Korupsi di negara kita ini sudah akut. Bahkan sudah dianggap membudaya. Kenapa? Karena sudah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Korupsi sudah berlangsung sejak wilayah Indonesia masih diperintah oleh kerajaan-kerajaan. Para abdi dalem biasa berbuat apa saja untuk menyenangkan rajanya. Rakyat juga diharuskan membayar upeti. Kisah perebutan kekuasaan antar pewaris tahta jarang dibahas sebagai motif ekonomi. Padahal, sebenarnya, perilaku korup para bangsawan kerajaan tersebut yang mengakibatkan runtuhnya kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Mataram.

Setelah keruntuhan era kerajaan tersebut, ternyata korupsi tidak juga musnah dari bumi pertiwi. Melainkan berganti rupa menjadi demang, tumenggung, atau adipati suruhan penjajah Belanda. Mereka menindas rakyatnya demi mendapat posisi yang enak di dalam pemerintahan yang dibuat oleh penjajah Belanda.

Merujuk pada buku international bestseller berjudul “Tipping Point” karya Malcolm Gladwell, maka korupsi di Indonesia sudah melewati tipping point-nya. Sudah menyebar luas dalam kehidupan sehari-hari kita.

Apa itu Tipping Point?

Studi mengenai Tipping Point sebenarnya mempelajari bagaimana suatu produk atau perilaku dapat menyebar/menular. Malcolm Gladwell menjelaskan bahwa penularan suatu produk atau perilaku hingga menyebar layaknya epidemi dapat dipicu oleh kombinasi dari tiga jenis kepribadian. Yaitu Maven (Sang Ahli / Bijak Bestari), Connector (Penghubung), dan Salesman (Para Penjaja).

Selain itu, ada juga kekuatan konteks. Sebuah contoh riil yang dibahas dalam buku Tipping Point adalah naik turunnya kasus kriminalitas di kota New York, Amerika Serikat. Tingkat kriminalitas di sana meningkat pada tahun 1980-an. Tingkat kriminalitas tersebut akhirnya dapat diturunkan secara dramatis pada 1990-an dengan memanfaatkan kekuatan konteks. Pada pertengahan 1980-an, George Kelling disewa sebagai konsultan oleh New York Transit Authority. Dia meminta agar jawatan itu menerapkan teori Broken Windows.

 

Teori Broken Windows

Teori Broken Windows pertama kali dikemukakan oleh kriminolog James Q. Wilson dan George R. Kelling  ini menyatakan bahwa kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan. Lebih lanjut,

Jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan saja, siapa pun yang lewat cenderung menyimpulkan pastilah di situ tidak ada yang peduli atau bahwa rumah itu tidak berpenghuni. Dalam waktu singkat, akan ada lagi jendelanya yang pecah, dan belakangan berkembang anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu. Di sebuah kota, awal yang remeh seperti corat-coret, ketidakteraturan, dan pemalakan, kata para kriminolog itu, semua setara dengan jendela pecah, ajakan untuk melakukan kejahatan lebih serius.

(Tipping Point, Gramedia: 2009, halaman 176)

 

Mereka menurut, dan menunjuk direktur baru untuk urusan kereta bawah tanah, David Gunn. Maka David Gunn dan jajarannya mulai membersihkan segala macam corat-coret dan menindak tegas penumpang yang tidak membayar karcis. Sesuatu yang sebelumnya dianggap remeh. Dan perlahan tapi pasti tingkat kriminalitas pun menurun. Karena ketika menangkap para pelanggar karcis, polisi kereta itu malah panen. Banyak di antara pelanggar karcis tersebut punya catatan kriminal yang lebih serius.

 

Kekuatan Konteks Film Kita versus Korupsi

Nah, barangkali kekuatan konteks inilah yang ingin disampaikan oleh Film Kita vs Korupsi. Kalau belum nonton, silahkan lihat versi lengkap film ini di link Youtube di bawah ini. Bila ingin mendownload film ini dari Youtube, gunakan saja add-on video download helper pada Mozilla Firefox. Bisa merujuk pada artikel saya mengenai Lima Add-On Wajib Firefox.

Kalau sudah nonton, mari kita lanjutkan. Film Kita vs Korupsi tidak membahas mengenai korupsi yang mencapai nilai triliunan rupiah. Atau yang dilakukan oleh pejabat tinggi negara.

