Trivia: Tulisan ini memenangkan Juara I Lomba Karya Tulis dalam rangka Hari Statistik Nasional Tingkat BPS Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012cover-keras-bekerja Telepon dan pesan pendek (short message service/sms) bukan lagi primadona dalam komunikasi. Saat ini, ketika seseorang berkenalan, tidak asing lagi untuk saling bertukar akun email dan akun media sosial. Baik itu Facebook, Twitter atau yang lain. Tidak terkecuali di lingkungan kantor Badan Pusat Statistik (BPS). Apalagi bagi satuan kerja yang menyediakan akses internet bagi para pegawainya. Keberadaan media sosial tersebut sangat berguna bagi para pegawai BPS untuk membantu kelancaran tugas dan berhubungan dengan teman-teman yang jaraknya jauh.

Misalnya dengan membuat grup khusus di Facebook dengan anggota sesama pegawai bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik (Nerwilis). Dengan adanya grup tersebut, sesama anggota yang terpisah jarak dan waktu dapat bertukar pikiran mengenai isu terbaru di bidang Nerwilis. Sehingga pekerjaan mereka di bidang Nerwilis dapat berjalan lebih lancar. Sayangnya, beberapa pemilik akun media sosial menggunakannya dengan kurang bijak. Salah satunya dengan berkeluh-kesah tentang pekerjaan atau imbalan. Tapi anehnya hampir tidak ada yang berkeluh-kesah tentang imbalan yang terlalu banyak bila dibandingkan dengan beban pekerjaan.

Sumber gambar: http://technorati.com/social-media/article/is-social-media-really-overrated/

Masalahnya: apakah keluh-kesah itu memang sepantasnya dikemukakan di media sosial seperti itu? Karena media sosial memungkinkan semua orang (yang terhubung dengan yang bersangkutan) membaca keluhan tersebut. Dengan demikian, yang bersangkutan berpotensi untuk menyebarkan pengaruh negatif kepada semua orang yang membaca keluhan tersebut. Menurut studi yang dilakukan EverSave, dengan responden 400 orang perempuan, Sekitar 85% wanita merasa terganggu dengan teman-teman Facebooknya. Dari gangguan yang mereka rasakan, aksi mengeluh setiap saat yang dilakukan teman-teman mereka di Facebook menjadi hal yang paling menyebalkan (63%). Mengeluh boleh saja. Tapi keluhannya harus tepat dan pantas.

Ketika mengeluhkan tentang hal yang merupakan kewajiban (yang seharusnya dilakukan sebaik-baiknya) itu malah hanya akan membuat yang bersangkutan terlihat tidak profesional dan amanah. Tidak profesional karena kemungkinan keluhan tersebut (bila mengeluh tentang beban tugas) didasarkan pada ketidakmampuan dan ketidakmauan yang bersangkutan untuk lebih mengelola tanggung-jawabnya. Atasan yang memberikan tugas tentu sudah memikirkan dengan baik mengenai beban tugas dan mempercayakannya pada Anda. Tidak amanah karena keluhan itu akan membuat instansi tempatnya bekerja terlihat jelek. Apalagi bila dibaca oleh teman dari luar instansi yang bersangkutan. Padahal mungkin bukan instansinya yang jelek. Tapi sumber daya yang terlalu banyak mengeluh itu yang membuat instansi itu terlihat jelek karena waktu yang digunakan untuk memaksimalkan kemampuan diri malah dipakai untuk berkeluh kesah.

“Saya selalu yakin bahwa jika kita ambil sepersepuluh dari energi yang kita curahkan untuk mengeluh lalu kita gunakan untuk memecahkan masalah, kita akan terkejut melihat betapa lancarnya segala sesuatu berjalan.” Prof. Randy Pausch, Carnegie Mellon University. Dan tentu saja yang terakhir, masih ada satu hal yang bisa digunakan untuk menyetop para pengeluh: yaitu etika. Anda tidak boleh meludah di sumur kalau Anda masih minum dari situ. Meskipun semua hal yang ingin (atau sudah) Anda keluhkan itu benar adanya, secara etika Anda tidak boleh mengeluh. Karena Anda masih mendapat rezeki dari situ.

“Jangan mengeluh, bekerja saja lebih keras,” begitu kata Prof. Randy Pausch kepada mahasiswanya yang suka mengeluh. Padahal ketika mengatakan itu, Pausch sudah divonis hidupnya tinggal enam bulan lagi karena kanker pankreas dan dia tidak mengeluhkan itu. Bukan masalah banyaknya waktu yang tersisa, tapi seberapa keras usaha Anda untuk menjadi cemerlang dengan waktu yang ada. Nah, bagaimanakah seharusnya kita bersikap? Strategi terbaik tentu saja berusaha selalu bersikap positif. Bagaimana bila memang ada kebijakan yang menurut kita salah? Silahkan sampaikan keberatan kepada pihak pembuat kebijakan tersebut. Tentunya dengan bahasa yang baik dan alasan yang logis. Dan jika kebijakan tersebut memang tidak bisa diubah, ya jalankan saja tugas Anda. Bekerja saja dengan sebaik-baiknya agar Anda segera sampai ke posisi pembuat kebijakan tersebut. keras bekerja pub Mengeluh di media sosial tidak akan menyelesaikan masalah yang Anda keluhkan tersebut. Bila energi dan waktu yang sebelumnya terbuang untuk mengeluh dialihkan untuk meningkatkan kompetensi diri, bukan mustahil Anda akan lebih cepat dipercaya menduduki posisi yang lebih tinggi dari jabatan/tugas Anda saat ini. Saya juga meyakini ada semacam hukum karma di sini. Mereka yang lebih suka mengeluh, biasanya lebih lambat juga kenaikan karirnya.

Penjelasan logisnya adalah waktu dan energi yang habis terpakai untuk mengeluh, mengurangi waktu yang bisa dimanfaatkan untuk  menguatkan kompetensi diri. Sehingga berbanding lurus dengan kelambatan kenaikan karirnya. Selanjutnya, kelambatan kenaikan karir ini pun dikeluhkannya. Akhirnya keluhan itu tidak akan ada ujungnya. Jika logika tersebut dibalik, maka dengan tidak mengeluh dan bekerja lebih keras meningkatkan kompetensi, Anda akan lebih cepat berada di posisi penentu kebijakan tersebut pada akhirnya. Saat itulah Anda dapat mengubah kebijakan dengan tersenyum. Ketika sampai di posisi tersebut, ingatkan diri Anda untuk tidak mengulangi kebijakan yang dulu Anda keluhkan. Jadi, apa Anda masih ingin terus mengeluh? (Pertanyaan ini dikhususkan untuk Anda yang merasa masih mengeluh saja, lho.)