Air keran yang layak minum adalah salah satu hal yang saya rindukan dari Amerika. Ketika kembali ke Indonesia, terkadang saya lupa akan hal ini dan hampir meminum langsung air dari keran. Ini bukan tentang fase kaget budaya, tapi hanya masalah kebiasaan saja. Banyak hal yang tidak mudah dilupakan di sepanjang masa saya kuliah di sana selama dua tahun, salah satunya; pengalaman saya menjadi responden survei.

Surat Pemberitahuan dan Brosur

Salah satu rutinitas saya setiap pekan adalah memeriksa kotak surat karena sering belanja dari toko daring. Terlalu malas dan hampir tidak punya waktu untuk keluar rumah dan berbelanja jadi alasannya. Biasanya saya akan menemukan paket pesanan saya di kotak surat untuk kiriman yang muat dimasukkan ke sana. Untuk kiriman yang lebih besar—misalnya bahan makanan kering yang ukurannya sampai satu kardus besar—akan saya temukan di depan pintu apartemen.

Ketika ada pesanan yang saya tunggu-tunggu, saya akan memeriksa kotak surat lebih sering. Namun hari itu—saya lupa tanggalnya padahal kejadian ini cukup berkesan, karena itu maafkan—saya menemukan sebuah surat tidak terduga yang menarik perhatian. Isinya adalah surat pemberitahuan bahwa rumah tangga saya terpilih sebagai responden survei. Selain surat pemberitahuan, di dalam amplopnya juga ada lembaran brosur yang menjelaskan mengenai survei tersebut. Hati saya berdebar. Apakah ini sebuah kebetulan bahwa seorang pegawai Badan Pusat Statistik (BPS) yang sedang menjalani Tugas Belajar terpilih sebagai responden survei di sebuah negara maju? Atau ini adalah … takdir? Agar saya bisa menulis tentang hal ini di kemudian hari, misalnya?

Surat Pemberitahuan

Saya pun membaca surat pemberitahuan dan brosur tersebut dengan seksama. Menurut brosur, rumah tangga saya dipilih secara acak menggunakan metode ilmiah tertentu untuk berpartisipasi dalam National Survey on Drug Use and Health yang diselenggarakan oleh Departement of Health and Human Services. Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai teknik penarikan sampelnya. Brosur ini juga menjelaskan bahwa proses wawancara akan dilakukan menggunakan laptop. Akan tetapi, dijelaskan juga bahwa responden tidak perlu memiliki keahlian menggunakan komputer untuk dapat berpartisipasi dalam survei ini.

Surat pemberitahuan dan brosur juga menjelaskan bahwa data yang dihasilkan survei ini akan digunakan oleh pemerintah untuk merancang program pencegahan dan pemulihan. Sebagai pegawai BPS, saya memahami manfaat pengumpulan data dalam bentuk survei dan sensus. Data yang dihasilkan akan digunakan untuk bahan perencanaan program pembangunan pemerintah. Namun sebagai responden, adanya penjelasan mengenai tujuan dan kegunaan survei yang akan saya ikuti membuat saya merasa bahwa waktu dan tenaga yang akan saya keluarkan untuk berpartisipasi dalam survei ini dihargai dengan baik.

Brosur Side A

Brosur Side B

Kedatangan Petugas dan Pelaksanaan Survei

Pada hari dan tanggal yang ditentukan, saya menantikan kedatangan petugas survei. Saya pun menyiapkan diri dengan mandi, mengenakan baju yang rapi, sarapan, dan menyemprotkan sedikit parfum. Sesuai dengan yang disampaikan pada surat pemberitahuan, petugas tersebut datang dengan tanda pengenal resmi dan memperkenalkan dirinya dengan sopan. Selain itu, nama petugas tersebut sama dengan nama petugas yang tercantum dalam surat pemberitahuan. Kemudian petugas tersebut, Janet Matthews, menanyakan apakah saya bersedia untuk menjadi responden. Tentu saja saya bersedia—saya lebih dari sekedar bersedia; saya antusias! Janet pun saya persilahkan masuk.

Sambil duduk lesehan di apartemen saya yang sederhana, Janet mengeluarkan perangkat surveinya berupa tablet, laptop, pelantang suara, dan beberapa dokumen. Kemudian dia menanyakan beberapa informasi dasar mengenai rumah tangga saya. Selanjutnya, menggunakan aplikasi di tablet-nya untuk memilih sampel dari anggota rumah tangga saya. Dia juga menambahkan bahwa untuk setiap anggota rumah tangga saya yang terpilih sebagai sampel dan bersedia melengkapi kuesioner survei akan mendapatkan sertifikat dan cash incentive sebesar USD 30,-. Lumayan banget nih 30 dolar buat tambahan jajan, pikir saya dalam hati, bisa dapat pizza tiga loyang. Sayangnya saat itu anggota rumah tangga saya hanya satu.

Sembari menanyakan apakah saya punya kemampuan menggunakan komputer, Janet membuka aplikasi survei di laptopnya. Setelah saya iyakan, dia pun menyerahkan laptopnya untuk saya gunakan melengkapi kuesioner survei. Aplikasinya sangat mudah digunakan. Setiap pertanyaan juga disertai dengan penjelasan panjang lebar mengenai konsep dan definisinya. Salah satu keunggulan dari self-enumeration seperti ini adalah kerahasiaan jawaban responden dapat terjaga karena petugas tidak mengetahui isi jawaban responden yang langsung disimpan oleh aplikasi. Tantangannya adalah aplikasi tersebut harus dilengkapi dengan aturan validasi yang sudah dipersiapkan dengan matang.

Untuk memenuhi tuntutan SOP (Standard Operating Procedure), dia menambahkan bahwa bila saya mengalami kesulitan dalam membaca, saya bisa menggunakan pelantang telinga yang disediakan untuk mendengarkan penjelasan dari setiap pertanyaan. Setelah itu saya tinggal menekan angka tertentu sesuai dengan pilihan jawaban yang juga dibacakan oleh aplikasinya. Janet juga menambahkan bahwa saya dapat bertanya padanya bila masih ada yang kurang jelas.

Sertifikat

Kuitansi Cash Incentive

Saya menyelesaikan pengisian kuesioner selama kurang lebih satu jam. Sesuai dengan janjinya, di akhir wawancara Janet menyerahkan sertifikat dan uang  USD 30,- sebagai apresiasi terhadap partisipasi saya. Apresiasi terhadap partisipasi responden berupa sertifikat dan uang akan meningkatkan tingkat partisipasi responden. Selain itu, informasi awal mengenai tujuan dan kegunaan survei akan meningkatkan pemahaman dan tingkat kepedulian responden terhadap pelaksanaan survei.

Sedangkan dari sisi teknologi, sistem tanpa kertas ini akan memangkas banyak biaya, tenaga, dan waktu dalam proses pengolahan data. Hasil sensus dan surveinya akan dapat dirilis jauh lebih cepat. Selain itu, kualitas datanya pun akan lebih baik karena validasi sudah dilakukan sejak pencacahan di lapangan. Beberapa survei di BPS sebenarnya sudah menggunakan sistem tanpa kertas. Akan tetapi penerapan sistem ini masih belum diintegrasikan dengan standar yang sama. Salah satu tugas saya di kantor saat ini adalah membantu perancangan sebuah sistem yang akan menjadi standar untuk penerapan sistem tanpa kertas ini pada semua sensus dan survei di BPS. Detail mengenai ini akan saya ceritakan pada tulisan berikutnya.