Film ini merupakan kumpulan dari empat film pendek sebagai berikut:

1. Rumah Perkara | Emil Heradi

Yatna (Teuku Rifku Wikana), seorang lurah, yang setuju menjual tanahnya kepada Jaya (Icang S Tisnamiharja), seorang kontraktor. Halangannya adalah Ella (Ranggani Puspandya), janda yang tidak rela tanahnya dibeli. Terjadilah usaha-usaha, baik dari Yatna maupun anak buah Jaya, untuk mengubah niatan Ella.

2. Aku Padamu | Lasja F. Susatyo
Vano (Nicholas Saputra) dan Laras (Revalina S Termat) ingin menikah di luar sepengetahuan keluarganya. Sayangnya, tanpa kartu keluarga niat mereka urung terwujud. Seorang calo menawarkan jalan pintas, yang menciptakan dilema tersendiri di pasangan muda-mudi ini.

3. Selamat Siang, Risa! | Ine Febriyanti
Arwoko (Tora Sudiro) berusaha hidup dan kerja secara jujur, walau teman-teman sejawatnya banyak melakukan korupsi. Tantangan muncul dalam wujud segepok uang pelicin, tepat ketika keluarganya terlilit kesulitan ekonomi.

4. Psssttt… Jangan Bilang Siapa-Siapa | Chairun Nissa
Ola (Siska Selvi Dawsen) membeli buku pada Eci (Nasha Abigail) dengan harga yang cukup mahal. Gita (Alexandra Natasha) pun jadi penasaran, kenapa harga buku yang dijual Eci lebih mahal dari pada yang dijual di toko buku. Gita lalu iseng-iseng bertanya tentang asal muasal harga buku tersebut. Tak diduga hasil iseng-iseng tersebut malah membongkar adanya praktek korupsi beruntun yang dilakukan oleh banyak pihak.
Note: Film ini dibuat untuk “penyuluhan” masalah korupsi di sekolah-sekolah.

Nah, film ini justru mengangkat cerita-cerita korupsi kecil yang tidak mustahil pernah kita alami sendiri. Asumsi saya, berbekal teori Broken Window, film ini mengajak kita untuk menciptakan konteks keteraturan anti korupsi dalam keseharian kita. Sehingga tidak ada seorang pun dalam lingkungan kita yang terpikir untuk melakukan korupsi. Berikutnya, kita tinggal menyebarkan kekuatan konteks keteraturan anti korupsi tersebut ke lingkungan yang lebih luas. Harapannya adalah perlahan tapi pasti perilaku dan budaya korupsi mulai menghilang dari bumi pertiwi.

Lantas, apakah penerapan teori Broken Window dan kekuatan konteks tersebut akan efektif melawan para koruptor besar? Sebab, kenyataannya sekarang, meskipun maling ayam ditindak tegas, tapi koruptor kelas kakap masih bisa bebas. Mengadili Elite Predator itu memang sulit sekali, seperti yang disampaikan Teten Masduki. Bagi KPK sekalipun.

Nah, penerapan teori broken windows jelas efektif untuk mencegah lahirnya koruptor baru. Karena dengan terbiasa korupsi kecil, maka seseorang berbakat mejadi koruptor besar. Sampai saat ini, mungkin banyak orang pesimis dengan penyelesaian kasus korupsi kelas kakap. Tetapi, kekuatan sebenarnya ada di tangan rakyat, seperti kita. Bila kita terus konsisten menciptakan kekuatan konteks, perlahan tapi pasti, para penegak hukum akan mengikuti kemauan kita.

Terakhir, mari kita gunakan prinsip-prinsip dalam teori Tipping Point untuk menyebarkan epidemi positif bahwa korupsi itu nggak keren dan bikin galau.

 

Referensi:

1. Tentang Sejarah Korupsi

http://serbasejarah.wordpress.com/2009/05/05/antasari-antikorupsi-antisirri-menulis-sejarah-korupsi-bumi-pertiwi-bareng-rani-juliani/

2. Teten Masduki, Mengadili Elite Predator

http://www.indonesiabersih.org/perspektif/mengadili-elite-predator/

3. Buku Tipping Point

http://www.gramedia.com/index.php/book/detail/9789792201024/Tipping-Point

4. Tentang Teori Broken Window

http://en.wikipedia.org/wiki/Broken_windows_theory