Kini, hampir segala aspek kehidupan kita sudah memasuki era digital. Bagi Anda yang hobi mengabadikan momen, sudah banyak varian kamera digital yang murah. Selain murah dan mudah digunakan, kamera dan berbagai perangkat digital lainnya sudah menggunakan baterai yang rechargeable. Sehingga tidak perlu beli baterai selama minimal dua tahun*. Sayangnya, hal ini kemudian menciptakan ketergantungan pada listrik. Bahkan, saking digitalnya, sudah ramai dipasarkan senter dan lampu penerang yang rechargeable sebagai pengganti lampu minyak. Bagi pengguna senter semacam ini tidak boleh lupa recharge. Terutama bila tinggal di daerah yang sering mengalami listrik padam di malam hari.

Pada 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5 MW. Sudah 67 tahun Jawatan Listrik dan Gas tersebut bertugas dan kini bernama Perusahaan Listrik Negara atau PLN. Sebagai penyedia listrik untuk kepentingan umum, PLN mengalami pasang surut dalam melaksanakan tugasnya. Ketika aliran listrik lancar, jangan lupa recharge senter Anda, supaya tidak kewalahan ketika listrik padam.

 

Era digital yang salah satunya ditandai dengan maraknya penggunaan teknologi social media, sangat membutuhkan listrik untuk tumbuh dan berkembang. Peran PLN terpenting bagi saya adalah yang tercermin dalam motto-nya: Listrik untuk Kehidupan yang Lebih Baik. Motto ini juga saling mendukung dengan misi PLN sebagai berikut:

  • Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham.
  • Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
  • Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
  • Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

Mari kita perjelas. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah tolok ukur yang paling populer digunakan untuk mengukur tingkat kehidupan masyarakat. Badan Pusat Statistik adalah institusi yang dipercaya untuk mengeluarkan angka IPM di Indonesia. Angka ini selalu ditunggu, utamanya oleh para kepala daerah, anggota DPR dan DPR, wartawan, dan tentunya presiden. Angka IPM ini dihitung berdasarkan tiga komponen utama sebagai berikut:

  • indeks pendidikan (dihitung dari tingkat melek huruf dan rata-rata lama sekolah)
  • indeks kesehatan (dihitung dari angka harapan hidup)
  • indeks daya beli (dihitung dari pendapatan per kapita yang disesuaikan)

Bila dicermati, ketiga komponen IPM tersebut dipengaruhi oleh ketersediaan listrik yang baik. Pendidikan membutuhkan listrik untuk operasional proses belajar-mengajar. Apalagi bila dikaitkan dengan kebutuhan belajar komputer dan pemberian tugas kepada siswa untuk mencari referensi di internet. Komponen kesehatan tidak perlu dipertanyakan lagi. Berbagai fasilitas kesehatan seperti ruang bedah tentu membutuhkan listrik dan harus siaga 24 jam. Begitu pula dengan daya beli. Saat ini sudah marak yang namanya traksaksi elektronik dan jual beli online. Contoh sederhananya adalah kalau listrik padam, dan ATM (Automatic Teller Machine) tidak jalan, maka banyak transaksi akan tertunda.

Berita bagus datang dari McKinsey Global Institute. Menurut laporan risetnya yang dirilis September lalu, The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s potential, negara kita ini punya peluang untuk menduduki peringkat 7 terbesar dalam ekonomi dunia. Berikut ini ringkasannya:

Akan tetapi ada tantangan yang diperingatkan oleh McKinsey untuk menuju ke sana. Ada empat poin yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Transform consumer services
  • Boost productivity in agriculture and fisheries
  • Build a resource smart economy
  • Invest in skill building

Sekali lagi, poin-poin tersebut pun sangat dipengaruhi oleh penyediaan energi listrik yang baik. Saya, dan saya kira juga seluruh komponen bangsa ini setuju jika PLN harus menyediakan energi listrik yang baik. Saya senang bahwa beberapa hal sudah dipenuhi oleh PLN, yaitu:

