Tulisan ini dibuat pada tahun 2009 dan sebelumnya hanya di-publish di Facebook Note. Hari ini saya salin ke blog karena kebetulan ketemu pas bersih-bersih profil Facebook dan sepertinya tulisan ini masih relevan.

Saat saya berjalan-jalan dengan istri saya, terkadang saya merasa sedikit terganggu dengan pandangan orang-orang. Orang-orang akan mengerenyit heran melihat saya menggandeng mesra istri saya. Masalahnya bukan karena saya menggandeng dan dengan mesra pula. Tapi mereka mengerenyit karena saya dan istri saya memang agak “jauh”.

Saya sudah berusaha menghilangkan jerawat saya dengan memakai obat jerawat, bahkan menggunakan beberapa merek sekaligus! Saya juga berusaha sedikit berolahraga agar tidak terlalu buncit. Saya juga rajin mandi dan terkadang maskeran. Tapi apa daya, penampilan saya dan istri saya memang berbeda. Istri saya secara lahiriah memang lebih cantik. Terlalu cantik bahkan untuk orang seperti saya. Salah satu sahabat lama saya bahkan dengan terang-terangan bertanya pada istri saya, kok mau sama orang jelek kayak saya. Tapi saya berusaha tabah…. Hehe.

Seharusnya pertanyaan tadi ditanyakan ke saya, kok saya bisa mendapatkan perempuan secantik itu? Ini baru luarnya lo. Bagaimana kalau saya tambah dengan otak yang encer, sangat berbakat di bidang menulis, pintar memasak, pintar memanjakan suami, dan mandiri? Hmm… saya sendiri harus mengucapkan syukur berkali-kali.

Pertama, saya menawarkan hidup saya padanya. Saya mengatakan padanya di pertengahan masa pertemanan kami, bahwa jika dia berkenan, saya akan menawarkan hidup saya untuk membahagiakannya. Dia pun mengerti kalau itu adalah sebuah lamaran. Dan tidak berhenti di situ. Sampai hari ini, sampai detik ini, saya menggunakan apapun yang saya punya untuk membahagiakannya. Dan ini bukan berkaitan dengan materi saja. Tiap kali saya mengenakan pakaian, mandi, atau bahkan hanya sekedar memakai parfum ketika mendekatinya, saya meniatkan untuk membahagiakannya. Dan seiring waktu berlalu, dia melakukan hal yang sama untuk saya.

Setiap dari kami sudah pernah menerbitkan sebuah buku yang tidak terlalu laku.

Kedua, saya menantang pemikirannya. Inilah yang membuatnya sangat terkesan pada saya. Saya bukan orang yang akan dengan ikhlas mengangguk-angguk pada setiap pendapatnya. Saya menantangnya. Saya mendebatnya. Saya membuat dia berpikir ulang sampai di mana pemahamannya. Ketika saya melakukan itu, menurut istri saya, saya sedang menunjukkan padanya tentang seberapa kuat niat saya untuk berpihak pada yang baik dan benar. Dan bila keinginan saya kuat, maka kemampuan saya seharusnya pun kuat. Sampai sekarang pun kami masih jadi teman berdebat yang menyenangkan.

Ketiga, saya memberinya hak untuk hidupnya sendiri. Sebelum menikah, saya tidak pernah menanyakan apa kegiatannya dan untuk apa dia melakukan itu. Setelah menikah, saya hanya menanyakan apa kegiatannya dan saya mendukungnya. Dia pun berpikir dengan sendirinya mana kegiatan dia yang saya suka dan mana yang tidak. Jika saya tidak suka, dia hentikan. Saya membiarkannya berkarya, berkerja, kuliah sampai setinggi apapun yang dia rencanakan. Saya membiarkan dia membaca buku apapun yang dia inginkan, kalau dia suka akan saya belikan. Saya membuat dia mempunyai waktu untuk mengurus dirinya sendiri dengan menggantikannya mengerjakan pekerjaan rumah.

Keempat, saya berusaha untuk terus menjadi kuat dan sekaligus teduh untuknya. Saya banyak belajar, banyak membaca, banyak berdoa agar terus diberikan kekuatan untuk menjadi kuat untuknya. Untuk menjadi tempat bertanyanya. Untuk menjadi tempat yang menyenangkan baginya untuk pulang. My heart is your home, kata saya padanya.

Sekarang kalau ada yang bertanya, bisa dibuktikan, istri saya (walaupun dia belum lupa dengan jerawat saya) sangat bergantung secara emosi pada saya. Dia yang lebih tidak bisa hidup tanpa saya, walaupun saya pun (diam-diam) tidak bisa melepaskan diri dari pesonanya. Kalau menjelang tidur, saya memandanginya. Dia cantik sekali, dan yang lebih hebat lagi, dia sangat mencintai saya. Tapi yang paling keren adalah saya yang bisa membuatnya mencintai saya. Alhamdulillah…