produk open source yang bersangkutan ataupun mengecualikan orang lain untuk dapat menggunakannya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa free-rider pada dunia open source tidak menimbulkan kerugian dalam pengembangan open source. Pembajakan Windows pun sebenarnya juga menguntungkan Microsoft. Mengapa? Karena menimbulkan ketergantungan para penggunanya. Sehingga ketika keadaan ekonomi si pengguna mulai membaik, dia akan terpikir untuk membeli lisensi Windows asli. Hal inilah yang dipercayai oleh Bill Gates sehingga sebenarnya dia ‘agak’ membiarkan pembajakan software-software Microsoft.

 

(Artikel ini adalah bagian dari Buku Berbisnis Software Gratis: Ide-ide Bisnis Untuk Memanfaatkan Software Gratis di Dunia Open Source sebagai Ladang Penghasil Uang, yang saya olah kembali karena tergelitik oleh notes Facebook Mas Eko Rahmadian tentang free rider).

Sumber gambar:

1. http://www.danwei.org/intellectual_property/software_piracy_plummets_to_in.php

2. http://www.freakingnews.com/Software-Piracy-Pics-38918.asp