1. Good Corporate Governance (GCG)

Mengutip pedoman Good Corporate Governance PLN, berikut ini tujuannya:

  1. Memaksimalkan nilai PT PLN (Persero) dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan adil agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun internasional;
  2. Mendorong pengelolaan PT PLN (Persero) secara profesional, transparan, dan efisien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian Organ;
  3. Mendorong agar Organ dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial PT PLN (Persero) terhadap stakeholders maupun kelestarian lingkungan di sekitar PT PLN (Persero);
  4. Meningkatkan kontribusi PT PLN (Persero) dalam perekonomian nasional;
  5. Meningkatkan iklim investasi nasional;

Menurut pengamatan saya, hasilnya mulai terlihat. Pelayanan cepat dan bebas calo. Ada listrik pintar (pra bayar), sehingga bisa kita kendalikan biaya listrik kita. Payment point yang tersebar luas, tidak perlu lagi mengantri di kantor PLN setiap menjelang tanggal 20. Bagaimana pengalaman teman-teman?

2. Anti Korupsi

Memang, PLN di masa lalu punya riwayat korup. Namun kini tidak lagi. Keseriusan PLN dalam memberantas korupsi di jajarannya ditunjukkan dengan adanya kerjasama antara PLN dan Transparency International Indonesia. Pada website PLN kini bahkan tersedia link ke sistem whistle blower milik KPK (Komisi Pemberantsan Korupsi). Sehingga mudah sekali bila ingin melaporkan indikasi tindak pidana korupsi di lingkungan PLN. Tenang saja, rahasia identitas Anda dijamin.

Contoh lainnya: penggratisan layanan tambah daya yang memangkas adanya calo. Pihak PLN pun sudah berjanji untuk menindak tegas adanya praktik percaloan. Ada pula contoh kasus yang melibatkan Nazaruddin, mantan bendahara Partai Demokrat itu. Kasus ini sempat ditelusuri oleh Dahlan Iskan, Direktur Utama PLN saat itu. Berikut ini kutipan kisahnya:

Soal batubara itu misalnya. Konon Nazaruddin memberi uang kepada Daniel Sinambela untuk modal ikut tender batubara di PLN. Daniel menang tender tapi tidak mengembalikan uangnya Nazaruddin. Daniel kemudian dihajar Nazaruddin. Daniel masuk tahanan. Yang terjadi adalah Daniel sebenarnya benar-benar menang tender. Bukan karena ada Nazaruddin didalamnya. Tender itu dilakukan dengan system auction, sehingga tidak ada peluang untuk diatur samasekali. Semua orang tahu system auction itu begitu transparansinya sehingga sangat kecil peluang untuk terjadi permainan. Daniel menang tender karena penawaran harganya memang sangat-sangat rendah.

Saking rendahnya, Daniel barangkali kesulitan mencari batubara yang baik dengan harga yang masih bisa memberikan keuntungan baginya. Maka batubara yang dikirim ke PLN pun batubara yang murah. Tentu tidak bisa memenuhi kualitas yang ditentukan PLN. Yang hebat, petugas PLN di lapangan berani menolak batubara ribuan ton tersebut. Akibat batubara Daniel ditolak oleh PLN, Daniel tidak mendapatkan uang dari PLN. Karena itu Daniel juga tidak bisa mengembalikan uangnya Nazaruddin. Nazaruddin pun kehilangan uang puluhan miliar rupiah gara-gara ketegasan PLN.

Sayangnya, pada kasus lain di tender PLTU Kaltim/Riau, masih menurut Dahlan Iskan, ada ketidakpercayaan dari pengusaha bahwa PLN sudah bersih dari praktik korupsi. Sehingga masih ada peserta tender yang memberi uang kepada oknum backing, yang adalah Nazaruddin pada kasus ini. Sebenarnya si pemenang tender menang secara murni, jujur, dan sesuai prosedur. Namun, karena kurang percaya bahwa PLN sudah bersih, si pemenang tender mengambil langkah aman tersebut. Maka, bukti bahwa PLN sudah bersih dari praktik korupsi ini memang perlu disosialisasikan. Salah satunya melalui blog ini.

