Istilah korupsi akrab didengar di lingkungan pemerintah/penyelenggara negara. Kalau di lingkungan swasta (tanpa sangkut-paut dengan instansi pemerintah), mungkin namanya pidana penipuan/penggelapan. Pertama kalinya saya mendengar ‘hebatnya’ koruptor adalah kasus Edi Tansil yang berhasil kabur ke luar negeri. Setelah itu, saya tidak terlalu peduli dan sibuk belajar dan kuliah. Sampai suatu hari, beberapa tahun yang lalu, di Taman Ismail Marzuki ada pembagian buku gratis dari KPK berjudul: Mengenali dan Memberantas Korupsi. Saya masih belum begitu peduli. Tapi saya masih menyimpan buku ini dan menganggapnya penting.

 

Kini, saya mulai harus peduli. Karena saya sudah berhadapan langsung. Sudah hampir empat tahun lamanya saya bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil. Sudah hampir dua tahun pula, saya bertugas sebagai salah seorang pejabat pengelola keuangan negara di kantor kecil kami. Selama itulah saya banyak belajar. Akhirnya saya pun sedikit demi sedikit memahami bagaimana prosedur pengelolaan anggaran. Dan celah-celah di mana korupsi kecil-kecilan dapat dilakukan. Namun tentunya tidak saya lakukan. Buat apa korupsi kalau kecil-kecilan? ❓  Lebih baik kita berusaha sejahtera dengan jalan yang penuh berkah. Misalnya menulis buku atau berbisnis. Karena kaya dari korupsi lantas dipenjara itu nggak keren!

Sayangnya, beberapa rekan yang seharusnya sanggup memberantas korupsi kok malah sengaja menghindar? Mereka sengaja tidak lulus ujian sertifikasi pengelola keuangan negara. Karena takut akan melakukan korupsi. Ya, bekerja sebagai pengelola keuangan memang sering dicurigai. Bekerja dengan benar saja tidak jarang dicurigai, apalagi bekerja tidak benar. Sudah bukan jamannya lagi menghindar. Mari ikut memberantas korupsi dari dalam.

Mari berlomba-lomba menegakkan pengelolaan keuangan negara dengan benar. Berlomba-lombalah untuk lulus sertifikasi sebagai pengelola keuangan negara. Lalu gunakan kesempatan itu untuk kepentingan institusi Anda dalam melayani publik sebaik-baiknya. Lantas, bagaimana caranya agar tidak tergoda untuk korupsi?

Stress vs Koruptor

Pada dasarnya, setiap orang punya yang namanya hati nurani. Hati nurani inilah yang akan menjaga kita. Berikut ini penjelasan ilmiahnya:

Mekanisme stress seperti yang telah diuraikan di atas berlaku juga pada kasus korupsi yang semakin marak di negara ini.  Orang yang pertama kali melakukan korupsi biasanya akan mengalami stress.  Salah satu mekanisme yang bisa dirasakan adalah rasa ketakutan yang luar biasa apabila perbuatannya diketahui  oleh orang lain.  Perasaan berdebar, ketakutan, gelisah, was was, curiga dan terkadang disertai dengan keringat dingin merupakan mekanisme perubahan fisiologi yang terjadi akibat adanya stress ini.  Perbuatan korupsi yang pertama kali ini akan mengganggu sistem fisiologis tubuh dan jika berlanjut akan menggeser zona homestasisnya ke zona yang baru yang kita namakan “Zona homestasis Korupsi”.  Tanda tanda telah terjadi perubahan zona ini adalah tidak tampaknya gejala stress pada tindakan korupsi selanjutnya. Jika perbuatan korupsi ini terus dilakukan maka fungsi fisiologis tubuh dan kejiwaan akan  terbiasa dan tidak akan berdampak lagi bagi individu tersebut.  Para koruptor yang telah berada di zona homestasis baru ini tidak akan merasakan stress.  Kondisi “Stress ringan” yang dialami oleh para koruptor ini akan meningkatkan performanya.  Sebaliknya jika para koruptor  yang sudah ada dalam zona ini berhenti melakukan korupsi, dia akan kembali mengalami stress karena harus merubah status fisiologi dan kejiwaannya kembali ke zona homestasis lamanya yaitu “zona homestasis jujur”.  Stress yang muncul ditimbulkan akibat perubahan dari kebiasaan melakukan korupsi ke kondisi yang penuh dengan kejujuran.

Perubahan dari satu zona homestasis ke zona homestasis lainnya bukanlah semudah membalik tangan. Diperlukan waktu yang cukup lama dan kondisi yang berulang ulang.  Magnanya hukuman yang ringan bagi koruptor kelas kakap tidak akan merubah “zona homestasis korupsi” nya. Secara teoritis koruptor kelas teri akan lebih mudah dikembalikan “Zona Homestasi jujur” nya dibandingkan dengan koruptor kelas kakap.  Jadi diperlukan kondisi stress yang berat untuk menggertak dan mengaktifkan  kelompok stress gene ini.   Salah satu kondisi stress berat ini adalah pemiskinan total bagi para koruptor.  Memang para koruptor kelas kakap akan mengalami stress berat, akan tetapi melalui perlakukan stress berat  bertahap dan  berulang ulang, masih ada kemungkinan untuk mengembalikan para koruptor ke “Zona homestasis jujur” nya sebagaimana hakekat fitrahnya manusia.

(Prof. Ronny Rachman Noor, Ir, MRur.Sc, PhD: http://www.dikti.go.id/?p=4921&lang=id)

Nah, ternyata tubuh kita pun punya prosedur untuk mengaktifkan stress atau kegalauan ketika kita berlaku tidak jujur. Maka tidak perlu khawatir akan terjerumus ke dalam korupsi selama kita aktif menjaga diri.

Dua hal itulah yang menjadi pedoman saya selama mengelola keuangan di kantor. Bahwa korupsi itu tidak keren dan hanya bikin galau.  Berbekal teori Tipping Point pada tulisan saya sebelumnya, mari kita berperan aktif dalam mencegah terjadinya tindakan korupsi. Saya sudah memulainya dengan memanfaatkan faktor kelekatan (stickiness). Menggunakan prinsip kelekatan, saya menyusun konsep yang mudah diingat, bahwa korupsi itu tidak keren dan hanya bikin galau. Berikutnya adalah tugas Anda untuk membantu saya menyebarluaskan tips ini sebagai epidemi positif.

Referensi:

1. Tentang Stress dan Koruptor

Stress vs Koruptor