Penduduk dunia saat ini diperkirakan mencapai 7 (tujuh) milyar jiwa. Dan terus bertambah dengan rate 1 kelahiran per 8 detik. ¬†ūüėģ¬†Bagaimana dengan nasib domain alias alamat sebuah website di internet? Jumlah domain pun terus bertambah. Sehingga mulai diterapkan penggunaan IP versi 6.

Panjang totalnya adalah 128-bit, dan secara teoritis dapat menampung alamat internet

sebanyak 2128=3,4 x 1038 host komputer di seluruh dunia. Contoh notasi alamat IPv6 adalah 21da:00d3:0000:2f3b:02aa:00ff:fe28:9c5a. Kenapa IP versi 6 ini diperlukan? Karena IP versi 4 (32 bit, maksimal menampung 4,2 milyar alamat) sudah tidak akan mampu menampung alamat internet yang mencapai 4,7 milyar alamat.

Untuk tidak semakin menyesakkan alamat IP di dunia, ada solusi untuk membuat cabang dari domain yang sudah kita miliki. Padahal alasan sebenarnya sih, biasanya karena ndak mampu beli domain lagi T.T . Ada dua cara yang bisa untuk ekspansi domain tanpa beli domain baru, yaitu Subdomain dan Subdirektori.

Subdomain

Subdomain biasa dinotasikan dengan titik di depan nama domain utama. Misalnya: bgos.sinunk.web.id; Cara membuat subdomain biasanya dilakukan dengan kontrol panel dari hosting masing-masing. Misalnya cPanel atau Spanel. Subdomain yang saya contohkan tadi (bgos.sinunk.web.id) akan dianggap sebagai alamat tersendiri sebagai fourth level domain. 

ID = Top Level Domain Indonesia (selevel dengan .com, .net, .edu, dll)

WEB = Second Level Domain (selevel dengan .ac.id, .co.id, dll)

… dst

Ilustrasi mudahnya, ketika membuat subdomain, ibarat membuat satu bangunan rumah dengan dibagi menjadi beberapa petak. Masing-masing petak (subdomain) mempunyai nomor rumah sendiri, pintu keluar masuk sendiri, dan kalau dikontrakkan bisa diberi meteran listrik tersendiri. Kalau menggunakan istilah BPS (Badan Pusat Statistik), beberapa subdomain = satu bangunan fisik dengan beberapa bangunan sensus. Sebab, masing-masing subdomain akan dialokasikan document root tersendiri untuk menyimpan file-file websitenya.

Kapan Sebaiknya Menggunakan Subdomain?

Sebenarnya tidak ada larangan atau aturan kapan sebaiknya menggunakan subdomain atau subdirektori. Bisa saja saya gunakan untuk keperluan biar namanya bagus saja. Contoh: sinung.nugroho.net; Namun disarankan menggunakan subdomain untuk memisahkan aspek/produk yang benar-benar berbeda. Contoh:

Google Maps (maps.google.com) dan Gmail (mail.google.com) adalah produk yang berbeda.

Kantor Pusat (bps.go.id) dan Kantor Cabang (sulsel.bps.go.id)

Kenapa? Karena search engine/traffic engine (Google, Bing, Alexa) akan memisahkan indeks masing-masing subdomain. Kalau kamu peduli sama SEO, sebaiknya tidak menggunakan subdomain jika ingin membangun ranking indeks untuk satu website. Kecuali konten kamu sudah ribuan halaman, pembuatan subdomain bisa digunakan untuk memberikan linkback ke domain utama. Tapi ya, kalau menurut saya, SEO itu yang paling penting adalah konten yang berkualitas. ūüėÜ

Subdirektori (Folder)

Secara teknis, subdirektori itu lebih mudah. Kalau subdomain tadi ibarat rumah petak, maka subdirektori ini adalah seperti membuat kamar saja di dalam satu rumah. Tinggal buat saja sebuah folder lalu buat website baru di dalam folder tersebut. Karena subdirektori ini menggunakan satu document root  yang sama. Misalnya saja, saya sudah banyak membuat tulisan tentang internet. Lalu saya pisahkan menjadi subdirektori tersendiri bernama internet. Maka untuk membuat sinunk.web.id/internet, saya tinggal membuat folder /internet dan membuat website baru (menginstal wordpress) di dalam folder tersebut. Kemudian artikel pada kategori internet tinggal saya ekspor dari sinunk.web.id dan diimpor ke sinunk.web.id/internet. Sama persis dengan di komputer Windows: D:/sinunk/internet.

Kapan Sebaiknya Menggunakan Subdirektori?

Seperti sudah disebutkan, penggunaan subdirektori ini secara teknis lebih mudah, dan menjaga keutuhan SEO satu website. Pada sebagian besar kasus, penggunaan subdirektori lebih disarankan. Ketika membuat sebuah subdirektori, gunakan kata yang deskriptif dan mudah dipahami.

Kamu juga bisa membaca Tutorial WordPress Multisite yang saya tulis sebelumnya jika tertarik menerapkan satu instalasi WordPress untuk banyak Subdomain atau Subdirektori.

Referensi Lebih Lanjut:

1. Padepokan Budi Rahardjo http://rahard.wordpress.com/?s=domain

2. Wikipedia, IP versi 6, http://id.wikipedia.org/wiki/Alamat_IP_versi_6

3. Wikipedia, IP versi 4, https://en.wikipedia.org/wiki/IPv4