3. Penerapan Smart Energy

Hal ini antara lain ditunjukkan oleh penghematan BBM yang dilakukan oleh PLN. Seperti diberitakan oleh VivaNews sebagai berikut:

Dalam data yang dilansir PLN, hingga September 2012, PLN telah membakar 6,4 juta kiloliter BBM atau 86 persen dari rencana 2012 sebanyak 7,4 juta kiloliter. Namun, jika dibandingkan dengan penggunaan konsumsi BBM periode yang sama tahun lalu, konsumsi BBM PLN turun 24,7 persen dari 8,5 juta kiloliter per September 2011.

Berbanding terbalik dengan BBM, penggunaan gas PLN pada 2012 naik. Hingga September 2012, PLN telah menggunakan gas sebanyak 262.1 TBTU atau naik 20,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. PLN telah menggunakan 76 persen alokasi gas dari rencana 2012 sebanyak 344,8 TBTU.

Sementara itu, untuk penggunaan batu bara bagi pembangkit PLN juga terdapat kenaikan cukup signifikan. Per September 2012, PLN telah menggunakan 25,8 juta ton batu bara atau melonjak 24.6 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. PLN merencanakan untuk menggunakan 38,1 juta ton batu bara sepanjang 2012 dan PLN telah menggunakan 67,7 persen dari alokasi per September 2012.

PLN terus berkomitmen untuk mengurangi penggunaan BBM. Dalam rencana perseroan, pada 2015, penggunaan BBM dalam bauran energi hanya tersisa 1 persen. PLN akan mulai menggenjot penggunaan batu bara dan gas sebagai substitusi penggunaan BBM.

Pengalihan dari BBM ke batubara dan gas memang tak bisa dihindari lagi. Stok batubara dan gas kita jauh lebih banyak daripada minyak. Selain itu PLN dan kementrian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) mulai menjajaki penggunaan sumber energi yang terbarukan. Antara lain: tenaga surya, angin, air, dan panas bumi.

Saya berharap PLN mampu mempertahankan prestasi tersebut dan tidak terlena oleh pujian. Kedua, saya juga berharap PLN terus memperluas jaringannya. Karena salah satu hal yang belum dipenuhi oleh PLN adalah rasio elektrifikasi. Masih banyak daerah yang belum terjangkau listrik PLN. Inilah salah satu fungsi BUMN. Yaitu menyediakan fasilitas penting (baca: listrik) pada wilayah yang belum dijangkau oleh swasta, karena belum tentu menguntungkan. Contohnya, adalah tempat saya tinggal dan bertugas sekarang, yaitu kabupaten Kepulauan Selayar. Masih ada 4 dari 11 kecamatan yang belum disentuh oleh listrik PLN. Berikut ini datanya**:

Sebagai penutup, saya mengajak diri saya sendiri dan teman-teman untuk mengawal langkah PLN menuju penyediaan listrik yang baik dan berkesinambungan. Tentunya untuk kehidupan yang lebih baik (baca:menuju negara dengan perekonomian terbesar ke-7 dunia pada 2030). Berikut ini beberapa cara yang dapat saya sarankan:

  • Menghemat penggunaan listrik
  • Membayar tagihan listrik tepat waktu
  • Mengawasi dan melaporkan bila ada indikasi korupsi di PLN yang Anda tahu
  • Tidak mencuri listrik (jika PLN bersih dari korupsi, maka kita juga harus bersih)
  • Tidak merusak fasilitas listrik PLN

Akhir kata, Selamat menikmati listrik Anda!

Catatan:

* Masa pakai baterai rechargeable yang normal.

** Dikutip dari publikasi Kepulauan Selayar dalam Angka 2012, diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Kab. Kepulauan Selayar

Referensi: